Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)

Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)
Kondisi Widia


__ADS_3

"Mami pulang dulu ya mas?"


"Iya mi"


"Mami pulang sayang" Pamit Irma pada Zara. "Jangan membantah apa kata mas Ken kalau mau cepat sembuh" tambahnya lalu mencium kening Zara setelah Zara mencium punggung tangannya.


"Pulang dulu mas mbak" Giliran Bima yang berpamitan lalu mencium punggung tangan Kennan dan Zara.


****


"Dek, mas mau bicara" ucap Kennan setelah memastikan kalau Irma dan Bima sudah pergi jauh dari ruangan Zara.


Zara merespon dengan kening mengernyit "Mau bicara apa mas?"


"Tapi janji kamu nggak boleh shock dengan apa yang mas katakan. Pokoknya, apapun yang terjadi kamu jangan tinggalin mas, dan kita akan selau bersama. INGAT!" Kennan sedikit menekan ucapannya. "Apapun yang terjadi, mas akan selalu bersamamu dan melindungimu. Jadi kamu tidak perlu takut. Sebenarnya papi sudah bilang supaya tidak memberitahumu dulu, tapi mas ingat pesan kamu untuk tidak menyembunyikan apapun darimu"


Zara mengangguk meski pelan, jantungnya seketika berdebam begitu hebat. Debaran jantung yang sudah lama tidak ia rasakan, dan kini kembali merasakannya membuat Zara merasa tidak nyaman.


"Za, Widia yang sudah merusak rem di mobilmu?"


Zara tertegun begitu mendengar ucapan Kennan. Selama hampir satu menit Zara terdiam dengan pandangan kosong.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Kennan. Kedua tangannya erat menggenggam tangan Zara yang bertaut di atas pangkuan.


"Harusnya aku yang tanya itu ke mas, apa mas baik-baik saja?" Zara seperti menangkap sorot mata gelisah di manik hitam milik suaminya. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Zara balik bertanya, menyuarakan sedikit dari sekian banyak pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.


Kennan mengeratkan genggamannya. "Mas baik-baik saja"


Zara merespon dengan menganggukkan kepalanya lagi.


"Tadi pagi mas ke kantor ayah, mas ingin memberikan pelajaran pada Widia, karena sudah melakukan itu padamu dan anak kita"


Ucapan Kennan membuat Zara menahan napas selama beberapa detik.

__ADS_1


"Mas sudah berteriak-teriak meluapkan kemarahan mas pada Widia, dan setelah itu dia berlari menuruni tangga, entah bagaimana tiba-tiba mas mendengar teriakan Widia, dan setelah kami keluar dari ruang meeting, tahu-tahu di lantai dasar sudah ada ribut-ribut, ternyata Widia terjatuh dari tangga"


"Innalillahi" ucap Zara lirih.


"Melihat rekaman saat dia memutus rem mobilmu. Karena itu mas ke kantor ayah hendak memberinya pelajaran"


"Apa luka Widia parah?"


Kennan menganggukan kepala dengan lemah. "Tadi siang ayah sama bunda ke rumah sakit jenguk Widia, dan katanya Widia sedang di operasi karena ada luka dalam di kepalanya, serta tangan dan kakinya patah tulang"


Napas Zara tercekat, mulutnya seketik bungkam.


"Maafin mas, kalau saja mas nggak emosi, mungkin ini nggak akan terjadi" ujarnya dengan raut penuh sesal.


Kepala Zara menggeleng cepat. Bagaimanpun juga, apa yang terjadi di luar kendali Kennan. Karena Widia sudah mencelakai anak dan istrinya, dan Zara masih belum tahu entah video seperti apa yang sudah Kennan lihat.


Tetapi Zara yakin kalau hal itu mungkin sudah sangat kelewatan, sehingga bisa sampai memancing emosi Kennan.


"Jangan salahin diri mas" Potong Zara cepat, dengan satu tangan menyentuh salah satu sisi wajahnya. "Tiap orang memiliki batas kesabarannya, aku tahu seperti apa mas selama ini, terhadap Frea, maupun mbak Widia" lanjut Zara mencoba menepis sesal Kennan.


Tiba-tiba Kennan memeluk tubuh Zara.


"Mas nggak tahu apa yang terjadi dengan perusahaan nantinya, yang pasti mas mohon, apapun yang terjadi, kita harus selalu bergandengan tangan, saling menguatkan, Mengerti?"


Zara mengangguk dengan mengusap punggungnya pelan.


"Jangan pernah tinggalin mas"


"Iya"


Ucapan Zara di respon kecupan di keningnya.


Tidak ada yang bisa Zara lakukan kecuali mendoakan yang terbaik buat Widia, dan berdoa semoga di kemudian hari mbak Widia akan berubah lebih baik lagi

__ADS_1


****


Menurut informasi, tidak ada luka parah yang di alami Widia, hanya ada luka dalam sedikit di bagian kepala karena saat terjatuh, dia sempat melindungi kepalanya dengan kedua tangannya. Namun kaki dan tangan mengalami patah tulang, dan salah satu kakinya terluka sangat parah. Kemungkinan dia akan lumpuh dalam jangka waktu yang lama.


Keesokan harinya, Danu dan Nina kembali mengunjungi Widia. Karena biar bagaimanapun, kecelakaan ini terjadi di dalam perusahaannya. Dan Danu sebagai pemiliknya, harus punya itikad baik pada keluarga Widia.


Meskipun sebenarnya Danu sudah ingin sekali memproses ke jalur hukum atas tindakan Widia yang sudah menghancurkan hidup putra dan menantunya.


"Assalamu'alaikum pak Jaya?"


"Waalaikumsalam pak Danu" sahutnya lalu berdiri dari duduknya.


Mereka saling berjabat tangan.


"Bagaimana kondisi Widia?"


"Alhamdulillah pak tidak ada luka parah di kepalanya. Mari silahkan duduk" Pak Jaya mempersilakan Danu untuk duduk, sedangkan Nina, menuju ke arah ranjang, menghampiri Widia dan mamahnya.


Kedua orang tua Widia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka menyadari kesalahan sang putri, dan kedua orang tua Widia merasa malu saat melihat video yang merekam perbuatannya, bagaimana dia memutuskan kabel rem di mobil menantu Danu.


"Kami sebagai orang tua, memohon maaf atas kesalahan anak saya pak, karena perbuatannya, pak Danu harus kehilangan calon cucu"


"Saya sebagai orang tua Kennan juga minta maaf, jika saja anak saya bisa mengendalikan emosi, mungkin kecelakaan ini tidak pernah terjadi"


"Saya maklum dengan sikap Kennan, mungkin jika saya yang di posisinya juga pasti sangat marah, saya sama sekali tidak menyalahkan siapapum disini, anak saya yang salah"


Danu berfikir keluarga Widia akan menyalahkan Kennan, tapi justru tidak.


"Kita sama-sama berdoa untuk kesembuhan Widia" respon Danu


Sementara Danu dan keluarga besarnya sangat memaklumi sikap Kennan yang kehilangan kendali karena Widia sudah mencelakai Zara.


Tapi sebagai orang tua, Danu juga selalu memperingtkan sang anak untuk bisa mengendalikan dirinya sendiri, dari apapun yang memantik amarahnya.

__ADS_1


__ADS_2