
Mendengar seseorang berteriak, dan teriakan itu jelas dari suara yang sudah mereka paham, para staf kantor yang kebetulan berada di lantai bawah, berteriak histeris. Danu, Rio, dan juga Kennan pun tak kalah terkejut dengan teriakan Widia yang tiba-tiba.
Tidak seharusnya Widia lari dari Kennan, karena Kennan hanya ingin membawanya ke kantor polisi, bersama dengan bukti di ponselnya. Tapi dia memilih pergi karena sudah tidak bisa menahan malu.
Beruntung Kennan sama sekali tak mengejarnya, dia pergi dan berlari karena pilihannya sendiri.
"Astagfirullah"
"Innalillahi"
"Mbak Widia"
Dan ucapan-ucapan lain keluar dari mulut yang kebetulan melihat tragedi jatuhnya Widia.
Dengan cepat mereka mengerumuni tubuh Widia, begitupun para petinggi yang tadi sedang melaksanakan rapat, lalu segera memberikan pertolongan padanya.
Selagi Widia di bawa ke rumah sakit, Danu memerintahkan Rio untuk menunda rapat yang sempat terhalang karena ulah sang anak. Juga untuk memastikan suasana kantor kembali kondusif.
"Ikut ayah Ken" perintah Danu.
Tanpa menunggu jawaban dari putranya, Danu segera melangkahkan kaki menuju ruangannya, Sementara Kennan mengekor di belakang mengikuti langkah Danu.
"Duduk" pinta Danu pada Kennan.
"Apa ayah dan bunda mengajarimu seperti ini Ken?" tanya Danu, tatapannya tajam menyoroti netra anaknya. "Apa selama ini kamu pernah melihat ayah marah-marah pada orang lain seperti yang kamu lakukan pada Widia barusan?"
Kennan menggeleng.
"Lalu kenapa kamu melakukan itu bahkan di depan orang banyak?"
"Dia yang sudah merusak rem Zara yah"
Mendengar ucapan Kennan, seketika kening Danu mengerut.
"Maksud kamu?"
Kennan tak merespon pertanyaan ayahnya, yang ia lakukan adalah mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu memperlihatkan rekaman yang ia dapatkan dari ponsel Sinta, kepada Danu.
"Ayah lihat ini" ucap Kennan menggeser ponsel di atas meja.
"Widia" kata Danu reflek sembari terus menatap video itu. "Astaghfirullah, ini benar-benar Widia?"
"Maafin Ken yah, tadi Ken nggak bisa mengendalikan diri, Ken juga nggak nyangka kalau Widia akan berlari menuruni tangga"
"Dari mana kamu dapat video ini?"
"Dari ibu Sinta yah, selain permintaan ibu buat gantiin aku menyelesaikan kerjaanku di sini, ibu diam-diam mengawasi Widia, dan seorang OB"
"Ob?" tanya Danu mengernyit.
"OB itu kebetulan sedang lewat, dan dia ambil video itu tanpa sepengetahuan Widia"
"Bagaimana Bu Sinta tahu kalau Si OB punya rekaman ini?, ayah nggak ngerti Ken"
"Ayah tahu kan kalau bu Sinta juga pernah jadi orang jahat, dia faham ekspresi wajah-wajah para penjahat".
Beliau saat itu curiga dengan gerak-gerik si OB yang selalu takut jika bertemu dengan Widia, dari situ bu Sinta langsung mengawasinya diam-diam. Dan ternyata filingnya benar, OB itu merasa tertekan karena memiliki bukti kejahatan Widia, dia merasa terancam yah" ungkap Kennan.
__ADS_1
"Apa bu Sinta yang menyuruhmu untuk melakukan ini?" tanya Danu menyelidik.
"Enggak yah, justru tadi ibu sudah melarang Ken untuk tidak menemui Widia"
"Dan kamu nggak nurut sama ibu?"
Kennan mengangguk.
"Seharusnya kamu bisa lebih sabar, dan tidak perlu emosi. Kamu sendiri tahu, sabar datangnya dari siapa, dan marah datangnya dari mana. Kamu hafal tiga puluh juz beserta maknanya, untuk apa jika kamu masih emosi marah-marah seperti tadi?"
Danu menghela napas berat ketika Kennan hanya diam.
"Kamu contoh istrimu, dia memilih memendam amarah, meskipun Widia sudah memfitnahnya, iya kan?"
"Karena Zara terlalu polos yah"
"Karena Zara seorang hafizah yang paham isi dari makna ayat-ayat dalam Al Quran Ken" sergah Danu memotong kalimat Kennan.
