Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)

Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)
Alesya Glory Buana


__ADS_3

Five years leter.....


Zara


"Mama" Seru Alesya. Dia berada dalam gendongan papahnya. Mereka jalan menghampiriku yang tengah memasak sarapan. "Cia bobonya di peluk-peluk sama papa"


Aku menengok sekilas lengkap dengan senyum yang tersungging di bibirku. "Seneng nggak di peluk-peluk sama papanya?" tanyaku lalu kembali fokus dengan masakanku.


"Senang" Sahutnya singkat.


Ku lirik dengan ekor mataku mas Ken menarik kursi makan lalu mendudukan dirinya. Cia yang berada di pangkuan mas Ken terus meracau dengan segala tingkah dan ucapan-ucapan lucunya. Seminggu mas Ken pulang ke Indonesia, membuat anak gadis kami merindukannya.


"Papa kok lama-lama di rumah oma bunda?"


"Papa banyak kerjaan di rumah oma bunda, uyut abi juga lagi sakit di rumah sakit, jadi papanya harus nemenin uyut umi di rumah"


"Terus papa pulang siapa yang temani uyut umi sekarang?"


"Oma bunda"


Obrolan anak dan papa yang masih bisa ku dengar dari arah dapur, membuatku tersenyum sekaligus teringat kakek abi.


Semalam, saat mas Ken baru sampai rumah di jam sebelas malam, dia langsung menceritakan kondisi kesehatan kakek abi yang semakin menurun. Dan kami sepakat untuk kembali lagi ke negara kita besok pagi.


Setelah sekian menit, aku menata semua hasil masakanku di meja makan.


"Sebelum sarapan, Cia mandi dulu yuk"


"Nggak mau, nanti papahnya pergi lagi"


"Papa nggak pergi Ci" Sergah mas Ken cepat sambil mengusap belakang kepalanya. "Papa tunggu disini sambil baca koran"


"Janji ya" ucap Cia sembari mengerjap.


"Hmm"


Aku mengambil alih Cia dari pangkuan mas Ken, lalu menurunkannya dan membiarkan dia berjalan dengan menggandeng tanganku.


Mas Ken sempat mencubit pipinya yang chuby sebelum kami beranjak dari area dapur. "Mandi yang bersih ya, jangan buru-buru, papa nggak pergi-pergi lagi"


Usai mas Ken mengatakan itu, aku dan Cia berjalan menaiki tangga.


"Cia kangen sama oma bunda sama oma mami?" tanyaku saat baru menapak di anak tangga pertama.


"Iya, kangennya banyak-banyak ma"


"Mau nggak kalau kita besok pulang ke rumah oma?"


"Mau" sahutnya dengan nada riang.


"Kalau kita tinggal terus, sama oma bunda dan oma mami juga mau?"

__ADS_1


Pertanyaanku membuat putri kecilku berhenti, lalu mendongak mecari wajahku. Detik itu juga aku langsung berjongkok menyamakan level mata kami. Butuh waktu sedikit lebih lama untuk Cia mencerna ucapanku.


"Kenapa?" tanyaku memegang kedua sisi lengan Cia.


"Tinggal terusnya sampai kapan ma?"


"Sampai Cia besar-besar, Cia juga akan sekolah di sana nanti"


"Terus, nanti oma Sinta sendirian ma?"


"Oma Sinta nggak sendiri Ci, kan ada kak Yayan, ada kak Marita, ada bibi Gola, ada paman Picha juga"


"Nanti Cia nggak bisa main-main lagi sama oma Sinta?"


"Kita akan sering datang buat jenguk oma Sinta sayang"


Anak itu mengngguk dengan raut yang belum bisa ku tebak, Kami kembali melangkahkan kaki menuju kamar yang hanya tinggal tiga langkah.


Meskipun usianya baru empat tahun, tapi aku sangat tahu kalau cara berpikir Cia lebih dewasa dari anak seusianya.


"Nanti boleh Cia pamit-pamit dulu sama teman sekolah Cia di sini kan ma?"


"Harus itu, nanti Cia bilang ke teman-teman kalau mau pulang ke negaranya Cia di Indonesia"


Untuk beberapa saat kami saling diam, sampai aku melepaskan semua baju tidur yang melekat di badannya, ku lirik Cia masih sibuk dengan pikirannya. Aku tahu mungkin dia masih belum bisa menerima ucapanku yang mengajaknya tinggal di negara kami, mengingat dia sudah sejak lahir tinggal bersama ibu Sinta di Thailand. Selain itu, mungkin dia belum rela meninggalkan teman-temannya di playgroup tempat dia belajar banyak hal.


****


"Mbak yakin akan tinggal di thailand dengan bu Sinta?"


"Yakin nggak yakin mih, embak ingin melupakan semua kenangan buruk selama disini, terutama calon anak kami yang harus pergi mendahului kami, tentang Frea dan Widia yang juga kadang masih suka mengganggu jam tidur mbak"


"Sampai kapan?"


