Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)

Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)
Bab 30


__ADS_3

Duduk terdiam dan tanpa sepatah kata, Kennan terus memandangi tubuh Zara yang terbaring lemah. Apalagi saat melihat bibirnya yang berwarna kebiruan karena lebam, sekilas ada rasa nyeri yang entah dari mana datangnya. Yang jelas, Kennan merasa sedikit kesulitan bernafas, ketika melihat wanitanya dalam kondisi seperti ini.


Jam dinding menunjukan pukul 6:15 saat Zara membuka mata.


Mata Zara yang tampak sayu, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, dengan kondisi yang setengah sadar, ia mendapati sosok laki-laki tengah menyandarkan kepala di sisi tempat pembaringan.


Kennan terbangun saat merasakan sentuhan lembut di bagian kepala "Dek, kamu sudah bangun?"


"Aku di mana mas?" tanyanya sambil berusaha bangun untuk duduk.


"Kamu di rumah sakit" Jawab Kennan, lalu membantu Zara meletakan bantal di belakang punggungnya, agar lebih nyaman. Iapun ikut duduk di bibir ranjang, tangannya semakin erat menggenggam tangan Zara. "Syukurlah, kondisimu sudah membaik sekarang" mencium tangan Zara, matanya berkaca-kaca menahan rasa bahagia.


Sebenarnya ada banyak hal yang ingin Zara tanyakan, kenapa Kennan bisa menyelamatkannya dari wanita bernama Sinta.


"Mas kenapa bisa di sini?"


"Jangan banyak tanya" sahutnya seraya membelai rambut Zara. "kamu harus sembuh dulu dek"


"Hijabku di mana?"


"Sebentar lagi bibi Yuni dan Bima kesini, mereka akan membawa baju ganti untukmu"


"Kenapa bukan Bima yang menungguku disini?" protes Zara "Ini lagi kenapa pegang-pegang dan cium tanganku?"


Kennan tersenyum "Nggak apa-apa, udah halal" jawabnya yang membuat Zara tercenung, sekaligus menelan salivanya.


"Mas nggak gila karena penculikanku kan?"


"Kamu tahu?" ucap Kennan sambil menegakkan duduknya "Tiga hari tanpamu, mas benar-benar kehilangan semangat, nggak ada motivasi lagi untuk melakukan banyak hal" Kennan menghirup napas dalam-dalam "Tidak melihatmu duduk di depan ruangan mas, membuat mas tidak fokus dalam bekerja"


Terdengar seperti sebuah pengaduan, ungkapan perasaan dan kehampaan yang di rasakannya selama tak ada Zara. "Mungkin mas akan gila tanpamu dek"


"Maaf" seloroh Zara


"Kenapa minta maaf?"


"Seharusnya aku menuruti ucapan mas waktu itu"


"Apa mau membahas ini?" tanya Kennan serius, lalu kembali mengecup tangan Zara. "Jadi istri mas mau?"


Zara membelalakan mata mendengar pertanyaan Kennan yang langsung membuat jantungnya seketika berdebam dengan tidak sopannya.


"Jangan membuatku pingsan lagi, aku baru saja sadar" ucapan Zara di respon kekehan oleh Kennan "Jangan membuat jantungku melompat-lompat" tambahnya


"Makannya" ucapnya ketika tawanya reda "harus jujur dengan perasaanmu" Kennan tersenyum "Mau ya, jadi istri mas"

__ADS_1


Zara terdiam menatapnya, pikirannya benar-benar acak-acakan dan ruwet di dalam sana.


Tanpa di komando, Kennan mendekatkan wajahnya, ia hendak mencium Zara, namun dengan cepat Zara memalingkan wajah ke kiri. "Mas sudah janji waktu itu kan?"


"Tapi mas kangen kamu dek"


"Tapi jangan cium"


"Kenapa?"


Zara tak habis pikir dengan ucapannya "Dosa mas" jawabnya "Memperlihatkan rambutku di depan mas saja sudah dosa" tambahnya seraya menunduk.


"Jangan pikirkan soal dosa dek, mas yang akan tanggung semua dosamu"


Zara mendongak tak percaya "Nggak bisa mas"


Dahi Kennan mengerut, dengan tangan merangkum wajah wanita itu "Aku milikmu sekarang" bisik Kennan, reflek mata Zara terpejam dan sedikit beringsut sebab, hidungnya nyaris menyentuh hidung Zara.


