
Sudah satu minggu berlalu, Zara masih belum bangun dari komanya. Polisi telah menyelidiki bahwa mobil Zara memang sengaja di sabotase, namun hingga kini belum di ketahui siapa yang melakukan itu, sebab di jam saat orang itu melancarkan aksinya, seluruh CCTV mati total.
Widia yang tingkat kecerdasannya di atas rata-rata, dia benar-benar merencanakan begitu apik, dan tanpa cela.
Kennan sudah bisa menebak jika yang melakukan itu adalah Widia, namun dia tidak memiliki bukti untuk menudingkan jari ke arahnya. Selain itu, sikap Widia terhadap Zarapun seolah prihatin dengan musibah yang menimpanya, terbukti Widia selalu mendoakan Zara jika berkunjung ke rumah sakit, membuat Irma dan Nina berualang kali mengucapkan terimakasih.
Widia juga sempat berbincang dengan Nina saat di kantin rumah sakit, ia mengatakan bahwa dirinya ingin sekali hijrah dan menutup aurat, sikap baiknya itu, membuat Nina dan Irma tak pernah mencurigainya.
Ia juga memiliki rencana untuk melepaskan sambungan alat-alat kesehatan yang melekat di tubuh Zara, namun kesempatan itu benar-benar tidak pernah ia dapatkan. Karena dimana ada Widia di kamar Zara, Kennan pun berada di sana.
Dia tak akan memberi kesempatan pada Widia untuk berdua saja dengan Zara barang sejenak. Padahal sering sekali Widia menawarkan diri untuk menggantikannya menjaga Zara.
"Assalamualaikum Za" Suara parau Kennan tepat di telinga kiri Zara. "Kamu sudah satu minggu nggak mandi loh, bangun dong, mas kangen Za"
"Kamu tahu Za, aku lebih mencintaimu dari pada anakku. Kamu juga harus lebih mencintaiku dari pada anakmu. Ikhlaskan anak kita yang sudah pergi Za, itu akan menjadi asset kita di akherat nanti"
Setiap hari, selama seminggu ini, Kennan selalu berbicara sendiri. Meskipun tak ada respon apapun, Kennan yakin Zara bisa mendengar dan merasakannya. Dia berharap Zara bisa segera bangun dari tidurnya.
Selain mengajaknya ngobrol, Kennan juga selalu mencubit lembut, punggung tangannya, lengannya, atau kakinya.
"Mas yakin, anak kita pasti tidak pernah mengijinkanmu untuk ikut dengannya, dia tidak akan membiarkan ayahnya bersedih Za, jadi ayolah bangun, biarkan anakmu pergi sendiri, kamu tidak perlu menemaninya, dia anak sholeh yang pemberani Za, kamu harus tahu itu"
"Assalamu'alaikum" Suara dari balik pintu.
"Wa'alaikumsalam" Jawab Kennan bersamaan dengan kepala yang ia tolehkan ke arah pintu.
"Ibu" Kennan berdiri lalu menghampirinya dan segera meraih punggung tangannya. Ia memeluk sang ibu yang sudah jauh-jauh datang dari Thailand.
"Apa belum ada perubahan pada Zara?" tanyannya setelah mengurai pelukannya.
"Belum bu"
Sinta langsung menghampiri Zara dan mencium keningnya sedikit lebih lama.
"Nak, maaf ibu baru bisa datang mengunjungimu"
Hening, Sinta menjeda ucapannya sejenak. "Ada apa dengan putri ibu, kenapa tidur begitu lama?, lanjutnya lalu mengecup tangan Zara. "Bahkan kita belum pernah jalan-jalan berdua, Bangun yuk, ibu pengin ngajakin kamu keliling Thailand, kita shoping, kita liburan, kita bersenang-senang sama-sama"
"Ibu nggak akan mau balik ke Thailand sebelum melihatmu membuka mata, jadi ayolah buka matamu! anak baik harus nurut sama orang tua,
Mendengar ungkapan Sinta, Kennan tak mampu lagi menahan air matanya, ia keluar meninggalkan Sinta di kamar Zara membiarkannya melepaskan rindu pada anak angkatnya.
Sesaat setelah kepergian Kennan yang akan mencari angin segar sembari merokok, Widia datang dengam penampilan barunya.
Gamis longgar dan jilbab yang menutupi kepalanya.
Setelah mengucap salam, Widia langsung memasuki ruangannya, dia sedikit terkejut karena bukan Kennan yang ada di kamar Zara.
__ADS_1
"Maaf kamu siapa?" tanya Widia seraya berjalan mendekat ke arah brankar.
"Saya ibunya" jawab Sinta sambil megusap pipinya yang basah.
Mendengar ucapan Sinta, Otak Widia di buat berfikir keras. "Ibunya?" ibu yang mana, bukannya Irma itu ibu kandungnya?"
"Maaf kamu sendiri siapa?" tanya Sinta sedikit curiga. Dan pertanyaannya, membuat Widia gugup karena ia tengah melamun.
