
Pagi ini udara sangat sejuk, aktivitas berjalan seperti biasa, Kondisi Zara yang kian membaik, membuat Kennan tak ingin meninggalkannya barang sebentar.
"Mas mau duduk saja" Kata Zara saat Kennan akan membaringkannya setelah sarapan.
"Ok tapi sebentar saja ya"
Melihat Zara terdiam, Kennan mengangkat satu alisnya.
"Kamu kenapa?" tanyanya lembut sambil memegang tangan Zara.
Zara terdiam, sembari menatap penuh lekat wajah suaminya. "Mas nggak sedih, anak kita nggak selamat?"
Mengerutkan kening, tangan Kennan beralih mengusap bagian belakang kepala Zara, dimana masih ada kain kasa yang melingkar di kepalanya.
"Sepuluh hari mas bersedih dek, kalau waktu itu kamu langsung bangun, pasti kamu tahu kesedihan kami" jawab Kennan sedikit parau. "Sepuluh hari sudah berlalu, kakek abi bilang kan?, boleh sedih tapi nggak boleh larut"
Zara masih bungkam, ia mengatupkan bibir rapat-rapat.
"Semua sudah kehendak-Nya, anak kita sudah kembali di ambil lagi sama pemiliknya, jadi kita harus ikhlas" Kennan berusaha menutupi kesedihannya di depan Zara.
"Maaf"
"Maaf kenapa?" tanya Kennan genggamannya kian erat.
"Nggak hati-hati"
Ucapan Zara membuat Kennan mengulas senyum. "Kamu sudah hati-hati dek, mungkin kalau kamu nggak hati-hati, lukanya akan lebih parah dari ini, mas tahu kok, kalau kamu nggak melajukan kecepatan mobil di luar batas, malah polisi bilang kecepatanmu sangat rendah"
"Tadinya bunda Nina sudah melarangku untuk antar makan siang buat mas, ayah dan juga papi, tapi aku nggak dengerin ucapan bunda"
"Sudah jangan di bahas, ini bukan kesalahanmu, ini salah orang yang sudah memutus kabel rem mobilmu"
Dahi Zara tiba-tiba mengerut, dan kennan tahu maksudnya. "Ada seseorang yang memutus kabel rem di mobilmu dek, mas yakin sekali itu ulah Widia, tapi sayangnya mas nggak ada bukti"
"Widia?" tanya Zara heran.
"Hmmm"
"Jangan suuzon mas"
Kennan tersenyum senang, akhirnya bisa merasakan larangan Zara. "Iya maaf" sahutnya memamerkan giginya. "Kita jemur yuk, biar kakimu nggak kaku, biar cepat bisa jalan lagi"
"Kalau aku nggak bisa jalan lagi gimana mas?"
"Ok mas akan jadi kakimu"
"Mas mau punya istri lumpuh kayak aku"
__ADS_1
"Ini hanya sementara, kamu pasti bisa jalan lagi, kata dokter nggak sampai sebulan kamu udah bisa jalan lagi, kalau kita nurut apa kata dokter"
"Mas belum jawab pertanyaanku" ucap Zara ketika Kennan berjalan untuk mengambil kursi roda di sudut ruangan.
"Pasti mau banget, pokoknya mas akan terus jagain kamu, meski kamu nggak bisa jalan sekalipun"
Kennan mengangkat tubuh Zara saat kursi roda sudah siap, lalu mendudukannya di kursi itu.
Karena efek koma selama sepuluh hari, membuat Zara lumpuh sementara, jadi dokter menyarankan untuk selalu terapi sinar matahari di pagi hari, dan terapi jalan setiap sore.
******
Di tempat lain, tanpa sepengetahuan keluarga, Sinta selalu mengawasi gerak-gerik Widia, ia di bantu oleh dua orang suruhannya, dalam mencari tahu siapa pelaku yang sudah membuat Zara celaka.
Di hari ke lima, orang suruhan Sinta melihat seorang OB, yang selalu takut jika bertemu dengan Widia.
Selain menyelidiki Widia secara diam-diam, dua orang suruhannya pun mengawasi si OB. Dimana Dia selalu gemetar saat berpapasan degan Widia, padahal Widia tidak melakukan apapun padanya.
Hal itu membuat suruhan Sinta mencurigainya.
