
Begitu sampai di kantor polisi, Kennan langsung masuk ke ruang kapolsek, setelah sebelumnya menyapa Bima, yang duduk dengan raut bingung sekaligus cemas.
Ada beberapa hal yang harus di tanda tangani Kennan, membuatnya menunggu hingga lebih dari tiga puluh menit.
"Ayo mas antar pulang" ucap Kennan dengan nada lembut.
"Mau pulang ke rumah ayah saja" sahutnya takut-takut.
"Kenapa?" kedua lelaki itu berdiri saling berhadapan.
"Takut sama papi"
"Terus kalau kamu pulang ke rumah ayah, kamu merasa aman, terhindar dari omelan papi?"
Anak itu mengangguk. "Ok kita pulang kerumah ayah, nanti kamu jelaskan di rumah kenapa bisa sampai di kantor polisi" Kennan melangkah, setelah mengatakannya. Sementara Bima, mengekor di belakangnya.
Selama 15 menit perjalanan, mobil Kennan memasuki gerbang rumahnya. Ada ayah sedang duduk di pos satpam, tengah ngobrol dengan pak Danang.
"Loh Bima?" sapa Ayah
"Assalamu'alaikum yah" Salam Bima lalu mencium punggung tangan Danu
"Waalaikumsalam"
"Kok bisa barengan sama mas Ken?"
"Tadi mas Ken jemput dia di kantor polisi yah" sambar Kennan cepat
Sempat Kaget, Danu menatap Bima dengan sorot mata tajam, terlihat bekas pukulan di pelipis, dan sudut bibirnya.
"Kenapa?"
Bima hanya menunduk, tak berani menjawab setiap pertanyaan Danu.
Ketiga pria itu berjalan memasuki rumahnya setelah pamit dengan pak Danang.
"Mukulin anak orang sampai giginya rontok yah"
Danu menghentikan langkahnya tepat di depan pintu, begitu juga Kennan dan Bima.
"Dia nggak berani pulang ke rumah, takut di marahin papi?"
"Sejak kapan anak Rio jadi preman?" seru Danu setelah mendengar penjelasan Kenan "Apa gunanya kamu mondok di pesantren?, itu telinga juga, sejak kapan Rio memiliki tiga anak perempuan?" Tambah Danu ketika melirik ke telingan kanan anak sahabatnya. Ia menyindir secara terang-terangan soal telinga Bima yang di pakaikan aksesoris. Reflek Bima mengusap daun telinganya dan melepas anting itu.
"Ini cuma magnet kok yah" Ia memperlihatkan antingnya pada Danu. Dan otomatis sepasang netra Danu pun melirik tangan Bima yang tengadah memperlihatkan dua benda kecil di atas telapak tangannya.
Sesaat setelah Bima menjawab, sapaan seorang wanita terdengar, membuat ketiga pria itu menoleh ke arahnya
"Bima?" Nina memanggil.
"Bunda" Bima segera meraih tangan Nina.
"Dari mana saja, kok tumben malam-malam kesini?"
"Dari kantor polisi bun" jawab Kennan santai
"Kantor polisi?" Nina menatap Kennan lalu Bima. "Itu kenapa mukanya biru-biru?"
"Anakmu loh, mukulin anak orang sampai masuk rumah sakit" Jelas Danu
"Masuk Ken, Zara sudah menunggu" Ucap Nina "Bima sudah makan belum?" tanyanya.
"Belum bun"
"Ayo makan dulu, bunda siapin" Nina menggamit lengan Bima, mengajaknya menuju meja makan.
Mereka bersama-sama memasuki rumahnya. Danu yang masuk paling akhir, menutup pintu dan menguncinya.
Kennan sudah mempersiapkan diri untuk menerima segala omelan Zara yang kemungkinan besar akan ia dapatkan.
__ADS_1
Saat membuka pintu, tampak Zara tengah berjalan kesana kemari dengan tangan terlipat di dadanya. Zara segera berbalik saat mendengar decitan sebuah pintu.
"Aku kira mas lupa alamat rumah mas sendiri" Sindir Zara, matanya kian tajam.
"Maaf, tadi mas sempat mampir ke apotek, pas mau pulang, mas dapat telfon dari kantor polisi"
"Kantor polisi?" seloroh Zara seraya melangkah mendekat "Ada masalah apa?" tanyanya membuat Kennan menerbitkan senyum tipis. Wajah yang tadinya menunjukan ekspresi kesal, kini berubah penasaran.
"Adikmu tuh, ketangkap polisi"
"Kanes?"
Kennan menggeleng
"Bima?"
Kali ini kepalanya reflek mengangguk.
"Kenapa?"
"Kamu tanya sendiri, anaknya lagi makan di bawah"
Zara segera meraih hijabnya yang teronggok di atas sofa, lalu segera keluar kamar dan menuruni anak tangga
"Pelan-pelan, siapa tahu ada dedek bayi di dalam perutmu" pesan Kennan cepat.
Beberapa saat setelah meletakan dompet dan juga kunci mobil di atas nakas, ia menyusul sang istri turun.
Benar kata Kennan, Bima sedang makan di temani bunda dan Ayah, ketika Zara sampai di ruang makan yang menyatu dengan dapur.