Aku menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan mami.


"Nanti kalau mbak sudah lebih tenang, pasti balik lagi kok, ini juga saran dari dokter Sabit, kalau sementara ini mbak perlu mencari suasana baru agar kenangan buruk itu bisa benar-benar mbak lepas dari otak dan pikiran embak"


Dan kini, sudah hampir lima tahun aku berada jauh dari keluargaku. Aku dan Cia hanya pulang setiap lebaran, berbeda dengan mas Ken yang hampir setiap bulan atau dua bulan sekali pulang ke Surabaya untuk melaporkan hasil audit perusahaan ayah yang disini.


"Packingnya sambil melamun?" tanya mas Ken dengan dahi mengernyit.


"Melamun? Enggak kok" elakku.


"Kalau nggak melamun, kamu pasti dengar panggilan mas"


"Mas memanggilku?" Mas Ken tampak mengangguk. "Ada apa?" tanyaku kemudian.


"Ngelamunin apa kamu?" Dia berjalan menghampiriku.


"Bukan apa-apa"

__ADS_1


"Jangan bohong dek" Sahut mas Ken lalu memelukku dari arah belakang. Dagunya ia daratkan di pundaku sambil sesekali mencium ceruk leherku yang tertutup hijab. Bukan mencium sebenarnya, tapi lebih ke menyesap menikmati aroma wangi yang menempel di hijabku. "Kamu nggak bisa bohong sama suamimu"


Hening, aku mengusap punggung tangan mas Ken yang melingkar di perutku.


"Sekarang bilang kamu melamun apa?"


"Aku cuma kepikiran Cia"


Mendengar ucapanku, mas Ken langsung memutar tubuhku. Reflek tanganku menggamit kaos di sisi pinggang kanan kirinya. Aku sedikit mendongak untuk mempertemukan netra kami.


"Ada apa dengannya?" tanya mas Ken dengan raut penasaran.


"Sepertinya dia sedikit shock saat aku memberitahu kita akan balik ke Surabaya"


"Masa si?"


Bibirku mengatup rapat, lalu sedikit mengangkat pundakku merespon ucapan mas Ken.


"Dia masih kecil-kecil jangan terlalu khawatir" ucapnya sambil menjauhkan tubuhnya agar lebih mudah menatapku. "Biar bagaimanapun, ini bukan negara kita, kamu sendiri tidak berniat untuk tinggal selamanya di sini kan?" Mas Kennan tampak menarik napas lalu menghembuskannya pelan. "Rumah kita bukan disini, keluarga kita juga nggak di sini, kita seharusnya ada di tengah-tengah keluarga kita"


Aku hanya diam menyimak ucapan mas Ken.


"Apa kamu belum bisa melupakan Widia?"


Aku tertegun mendengar tebakannya yang kurasa sangat tepat. Kami saling beradu pandang selama beberapa menit, dan ku putuskan untuk memutus kontak mata kami terlebih dulu. Namun baru saja aku akan menunduk, mas Kennan dengan sangat cepat mengangkat daguku menggunakan tangan kirinya.


"Hal apa yang masih membuatmu nggak tenang?"


Tak langsung menjawab, aku mengerjap menatapnya.


"Berapa tahun lagi sisa hukuman mbak Widia?" tanyaku Akhirnya. Dan pertanyaanku ini membuat mas Ken mengangkat satu alisnya.


"Kenapa?"


"Mungkin dengan membebaskannya, aku bisa lebih tenang"


Ku dengar helaan napas kasar dari pria di hadapanku. Aku tahu, nggak mudah buat mas Ken menyetujui permintaanku, tapi menurutku, Widia sudah cukup mendekam di penjara. Di tambah sikap kedua orang tuanya sama sekali nggak menaruh benci pada keluargaku. Justru kerja sama antara ayah Danu dan rumah sakit miliknya terjalin semakin erat. Lagi pula, melihat bagaimana kondisi mbak Widia yang sampai saat ini belum bisa berjalan, membuatku iba dan ingin sekali mengeluarkannya dari penjara.


"Boleh aku membebaskannya?" tanyaku sedikit ragu.


Dia menghirup napas panjang sebelum kemudian mengangguk lengkap dengan seulas senyum.


"Makasih" kataku seraya melingkarkan tangan di pinggangnya.


"Inscuremu ini, benar-benar di luar dugaanku" jawabnya lalu membalas pelukanku.


"Dan cinta mas, benar-benar mampu melawan inscureku"


Kami terdiam dengan mata lekat saling menatap, sebelum kemudian sama-sama menempelkan bibir kami yang selalu menjadi candu bagi kami. Ciuman sarat akan cinta yang sudah hampir lima tahun kami arungi sama-sama. Dan dia, masih menjadi suami terhebatku sampai detik ini, menjadi suami satu-satunya bahkan sampai maut memisahkan.


.......🌷Bonus🌷chapter🌷.......

__ADS_1


__ADS_2