
Sekitar pukul 7.30 Kennan sudah berada di kantor, ia langsung memeriksa berkas pemindahan Widia ke devisi lain. Sebelumnya Widia menawarkan diri untuk menggantikan posisi Zara sebagai sekretarisnya, dan permintaannya itu justru di jawab dengan pemindahan dirinya ke kantor cabang. Membuat Widia berdecak geram, dan kebencian terhadap Zara pun kian menjadi.
Alasan Kennan memindahkan Widia karena dia sendiri memiliki potensi yang bagus, dan kantor cabang membutuhkan orang seperti Widia untuk menyelesaikan berbagai masalah di sana. Alasan itu sebenarnya hanya untuk menutupi alasan utama. Begitulah kira-kira.
"Aku masih punya waktu sekitar lima hari, sebelum berkas-berkasku lengkap" gumam Widia. "Tidak mungkin aku meminta Kennan untuk menjadi istri ke dua, mengingat pengalaman Frea yang di tolak mentah-mentah"
"Satu-satunya cara adalah melenyapkan Zara, tapi bagaimana caranya?"
Widia berjalan kesana kemari di dalam ruang kerjanya. Ia berusaha keras memikirkan cara untuk melenyapkan Zara. Cara yang sekiranya murni bahwa itu kecelakaan.
"Tapi apa?, apa aku ke rumahnya diam-diam, lalu akan aku ajak dia keluar?"
Saat tengah memikirkan cara untuk menyingkirkan Zara, tiba-tiba dari balik jendela, sepasang mata Widia menangkap Zara yang berada di luar gedung kantor, sangat terlihat jelas dari ruangan Widia di lantai delapan.
Ia tampak sedang berbincang dengan seseorang, sembari menunggu satpam membuka pintu gerbang. Sekian detik kemudian, Zara kembali memasuki mobilnya dan melajukannya menuju tempat parkir.
"Ahh sial" pekik Widia frustasi.
Sekian menit berlalu, Widia berniat ke ruangan Kennan hanya untuk sekedar menguping pembicaraan Zara, atau melihat aktivitas mereka di dalam ruangan Kennan.
Dengan langkah lebar, Widia menuruni anak tangga, karena hanya selisih satu lantai menunju ruangan Kennan yang berada di lantai tujuh.
Setibanya di depan ruang Kennan, ia sedikit mengintip Zara melalui celah pintu yang tidak tertutup sempurna.
Rupanya Zara belum lama sampai, sebab dia baru saja mengeluarkan kotak makan dari dalam totebagnya.
"Mau makan dulu?" tanya Zara, kalimat itulah yang di dengar oleh telinga Widia.
"Boleh sayang" jawaban Kennan memantik kekesalan Widia kian meledak-ledak.
Cemburu, itulah yang dia rasakan.
Detik berikutnya, Kennan berjalan memutar menghampiri Zara yang berdiri di sebrang meja kerjanya. Zara yang masih berdiri, tiba-tiba tubuhnya berjengit saat mendapat pelukan Kennan dari arah belakang.
__ADS_1
Sementara wajah Widia kian memanas melihat adegan itu.
Kennan memutar tubuh Zara hingga mereka saling berhadapan, per sekian detik, tangan Zara reflek melingkar di leher sang suami.
"Kenapa?" tanya Zara, ia sedikit berjinjit untuk mengecup bibir Kennan.
"I miss you!" sahut Kennan lalu mempertemukan bibir mereka. Kennan terus **********, hingga ciuman itu kian dalam.
Di balik pintu, Widia yang masih bertahan di posisinya, secara otomatis kecemburuannya naik ke level berikutnya.
Sepertinya dewi amor memang berpihak pada Widia, dengan tidak sengaja, ia melihat kunci mobil milik Zara di atas meja kerjanya. Sebelum mengambil kunci itu, ia lebih dulu meneliti CCTV agar aksinya tak tertangkap oleh camera.
Dengan hati-hati Widia meraih benda itu, dia juga menyambar gunting di atas meja Zara yang berada di sebuah mug tempat untuk menyimpan bolpoint, dan alat tulis lainnya. Setelahnya, ia melangkahkan kaki menaiki anak tangga menuju ruangannya, lalu ia akan naik lift dari lantai delapan menuju tempat parkir.
Dengan hati-hati, kakinya terus melangkah menuju mobil Zara terparkir, matanya terus mengitari seluruh tempat, memastikan bahwa suasana benar-benar sepi.
Karena sudah bekerja hampir tiga tahun di perusahaan Kennan, membuat Widia paham dimana saja letak CCTV terpasang. Sebelumnya dia juga telah menuju ruang pengaturan CCTV, yang kebetulan si penjaga sedang melakukan ibadah sholat duhur. Dengan gerak cepat Widia mematikan CCTV yang terletak di area parkir, dan tempat-tempat yang akan di lalui termasuk CCTV di lift yang ia gunakan.
Setelah di rasa aman, dia segera melancarkan aksinya, memutuskan kabel rem di mobilnya menggunakan gunting yang ia ambil dari meja kerja Zara.
Aman, sepertinya memang tidak ada seorangpun yang tahu perbuatan Widia, termasuk CCTV di area parkir.
Menghela napas lega, Widia kembali lagi menuju ruangan lantai tujuh untuk mengembalikan gunting dan juga kunci mobil ke tempat asal.
"Boleh aku pergi bertemu temanku mas?"
Mengernyitkan Kening, Kennan menatap dalam manik hitam milik Zara. "Teman yang mana?"
"Teman kuliah, tadi ketemu di depan, terus dia ngajak ngeteh sebentar"
"Ngeteh di mana?" tanya Kennan menyelidik.
"Di Cafetaria dekat taman kota, pas searah dengan jalan pulang kan, boleh ya, sebentar saja kok"
__ADS_1
"Temannya laki-laki atau perempuan?"
"Detail banget mengcrosceknya"
Jawab saja kenapa si?" sahut Kennan ketus
"Perempuanlah"
"Tapi hati-hati ya, jangan ngebut pake mobilnya, jangan lama-lama"
"Iya"
"Atau nggak mas antar saja kesana pakai mobil mas, sekalian mas ikut"
"Ish, janganlah, nanti mas suka sama dia, dia tuh cantik"
"Satu aja nggak abis-abis"
Mengerutkan kening, Zara tak paham dengan ucapan Kennan.
"Kenapa harus dua, kalau satu saja sudah lebih dari cukup" ujar Kennan "Apalagi yang seperti kamu, pokoknya udah nggak mau yang lain"
Ucapan Kennan membuat Zara tersipu malu. "Ya sudah aku pergi dulu"
"Hem" sahut Kennan singkat.
Sebelum Pergi, mereka sempat berciuman, hingga beberapa kali.
"Hati-hati"
"Ok sayang" jawaban Zara membuat Kennan tersenyum.
"Assalamu'alaikum" pamit Zara lalu mengecup pungging tangan Kennan yang di balas kecupan singkat di kening Zara.
__ADS_1
tbc...
Kangen Zara ya, aku juga 😀😀