Mendengar ucapan Danu, seketika Kennan mengatupkan bibirnya penuh rapat, pandanganya merunduk menatap jarinya yang saling bertaut di atas pangkuannya.
"Zara sangat tahu kalau amarah itu datangnya dari setan"
"Maaf yah"
"Ada cara lain untuk menyelesaikan masalah tanpa marah-marah, tanpa emosi, bunda juga sering melakukannya, kenapa nggak mencontoh bundamu?"
"Maaf"
"Bukan permintaan maaf yang ayah butuhkan"
"Assalamu'alaikum" salam Nina menyela obrolan Kennan dan Danu.
"Ada apa yah, Ken?" tanya Nina pada Danu, ia langsung duduk di sebelah Kennan.
"Kita ke rumah sakit bun" sahut Danu.
"Tadi bunda juga di rumah sakit"
"Kita ke rumah sakit milik keluarga Widia"
"Ada apa yah?" tanya Nina lalu menelan salivanya.
"Anakmu buat masalah"
Nina langsung menoleh ke samping kiri dimana Kennan duduk.
"Ada apa mas?" Nina bertanya pada Kennan, namun Danu yang menjawab.
"Widia jatuh dari tangga bun?" balas Danu lalu menyenderkan punggung pada sandaran kursi.
"Innalillahi" Desisnya "Kenapa?"
"Dia yang sudah membunuh anakku bun" timpal Kennan cepat
Nina semakin di buat bingung. "Ini apa maksudnya yah?"
"Kita bicarakan nanti saja" Danu merespon pertanyaan Nina. "Dan kamu?" netra Danu menatap wajah Kennan yang masih menunduk. "Jangan lakukan apapun tanpa ayah dan bunda"
__ADS_1
"Kita berangkat sekarang bun" Danu berdiri sambil menyambar jas yang terselampir di sandaran kursi, lalu mengenakannya. Nina sedikit membantu sang suami memakai jas.
Setelah itu, Danu menggandeng tangan Nina dan mereka berjalan bersisian keluar dari ruangan CEO, meninggalkan Kennan yang masih duduk mematung.
Saat menunggu lift, Danu berpapasan dengan Rio.
"Kennan di ruanganku Ri, kamu bisa temui dia" ujarnya yang di anggukan kepala oleh Rio.
****
"Ken"
"Papi" sahut Kennan
Rio segera duduk di tempat bekas Nina duduk tadi.
"Apa yang sudah Widia lakukan pada Zara yang membuatmu emosi?"
"Dia selalu jahatin Zara yah, bahkan sudah berkali-kali, Ken sudah tidak bisa menahannya lagi saat melihat video itu"
"Video apa?" Tanya Rio lembut.
Kennan memindai pandangannya pada ponsel yang tergeletak di atas meja.
Dengan cepat Rio meraihnya, lalu melihat rekaman itu detik demi detik.
Menghirup napas panjang, lalu mengeluarkan perlahan, berharap mampu menahan gejolak amarah yang juga ingin ia lampiaskan pada Widia.
"Kamu dapat ini dari mana?" pertanyaan Rio sama persis dengan pertanyaan Danu beberapa menit lalu.
"ibu yang sudah melakukan semuanya pi"
"Ibu Sinta?"
"Iya" jawab Kennan sambil mengangguk.
"Papi juga marah setelah lihat ini Ken, tapi papi tidak setuju jika kamu marah-marah di depan banyak orang, apalagi yang kamu marahi adalah seorang perempuan"
"Ken lepas kendali pi"
"Dan karena itu kamu membuat orang lain terluka, entah seperti apa kondisi Widia saat ini"
"Maaf pi"
"Lain kali" ucap Rio tatapannya mengarah ke mata Kennan "Kendalikan amarahmu, kita bisa diskusikan sama-sama, dan ambil keputusan sama-sama tanpa membuat orang lain celaka"
"Iya pi"
"Sekarang kamu ke rumah sakit, pastikan Zara tidak tahu hal ini"
"Tapi Zara pasti akan marah jika ini di sembunyikan darinya, seperti saat kita menyembunyikan kematian Frea, Ken yang kena marah pi, bukan papi ataupun ayah, bukan juga bunda sama mami"
"Ok, untuk sementara saja, jika kondisi Zara sudah lebih membaik, kita beri tahu sama-sama"
Mendesah pelan, akhirnya Kennan menurut apa kata orang tua dia.
Tidak boleh mengambil sikap tanpa ayah bundanya dan tanpa papi maminya tentu saja.
__ADS_1
bersambung.