
Zara menghela napas tepat di depan cermin toilet. Kedua tangannya ia daratkan di sisi wastafle dengan pandangan tertunduk. Memejamkan mata, berharap mampu mengurangi beban yang singgah belakangan ini.
Zara tak tahu apa sebenarnya yang ia pikirkan.
Tatapan matanya kini fokus mematut dirinya di hadapan cermin. Rasa khawatir yang tiba-tiba berkecamuk, melintas berputar-putar di otaknya.
Ternyata tak semudah ini setelah bersatu dengan orang yang sangat ia cintai. Dia membatin.
Mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan kantor, Zara tak menemukan sosok suaminya berada di meja kerjanya. "Di mana mas Ken?" gumamnya lalu menggigit bibir bawah bagian dalam. Saat kembali duduk di tempatnya, dia tak menemukan gawainya di atas meja.
Tak ada yang bisa di lakukan Zara, kecuali hanya menunggu. Ia kembali mengerjakan laporan penjualan dengan fokus bercabang kemana-mana.
Selang hampir setengah jam, akhirnya Kennan kembali ke ruangannya.
"Dari mana?" tanya Zara seraya bangkit dari duduknya.
"Dari ruangan ayah" sahutnya dengan tangan terulur, gegas Zara menyambut uluran tangannya, dengan dahi berkenyit heran, berjalan mengitari meja. Kennan membawa sang istri masuk ke ruangannya.
"Apa mamanya Frea menemuimu?"
Mulut Zara seketika bungkam. Wanita itu hanya diam menatap dada bidangnya yang terbalut kemeja di rangkap jas berwarna silver. Sementara Kennan menatap lekat wajah Zara menunggu jawabannya.
Kepala Zara reflek mengangguk meski pelan.
"Apa yang dia bicarakan?"
Lagi-lagi Zara tak langsung menjawab, sebab tengah menyusun kalimat untuk memberikan jawaban yang sekiranya tidak memancing emosinya. Bukan emosi pada Zara, melainkan pada wanita yang baru saja menemuinya.
"Mas tanya Azzara"
Kepala Zara terangkat.
"Dia memintaku membujuk mas"
Menarik napas dalam, dan menahannya sesaat, lali menghembuskannya dengan berat. Detik berikutnya, Kennan membawa Zara ke dalam pelukannya.
Reflek Zara melingkarkan tangan di pinggang Kennan. Menempelkan salah satu pipi di dadanya dan Menghirup aromatherapi musk yang melekat pada kemejanya. Terasa sekali lembut dan manisnya aroma parfum itu. Membuat Zara tak ingin mengurai pelukannya.
"Dia bilang apa lagi?"
"Intinya dia meminta mas membantunya" Masih dalam dekapannya, Kennan beberapa kali mengusap punggung istrinya.
"Jangan di pikirin ya, mas dan ayah sudah nunjuk pengacara buat melayangkan somasi pada keluarga Frea"
"Mas melaporkannya?" tanya Zara, kepalanya sedikit mendongak, namun masih dalam dekapannya.
"Mas nggak melaporkannya" sahutnya lembut seolah tengah berbicara pada anak kecil. "Mas cuma memberikan teguran, supaya mereka nggak ganggu kita, apalagi meminta mas menyembuhkannya, memangnya mas dokter" Lanjutnya mengusap bagian belakang kepalanya yang terbalut hijab "Apa yang terjadi padanya, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita"
Tanpa mereka sadari, ada sosok Widia berada di balik pintu yang tak tertutup, melihat Kennan dan Zara tengah berpelukan, dan dengan sengaja dia menguping pembicaraan mereka.
Wajahnya kian memanas, hatinya bergemuruh saat menyaksikan sepasang suami istri itu saling berpagutan.
Hingga tak mampu lagi bertahan untuk menopang tubuhnya, Widia memilih mengurungkan niat menemui Kennan, dan berbalik untuk kembali ke ruangannya.
"Tadi tante Sandra bilang apa?" ucap Zara setelah melepaskan pagutannya.
"Cuma bilang suruh istirahat yang cukup, kurangi begadang, dan jangan terlalu stres"
"Yakin cuma itu?"
Kennan mengangguk
__ADS_1
"Nggak ada organ tubuhnya yang cidera?"
"Cidera kenapa memangnya?" tanya Kennan mengernyit
"Ya biasanya penyebab mual kan karena lambung, atau ginjal, atau karena efek vertigo mungkin" ucap Zara lalu mengatupkan bibirnya rapat.
"Enggak ada sayang, semua normal, mungkin mas hanya kecapean selama sebulan ini, di tambah masalah soal Frea"
"Ya sudah mulai sekarang harus istirahat yang cukup"
"Iya-iya" Sahutnya seraya mencubit hidung Zara. "Kita fokus kerja lagi, yuk?"
"Iya"
"Enak juga kerja sekertarisnya istri sendiri, apalagi cantik seperti ini" goda Kennan dengan senyum miringnya.
Reflek tangan Zara yang memang masih bertahan di sisi pinggang Kennan mencubitnya lembut. Membuat tubuhnya berjengit di iringi gelak tawa.
*****
Duduk berhadapan, yang di pisahkan oleh sebuah meja, dua lelaki beda generasi hendak membicarakan sesuatu.
