
"Maaf nyonya, saya tidak bisa" Tegas Kennan "Saya tidak punya waktu untuk mengurus orang lain"
"Tolonglah nak Ken, hanya membantu sampai dia pulih"
"Sekali lagi maaf, saya tidak bisa membantu"
Kennan mematikan sambungan telfonnya secara sepihak, setelah itu, ia segera menonaktifkan ponselnya, lalu menyimpannya di atas nakas.
"Dia depresi mas?" Tanya Zara dengan sorot mata nanar.
Kennan mengangguk
"Mas tahu?"
Lagi-lagi Kennan mengangguk.
"Sejak kapan?"
"Tadi saat makan malam" sahut Kennan, tangan kirinya bergerak menekan saklar untuk lampu meja yang nyalanya hanya temaram. "Ayah yang memberitahu mas, ketika kamu sedang membuat telur dadar" lanjutnya lalu berjalan menuju saklar, mematikan lampu utama kamar.
"Dia begitu apa karena cintanya pada mas bertepuk sebelah tangan?"
"Tidur yuk"
"Dia menjadi seperti itu apa karena kita mas?"
"Mas nggak mau bahas itu dek" jawabnya lalu berbaring sambil menarik tubuh Zara ke dalam pelukannya.
"Ayah cerita apa lagi tentang dia?"
"Please dek, itu bukan urusan kita, jadi stop membicarakannya okey"
"Tapi mas" sergah Zara sedikit mengangkat kepala lalu mempertemukan netranya "dia seperti itu karena pasti ada hubungannya dengan kita"
"Hubungan apa?" tanya Kennan, tangannya melingkupi punggung tangan Zara yang berada di atas perutnya. "Dia yang mengusik hidup kita dek, dia yang sudah menyakitimu"
"Mas yakin nggak mau membantunya?"
"Enggak" sahut Kennan lebih tegas dari sebelumnya.
Zara kembali mendaratkan kepalanya di lengan Kennan.
"Kamu jangan mikir yang engak-enggak" kata Kennan lalu mengecup pucuk kepala Zara "Dia seperti itu, karena dirinya sendiri. Dia sudah pernah seperti ini sebelumnya"
"Apa ayah yang mengatakannya?"
"Hem"
Hening, hanya ada suara jarum jam yang berdetik nyaring. Cukup lama mereka saling diam.
"Mas nggak mau berurusan dengannya, mau dia depresi, mau dia mat_"
"Jangan ngomong gitu" potong Zara cepat seraya membekap mulut Kennan dengan tangan kirinya "Kita nggak di ajarin seperti itu kan sama ayah bunda, sama papi mami"
"Tapi kamu jangan pernah menyuruh mas buat membantunya"
Dahi Zara mengerut lalu menengadahkan kepalanya menatap Kennan "Apa mas melihat niatku untuk menyuruh mas?
__ADS_1
"Filling saja, biasanya kan begitu"
"Aku juga nggak rela mas bantu dia" sahutnya kembali merebahkan kepalanya.
Pelukan yang kian erat, seolah berusaha saling menguatkan satu sama lain "Mas nggak mau berurusan dengan mereka dek, jadi kamu jangan pernah luluh jika mereka juga memintamu. Keraskan hatimu untuk menolaknya. Faham ya?"
Zara merespon dengan anggukan kepala dalam pelukan Kennan.
"Lebih baik kita tidur sayang, besok mas coba bicara sama ayah sama papi, takutnya mereka juga meminta bantuan pada ayah"
"Apa mas juga akan memneritahu kelakuan Frea yang sudah meneror kita dengan foto dan video tak senonohnya?"
"Iya sayang"
"Tapi mas ngomong ke ayahnya pelan-pelan ya"
"Tapi kamu janji nggak akan kepikiran tentang ini ya"
"Meskipun aku jawab iya" ucap Zara, jari tangan kirinya memainkan jari tangan kanan suaminya "Tetap saja kepikiran mas, kecemasanku benar-benar tidak bisa di tawar jika itu berhubungan dengan Frea"
"Tapi mas mohon kamu jangan terlalu mikirin, mas nggak mau lihat kamu sedih, mas cuma mau lihat kamu bahagia hidup sama mas. Kamu tahu kan, mas sayang sama kamu sejak kamu lahir, mas cinta sama kamu sampai detik ini" ucap Kennan tanpa jeda "Kamu cukup tersenyum karena senyumu adalah kekuatan mas. Mau ya jadi kekuatan mas"
"Hem"
"Janji ya"
"Janji" sahutnya seraya mengangguk "Tapi mas juga janji, mas harus membagi beban mas ke aku"
"Janji sayang" Kennan kembali mencium pucuk kepala Zara.
Zara yang masih bertahan dalam dekapan Kennan, ia mengambil nafas panjang sembari menghirup aroma tubuh sang suami, yang entah kenapa akhir-akhir ini menjadi candu baginya. Aroma yang sangat menenangkan, yang selalu ingin dia hirup ketika resah dan juga gelisah mulai menyergap.