Saat Zara hendak bersuara, ia merasakan hangat nafas Kennan menyapu wajahnya, hingga kemudian bibirnya menyentuh bibir Zara, menciumnya dengan sangat lembut. Ciuman yang tenang dan dalam, hingga lewat bermenit-menit.


Mereka sama-sama mengatur nafas setelah melepaskan pagutannya "Kamu terlalu seksi" Bisik Kennan "Mas nggak bisa nahan diri buat nggak makan kamu"


Zara mengerjap sambil berdehem pelan "Mas mau kamu jadi istri mas" sambungnya pelan membuat jantung Zara kian kebat-kebit. Sedetik kemudian, Kennan kembali mempertemukan bibirnya lebih intens, lebih dalam, dan lebih lama.


Kesadaran mereka yang nyaris melayang karena ciuman, serta lum*atan, mendadak terkumpul ketika mendengar suara ketukan pintu lalu mengurai bibir mereka.


"Mungkin Bima sama Bi Yuni" kata Zara menahan senyum melihat wajah kesalnya.


Bergerak bangkit, Kennan merapikan sedikit rambutnya yang berantakan sebelum membuka pintu.


"Selamat pagi pak" Sapa seorang suster, dan seorang pengantar sarapan saat pintu terbuka "Saya akan mengecek kondisi istri bapak" lanjutnya lalu menerobos pintu, di ikuti oleh petugas dengan membawa nampan berisi sarapan pagi.


Zara yang sempat mendengar ucapan si suster, hanya bisa diam dengan seribu pertanyaan.


"Saya tensi dulu ya bu" pungkasnya yang di anggukan kepala oleh Zara. Kennan berdiri memperhatikannya, satu tangan ia lipat di dada, dan tangan lainnya menyentuh dagu.


"Apa yang di rasa bu" tanyanya


"Masih agak pusing sus"


"Baik, nanti bisa di sampaikan pada dokter ya, pemeriksaan dokter sekitar jam 9"


"Bagaimana tensinya sus"


"Masih rendah pak, karena kondisinya masih lemah, tapi tidak perlu khawatir" ucapnya menenangkan "Sarapannya di habiskan ya bu, setelah itu minum obat"

__ADS_1


"Iya sus"


"Kalau begitu saya permisi"


Kennan menutup kembali pintunya sesaat setelah kepergian sang suster.


"Mas" panggil Zara dengan tatapan penuh mengintimidasi


"Hemm" jawab Kennan sambil berjalan lalu meraih sarapan yang baru saja di bawakan oleh petugas.


"Tadi kok suster bilang aku istri mas?"


Kennan hanya tersenyum meresponnya "Makan dulu ya"


"Kenapa mas bohong sama susternya, ngaku-ngaku suami"


"Mas nggak bohong kok" jawabnya lalu menyuapkan sendok ke mulut Zara "Kamu memang istri mas"


"Aku serius mas?"


"Kalau nggak percaya tanya Bima nanti"


"Aku nggak lagi amnesia kan?"


"Jangan mikir yang enggak-enggak, makan dulu setelah itu mas jelaskan"


"Assalamu'alaikum" Sapa Bima dan Yuni bersamaan


Zara dan Kennan serempak menolehkan wajah ke arah pintu "Waalaikumsalam"


"Mbak" Seru Bima "Gimana kondisi embak?"


"Mbak nggak apa-apa" jawab Zara sambil menerima uluran tangan Bima, lalu Bima mencium punggung tangannya.


"Sudah mendingan kan Za?" tanya bi Yuni seraya menyerahkan jilbab "ini di pakai"


"Makasih ya bi"


"Yah, nggak bisa liat rambutmu lagi deh" keluh Kennan saat Zara memasangkan hijab di kepalanya.


**BERSAMBUNG


Maaf ya upnya lama,


ada festival di ponpes dalam rangka milad... mendadak jadi sibuk**

__ADS_1


covernya udah ganti lagi ya maaf.. pihak noveltoon yang ngganti.. jangan bingung 😇


__ADS_2