"Bima?"
Bima yang tengah mengunyah makannan, langsung menatap Zara dan segera mencium punggung tangannya.
"Jangan di tanya, adikmu sedang makan" sambar Nina, dia tahu pasti Zara akan memberondong pertanyaan pada adiknya.
Tidak ada yang di lakukan Kennan saat di dapur kecuali sibuk membelah durian yang ia beli.
Nina dan Zara termenung menunggu jawaban Bima.
"Salah paham yah"
"Salah paham bagaimana? cerita yang jelas" omelnya.
"ngindarin kandang kucing masuk ke kandang macan, setelah ayah, kamu pasti akan di makan habis sama mbakmu" ucap Kennan meledek, mulutnya terisi durian yang baru saja ia gigit.
"Kennan" pekik Nina, tangannya yang dari tadi sibuk mengompres luka lebam Bima, berhenti sejenak lalu kembali mengompres.
"Ayah tanya Bima"
"Tadinya Bima mau pulang yah" jawab Bima akhirnya "Terus Bima di ajak ketemuan sama Kayla"
"Kayla siapa?"
"Aduh sakit bun, pelan-pelan?"
"Ini bunda juga udah pelan" sahut Nina.
"Cewek yang suka sama Bima yah"
"Terus?" tanya Danu masih dengan raut muka menakutkan.
"Terus cowoknya tiba-tiba datang marah-marah dikiranya Bima pacaran sama si Kayla, dia mukul Bima, ya sudah Bima balas pukul"
"Jadi gara-gara rebutan cewek berantemnya?" sela Kennan.
Kennan yang sebenarnya tidak berani memarahi adik iparnya, hanya bisa menggoda, tak menampik dulu pun dia pernah terlibat perkelahian dengan temannya.
"Aku nggak suka sama dia mas, tadinya aku cuma mau bilang, buat berhenti ngejar-ngejar aku, eh tiba-tiba si cowok itu datang salah paham dan langsung main pukul"
__ADS_1
"Ceweknya udah punya pacar, kenapa ngejar-ngejar kamu"
"Si Kayla udah mutusin cowoknya, tapi pas aku ketemuan sama Kayla, si cowok ngiranya aku yang udah buat Kayla mutusin dia
"Oh" sahut Kennan
"Tapi nggak harus mukul sampai masuk rumah sakit kan dek" ujar Zara. "Sampai ketangkap polisi juga"
"Mereka satu pondok sama kamu?"
"Si Kayla aja mas, dia tinggal di pesantren putri, kalau cowoknya kayanya udah kuliah"
Mereka mengobrol sembari menikmati durian.
"Terus bagaimana kondisi si cowok yang kamu pukul?" tanya Danu mengintimidasi
"Di rumah sakit yah"
Danu menggelengkan kepala.
"Sudah-sudah, biarkan Bima istirahat" Potong Nina cepat "Kalau malam-malam demam langsung panggil bunda ya Bima?"
"Iya bun"
"Sekarang ayo bunda antar ke kamar"
"mbak Ayu nggak kelihatan bun?"
"Mbak Ayu nginep di rumah mami"
******
Di dalam kamar, Zara masih enggan menyapa Kennan, bukan karena pulang terlambat, melainkan masih kesal karena diam-diam melihat foto dan video milik Frea.
"Dek, tadi mas beli ini, besok pagi urinnya di cek ya" ucap Kennan sambil menunjukan benda tipis di tangan kanannya.
Zara hanya menatapnya sekilas, lalu kembali fokus mengoleskan cream di wajahnya.
"Kamu masih marah ya dek"
Tanpa sepatah kata, Zara bangkit dari duduknya dan memutar tubuhnya menghadap Kennan.
Mas pikir aku marah karena mas kelamaan cari durian?"
Laki-laki itu menganggukan kepala.
"Bagaimana pendapat mas setelah melihat tubuh polos Frea?" Tanya Zara, terus melangkah, membuat Kennan melangkah mundur, hingga mentok menabrak tepian ranjang, seketika Kennan terjatuh, tangan Zara reflek mendorong dadanya hingga terjerembab di atas kasur, dan Zara, memposisikan tubuhnya di atas.
"Mas mau tunjukin ke ayah dek"
"Kenapa nggak ijin sama aku?"
"Waktu itu kamu nggak ada di mejamu, jadi mas ambil aja ponselmu"
Sepersekian detik, Zara langsung meraup bibir Kennan lalu mencumbuinya.
Kedua alis Kennan sempat terangkat melihat sikap Zara yang mendadak agresif.
"Ini bawaan hamil apa aslinya memang agresif?" tanya Kennan sesaat setelah mengurai tautan bibir mereka.
Alih-alih menjawab, Zara justru mengecup bibirnya sekali lagi, hingga turun ke leher, tanganya sibuk menggerayangi tubuh Kennan, membuat sesuatu di bawah sana menegang. Seketika Zara menghentikan aktivitasnya, lalu bangkit dan berbaring menarik selimut.
"Kok berhenti si dek?"
"Udah malam mas"
"Tapi ini tuntasin dulu, udah mupeng ini"
"Bersambung dulu"
__ADS_1
"Nggak bisa dong sayang" jawab Kennan seraya menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Zara.
Bersambung