"Saya temannya bu"
"Oh" sahut Sinta singkat.
Tak banyak bertanya tentang Sinta, Widia memilih menanyakan keadaan Zara.
"Apa ada perkembangan pada Zara bu?" tanya Widia menyelidik.
Sinta menggelengkan kepala pelan. Dan gelengan kepala itu membuat Widia bersorak dalam hatinya.
"Ngomong-ngomong Kennan kemana bu?"
"Tadi dia keluar"
"Za, ayolah bangun, aku kangen kerja bareng kamu" kata Widia berpura-pura sedih. "Kamu dapat salam juga dari Ika, dia tadi ingin ikut, tapi berhubung ada meeting mendadak, jadi dia hanya nitip salam buatmu" dusta Widia bermaksud menarik simpati Sinta.
Sinta yang notabennya seorang mantan napi, dia bahkan faham mana orang yang licik, mana orang yang jahat, dan mana orang yang bermuka lebih dari satu. Seperti Widia yang hanya berpura-pura simpati. Hanya dengan melihat wajahnya saja, Sinta sudah bisa mencurigai gerak-gerik Widia yang terkesan aneh dan janggal.
"Kamu teman sekantornya?" tanya Sinta berpura-pura ramah.
"Kalau kamu temannya, pasti Kamu tahu kenapa Zara bisa celaka?, bisa kamu menceritakan pada saya, karena saya baru saja datang dari Thailand, saya belum sempat bertanya pada Kennan dan juga Irma. Jadi_" Sinta menggantung ucapannya, sembari mengangkat satu alisnya karena melihat perubahan wajah Widia yang memerah karena gugup.
"Jadi apa bu?" tanya Widia berusaha tenang.
"Jadi bisakah kamu menceritakannya untukku?"
Sebelum berbicara, Widia berusaha menormalkan ekspresinya. "Saya juga kurang tahu bu, yang saya dengar, Zara berkunjung ke kantor, dan pulangnya dia mengalami kecelakaan"
"Berati, mobil Zara yang di sabotase oleh orang lain, kemungkinan dari salah satu orang yang berada di kantor itu, iya nggak?"
Widia semakin gugup mendengar perkataan Sinta, dengan susah payah ia menelan salivanya sendiri.
Padahal disini Sinta hanya berpura-pura seolah memang belum mengetahui kenapa Zara bisa mengalami kecelakaan, sebelumnya, Ninalah yang sudah menjelaskan pada Sinta melalui sambungan telfon, saat itu sehari setelah kecelakaan Zara. Termasuk menjelaskan tentang CCTV yang tiba-tiba tidak berfungsi pada hari itu.
Hingga beberpa menit berlalu, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.
"Widia" sapa Kennan sambil menutup kembali pintu itu menggunakan tangan kanannya.
Sinta dan Widia kompak memindai pandangan pada wajah Kennan
__ADS_1
"Sudah lama" tanya Kennan heran, karena ini pertama kalinya dia melihat Widia dengan aurat yang tertutup.
"Luman Ken" jawabnya.
"Belum ada kemajuan ya Ken?"
"Kamu lihat sendiri, dia masih tidur, mungkin dia masih lelah dengan semua permasalahan yang selama ini dia hadapi" jawab Kennan lesu.
"Kamu sabar ya Ken, kita sama-sama berdoa supaya Zara cepat sadar"
"Terimakasih Wid"
Widia mengangguk lalu berpamitan.
"Kalau begitu, aku permisi dulu Ken"
****
"Bu" panggil Kennan. "Dia sudah lama disini?"
"Ya itu setelah kamu pergi, dia datang"
"Ibu nggak ninggalin Zara berdua dengannya kan?"
"Tidak Ken kenapa?"
"Tidak apa-apa bu"
Hening, selama beberapa menit, Kennan sudah ambil posisi duduk di samping pembaringan sebelah kanan.
"Kamu harus hati-hati sama dia Ken?"
Mengernyitkan kening, Kennan menatap Sinta lekat-lekat.
"Kenapa bu?"
"Bukannya ibu berprasangka buruk pada teman Zara itu, tapi ada baiknya, kamu hati-hati sama Widia, ibu lihat ada yang aneh dengannya"
"Lebih tepatnya musuh dalam selimut bu?"
Kini ganti Sinta yang mengerutkan dahinya. "Maksud kamu Ken?"
"Dia sebenarnya tidak baik seperti covernya bu, Zara tahu perbuatan buruknya selama ini pada kami"
"Bukan maksud ibu menuduh atau suuzon ya Ken, tapi ibu merasa kalau dia dalang di balik kecelakaan itu"
Alis Kennan menukik tajam saat mendengar ucapan Sinta, ia langsung menatap Sinta penuh selidik. "Ken juga berfikir seperti itu bu, tapi Ken tidak punya bukti"
__ADS_1
Usai mengatakan itu, mereka saling diam. Yang mereka lakukan hanya memusatkan pandangan pada wajah Zara yang tampak pucat dan sedikit tirus.
Bersambung