"Iya" sahut Zara lirih.
*****
Usai memasak sarapan, Zara kembali ke kamarnya, dan saat baru saja membuka pintu kamar, tedengar suara seperti orang yang sedang muntah, berasal dari dalam kamar mandi. Dengan cepat Zara setengah berlari menuju sumber suara lalu membuka pintunya yang tak terkunci.
"Masih eneg juga perutnya? Tangan Zara reflek menyentuh tengkuk Kenan dan sedikit memberikan pijatan. "Apa masuk angin?"
"Nggak tahu" Sahut Kennan lalu berkumur dan membasuh mukanya.
"Sudah mandi?"
"Sudah"
"Kita sarapan yuk, ayah sudah nunggu"
"Kamu nggak mandi dulu?"
"Aku sudah mandi" jawab Zara menggamit lengan sang suami "Gimana perutnya?" tanyanya setelah keluar dari kamar mandi.
"Udah enakan dek"
"Beneran ya, sudah nggak apa-apa?"
Zara yang begitu panik dengan kondisi kesehatan Kennan, di tambah Frea yang ternyata masih belum menyingkir dari pikirannya, membuatnya mendesah putus asa, serta menahan diri untuk tidak memberikan rentetan pertanyaan pada Kennan.
__ADS_1
"Beneran bunda"
"Ya udah, ayo kita turun"
"Yuk" jawab Kennan setelah sebelumnya mendaratkan kecupan di kening Zara.
*
Ketika tengah sibuk dengan pekerjaan di kantor, Zara di kejutkan oleh suara di balik telfon dari bagian resepsionis. Dia mengatakan bahwa ada seorang wanita paruh baya, ingin bertemu dan saat ini tengah menunggu di loby.
Zara sudah bisa menebak, kemungkinan wanita itu adalah seseorang yang semalam berbicara dengan suaminya di telfon.
"Saya segera turun mbak" jawab Zara lalu meletakan kembali gagang telfon pada tempatnya.
"Selamat pagi, apa anda yang ingin bertemu dangan saya?" tanya Zara seramah mungkin, lalu duduk berhadapan dengan wanita yang terlihat kuyu dan lelah.
"Apa mbak ini istrinya Kennan Buwana?" Wanita itu bertanya dengan sorot mata memelas, tangannya yang menyatu di atas meja, dan raut wajahnya seolah menandakan bahwa saat ini tengah resah sekaligus takut.
"Iya"
"Bisa tolong bujuk suaminya untuk membantu pemulihan anak saya?"
Zara mengatupkan bibirnya rapat, sementara kedua tangannya sudah di basahi oleh keringat, menahan geram.
Bagaimana bisa, dia dengan beraninya meminta bantuan pada Zara, dan sebisa mungkin, Zara menahan diri untuk tidak luluh dengan ucapannya sesuai pesan Kennan tadi malam.
"Maaf bu, saya tidak bisa membujuk suami saya" jawab Zara datar, namun masih terdengar sopan. "Jika suami saya sudah bilang tidak, saya sendiri tidak bisa berbuat apa-apa, termasuk sekedar membujuknya"
Diam sejenak, Zara menghirup napas, lalu menghembuskannya pelan sebelum kembali bersuara. "Seharusnya ibu meminta bantuan pada psikolog"
"Tapi psikolog berkata, jika dia bisa pulih hanya dengan bantuan Kennan"
"Kenapa hanya suami saya yang bisa membantunya?" tanya Zara masih menahan diri.
"Karena depresinya di sebabkan oleh suamimu"
Emosi yang tertahan di benak Zara, kini mulai memuncak setelah mendengar jawaban dari wanita di hadapannya.
"Putri ibu seperti itu karena kesalahannya sendiri, maaf jika ucapan saya terdengar lancang. Putri ibulah yang sudah mengusik rumah tangga saya"
Hening sesaat
"Apa pantas seorang wanita single, mengirimkan foto dan video tanpa pakaian sehelaipun kepada ponsel seorang pria yang sudah beristri?"
"Seharusnya kamu maklum dengan sikap anak saya"
"Saya harus memaklumi, yang jelas itu perbuatan senonoh, dilakukan oleh wanita dewasa?" kalau begitu, ibu juga harus maklum jika suami saya menolak untuk membantu"
"Apa kalian memang tidak punya hati?"
Zara tak langsung merespon. Sepasang manik matanya bergerak, mencari tahu apa kira-kira maksud ucapannya.
"Kami hanya tidak ingin masuk ke dalam lingkaran permasalahan keluarga kalian"
Mendengar jawaban lugas dari Zara, wanita itu terdiam.
"Maaf saya sibuk" tegas Zara lalu berdiri "Permisi"
__ADS_1
"Kalian benar-benar kejam" teriaknya saat Zara terus melangkah menjauh darinya. Dan teriakannya itu, di saksikan oleh Danu yang kebetulan melintas setelah kembali dari bagian gudang, hendak menuju ke ruangannya.
Bersambung