Setelah makan malam tadi, Danu menyuruh Kennan untuk berbicara di ruang kerjanya. Belum sempat ia memulai pembicaraan dengan putranya, Pintu ruang kerja terbuka dan menampilkan sosok Nina. Ia segera bergabung dengan suami dan putranya.
"Zara gimana Ken?" tanya Danu mengawali pembicaraan.
"Ya gitu yah, tapi Ken terus menenangkannya"
"Tadi ayah dan bunda ke rumah sakit tempat Frea di rawat Ken. Kondisinya memang memprihatinkan" Kennan mengerjap mendengar ucapan ayahnya, namun detik berikutnya, kembali normal seperti sebelumnya.
Biar bagaimanapun, ayahnya Frea adalah rekan bisnisnya, meskipun kerja sama di antara mereka sempat gagal, dan memberikan efek rugi pada perusahaan Danu, tapi tak sekalipun Danu memutus tali silahturrahmi dengannya.
"Dia benar-benar depresi" Usai mengatakan itu, Danu menarik napas panjang lalu mengeluarkan perlahan.
"Enggak bund" jawab Kennan sambil menggeleng. "Justru Ken mencurigai ayah sama bunda yang menjanjikan sesuatu"
"Apa bunda merasa memberikan harapan padanya?" tanya Danu pada Nina yang langsung di jawab dengan gelengan kepala.
"Bunda memang sempat bertemu dengannya, tapi bunda cuma bilang semua tergantung kamu"
"Ken percaya sama bunda".
Kennan tahu persis kedua orang tuanya bukan sosok orang yang suka berbohong dan memberikan harapan pada orang lain.
"Kita tunggu beberapa hari ke depan Ken, jika mereka masih mengganggumu dan menemui Zara untuk meminta bantuan kalian, ayah yang akan selesaikan"
"Iya yah"
"Toh keluarga kita tidak menyakiti ataupun memberi janji pada mereka. Yang penting jika mereka mengirim pesan ke nomor ponselmu, jangan kamu balas"
"Iya yah"
"Lebih baik kamu ke kamar Ken, Zara pasti menunggumu, tadi setelah makan, bunda menyuruhnya langsung istirahat"
*****
Kennan memasuki kamar dengan membawa secangkir teh, dan notebook di tangan kirinya. Pandangan mereka bertemu saat Zara baru saja membuka pintu kamar mandi. Kennan memindai penampilannya dari atas hingga ke bawah. Tubuhnya yang di balut bathrobe, dan kepala terlilit handuk, membuat Kennan tak mengedipkan matanya.
"Apa?" tanya Zara.
Zara berdesih, sambil melangkahkan kaki menuju meja rias, tangannya bergerak mengencangkan tali bathrobe di bagian pinggang. "Ngomong apa saja ayahnya?" tanyanya seraya meraih botol lotion, lalu mengeluarkan isinya di atas telapak tangan, dan mulai mengusapkan ke tangan serta kaki"
__ADS_1
Terlihat bayangan Kennan dari pantulan kaca, berjalan ke arah meja samping tempat tidur, kemudian meletakan barang bawaanya di atas sana.
"Ayah bilang apa?" tanyanya lagi ketika Kennan masih diam.
Tak langsung menjawab, sebab Kennan masih memainkan bibirnya di batang leher Zara.
Lewat sekian detik, Zara berbalik lalu merangkum wajah Kennan "Ayahnya bilang apa?" tanyanya ulang.
"Nggak bilang apa-apa" sahut Kennan dengan bibir tersungging.
"Bicara lebih dari tigapuluh menit, nggak ada yang di omongin?, terus ngapain saja?"
"Ayah cuma bilang, kalau dia habis jenguk Frea tadi siang"
"Terus"
"Ayah yang akan selesaikan"
"Mas nggak bisa selesaikan sendiri memangnya"
"Mas lagi malas dek, bawaannya lemas, makan juga rasanya hambar, jadi ya sudah biar ayah yang mengurusnya"
"Ngomong apa?" makan rasanya hambar?"
"Hmm" jawab Kennan seraya mengerjap
"Gimana kalau mas beli durian merah"
Sontak kening Kennan mengerut "Durian merah?"
"Iya"
"Kamu mau durian?" lagi nggak musim loh, pasti nggak ada"
"Ada kalau mas nyari, mas beli buat aku ya!"
"Kamu serius dek?"
Zara menganggukan kepala
"Sekarang?" Kennan memastikan, sambil menjatuhkan sorot mata ke bagian perut Zara, dan pikirannya melayang menebak-nebak.
Kedua kalinya Zara mengangguk.
"Kamu hamil ya?"
"Aku hamil?" mulut Zara langsung menganga "jangan-jangan iya mas, aku lupa kapan terakhir datang bulan.
Mendengar kalimat Zara, jantung Kennan seketika ribut di dalam sana.
"Memangnya kamu nggak merasakan tanda-tanda hamil"
"Enggak mas biasa saja"
"Tapi sekarang beneran pengin durian merah?"
"Hu'um" sahutnya dengan bibir mengerucut.
"Ok, mas akan cari durian sekarang" ucapnya lalu menyambar dompet dan kunci mobil di atas meja rias. "Mas pergi dulu ya" lanjutnya kemudian mengecup dahi Zara.
"Ingat durian merah sayang" ujar Zara mengingatkan
__ADS_1
"Ok sayang" sahut Kennan singkat sebelum menutup pintu kamarnya.
BERSAMBUNG