"Sekarang katakan kenapa kamu selalu takut pada Widia" tanya Sinta saat orang suruhannya berhasil membawa OB itu bertemu dengannya.
"S-sebenarnya s-saya_" Sang OB tergagap dengan keringat sudah membasahi pelipisnya.
"Apa kamu yang memutus rem Zara?" istri dari atasanmu"
Sinta tersenyum melihat ekspresinya.
"Sumpah bu bukan saya"
"Saya percaya sama kamu"
Mendengar sahutan Sinta, otomatis OB itu bernafas lega. "Kok ibu bisa langsung percaya sama saya" ucapnya masih dengan terbata-bata.
"Saya tahu siapa yang bohong dan siapa yang jujur" jawaban Sinta membuat OB itu mengerutkan dahinya. "Kalau kamu bohong, kamu pasti tidak berani menatapku.
"M-maksud ibu?"
"Orang kalau berbohong, pasti tidak akan mau menatap orang yang mengintimidasinya"
"B-begitu ya bu"
"Aku akan kasih kamu dua puluh juta jika kamu memberitahuku siapa yang sudah memutus rem Zara"
"S-saya tidak tahu bu"
"Saya akan menghancurkanmu jika kamu bohong, dan saya sangat yakin, seseorang tidak akan pernah bisa menyembunyikan kebohongan dalam waktu yang lama" ujar Sinta lengkap dengan mata yang memicing. "Sebelum terlambat, lebih baik kamu katakan jika kamu mengetahui sesuatu"
__ADS_1
OB itu terlihat bingung, campur panik. Apalagi saat sepasang matanya menatap dua pria menakutkan yang sudah menyeretnya secara paksa, untuk menemui bosnya. Reflek dia mengedikkan bahunya pelan
"Saya hitung sampai tiga, jika kamu tidak mau mengatakannya, itu artinya kamu memilih hancur" Ancaman sinta bagaikan petir yang seketika mampu menghanguskan sesuatu.
"Satu, Du_" Sinta menggantung ucapannya saat sang OB mengeluarkan sebuah ponsel. Membuat Sinta memicingkan matanya.
"Apa ini"
"Se-semuanya ada di ponsel saya bu"
"Semua?" apa itu?" tanya Sinta penuh selidik.
Dengan cepat, OB itu membuka menu gallery di ponselnya, lalu menunjukan sebuah rekaman yang menunjukan aktifitas keji Widia.
Di situ, meskipun gambar terlihat buram, karena di ambil dari kejauhan, namun terlihat sangat jelas bahwa wanita dalam video itu adalah Widia.
Dengan santainya dia membuka bagasi bagian depan, sembari menoleh ke kanan dan ke kiri, Dia yang sudah mengenakan sarung tangan terlebih dulu di ruangnnya, dengan cepat mengeluarkan gunting dari dalam saku jasnya, Walaupun tidak tampak saat dia memutus kabel rem, namun, sudah jelas apa yang dia lakukan, karena penyelidikan polisi mengatakan bahwa ada yang dengan sengaja memutus kabel rem.
Melihat video itu, Wajah Sinta memanas, tangannya mengepal kuat, dan giginya mengeluarkan bunyi gemertik.
"Kenapa kamu menyimpan ini selama hampir dua puluh hari?" tanya Sinta sedikit meninggikan suara.
"Saya takut bu"
"Takut kenapa?,apa Widia mengancammu?"
Dia menggeleng. "Mbak Widia tidak tahu kalau saya mengambil vidio itu"
"Lalu, kamu takut sama siapa?"
"Saya takut kalau saya membongkar perbuatan mbak Widia, mmmm_"
"Apa?" tanya Sinta geram. "Katakan padaku"
"Takut keluarga mba Widia balas dendam pada keluargaku, kalau mereka tahu saya yang sudah membongkarnya"
"Kamu jangan takut, kamu akan kami lindungi" balas Sinta sambil menunggu video itu terkirim ke ponselnya.
"Dimana rumahmu?" tanya Sinta ketika mereka diam hampir dua menit.
Sebelum menjawab, si OB itu menelan salivanya.
"Rumahmu akan di jaga sama dia?" ucap Sinta menunjuk pada kedua suruhannya.
Setelah di beritahu di mana alamat si OB, Sinta bergegas meninggalkannya dan langsung menuju ke rumah sakit.
Bersambung
__ADS_1