
Duduk di meja kerja kamarnya, tatapan Zara tertuju pada komputer yang menyala terang, fokusnya bukan pada tulisan di balik layar, melainkan ucapan Kennan saat di telfon.
"Kenapa mbak Widia bilang pengunjung cafe, padahal jelas dia tahu yang ngomong adalah pelayan dari cafe itu termasuk kasirnya"
Disini Zara menyadari ada kejanggalan dari sikap Widia.
"Kenapa mbak Widia bohong sama mas Ken?"
"Apa ini ada hubungannya dengan dia?"
Zara mengusap wajahnya gusar, sambil menarik nafas panjang, dia memutuskan untuk kembali konsentrasi pada laporan terkait kerjasama yang di kirim Kennan melalui fax beberapa saat lalu. Selain itu, ia juga berusaha menjernihkan pikiran supaya berhenti mengingat Widia dengan segala tingkahnya yang tidak bisa di terima dengan akal sehatnya.
"Positive thingking saja Za" bujuknya dalam hati, namun otaknya selalu menolak untuk berprasangka baik pada sosok wanita yang mendadak mengisi pikirannya.
"Assalamu'alaikum" sapa Kennan setelah membuka pintu kamarnya.
"Walaikumsalam" jawaban Zara bersamaan dengan wajahnya yang ia alihkan pada arah pintu. "Loh mas sudah pulang?" lanjutnya sambil melirik jam yang menggantung di dinding.
"Kamu ada cek dokter hari ini kan, jadi mas memajukan jadwal pulang cepat. Lagian nggak banyak pekerjaan yang harus mas handle, cuma memeriksa beberapa dokumen mengenai rencana kerja sama yang baru" Kennan mengatakannya sembari melepas pakaian kantor yang melekat di tubuhnya, lalu mengganti dengan kostum yang lebih santai.
"Emang hari ini ya?" tanya Zara dengan polosnya.
"Makannya jangan banyak pikiran" ucap Kennan kali ini sambil melangkah menuju kamar mandi. "Jadi pelupa kan"
"Aku memang lagi banyak pikiran mas"
Kennan yang tengah mencuci muka, ia buru-buru membilas busa di wajahnya.
"Apalagi yang kamu pikirkan?" tanyanya sambil mengeringkan mukanya dengan handuk kecil.
"Nanti saja setelah kita ke dokter"
"Tapi mas nggak mau bahas sesuatu yang menyakiti kamu loh dek"
"Tidak" ujar Zara begitu ia menengok wajah suami lengkap dengan seulas senyum, lalu menutup pintu kamar mandi untuk sekedar cuci muka.
Setibanya di rumah sakit, Zara dan Kennan menuju ruang dokter yang sebelumnya sudah membuat janji dengan dokter kandungan.
"Mas aku kok lapar" katanya sambil terus melangkah melewati koridor rumah sakit.
Kennan menolehkan wajah ke samping kiri menatap wajah Zara sekilas. "Mas antar sampai kedepan ruangan dokter Rahma, nanti kamu antri, mas ke kantin sebentar" lanjutnya "Kamu mau makan apa?"
"Susu segar sama roti gimana, buat ganjal perut saja si, lagian pasti antrinya nggak akan lama kan"
__ADS_1
"Ok"
Hingga beberapa menit berlalu, mereka berdua sampai di tujuan. Setelah Zara duduk, Kennan bergegas setengah berlari menuju kantin rumah sakit untuk membeli pesanan Zara.
Sepeninggal Kennan, entah dari mana datanganya wanita paruh baya ini, tahu-tahu sudah berdiri di hadapan Zara.
Zara yang tengah duduk, dan berselancar di dunia maya melalui ponsel pintarnya, seketika mendongakkan kepala untuk mencari tahu siapa pemilik pemakai heels setinggi lima senti di depannya.
Menelan saliva, Zara mengerjap beberapa kali lalu berdiri menyamakan level mata, sembari menormalkan ekspresinya.
"Ibu"
"Ku kira bukan kamu" ucap wanita itu dengan tatapan sinis, wajahnya memerah menyiratkan kebencian pada lawan bicaranya. "terimakasih secara tidak langsung sudah ikut berperan dalam membunuh putriku"
Mendapat pertanyaan yang mendadak dan di luar dugaan, Zara sempat terdiam sejenak. sebelum kemudian bersuara.
"Kalau memang aku terlibat dalam membunuh putri ibu, kenapa tidak melaporkanku ke polisi?" sahut Zara berusaha menjaga intonasi serendah mungkin, mengingat ini di tempat umum.
Sempat bungkam beberapa saat, mamah Frea kembali berbicara, "Karena ka__"
"Padahal jelas sekali bahwa itu adalah kesalahannya sendiri yang telah mengacaukan hidupku dan suamiku lebih dulu" Sahut Zara memotong kalimat mama Frea dengan keberanian yang entah darimana datangnya. "Aku yakin ibu tahu persis tentang kelakuan putri ibu sendiri"
Hanya tatapan sarat akan kebencian yang di tunjukan di raut wajah wanita di depan Zara.
"Kalau ibu pikir aku dan suamiku merasa bersalah dengan kematian putri ibu, ibu keliru" Zara mengatakannya dengan sorot mata tak teralihkan. "Bahkan seujung kukupun aku dan suamiku tidak pernah merasa bersalah"
"Kamu yakin dengan ucapanmu?" tanyanya dengan senyum sinisnya.
Usai mengatakan itu, mama Frea sempat menatap Zara dengan tatapan marah, lalu berbalik dan melangkah pergi meninggalkannya yang masih berdiri mematung.
Sedari tadi, Kennan berdiri tak jauh dari dua wanita beda generasi yang tengah terlibat perbincangan sengit.
"Dek" panggil Kennan saat Zara mendudukan dirinya pada kursi dengan tatapan kosong.
Menelan saliva, sebelum kemudian menatap wajah Kennan.
"Kamu hebat" puji Kennan seraya menyunggingkan senyum, tangannya bergerak mengusap punggung Zara sekilas, lalu beralih menggenggam tangannya.
"Aku nggak tahu kenapa bisa berbicara seperti itu" Menarik napas panjang, kemudian mengeluarkannya secara perlahan.
"Jangan bahas itu sekarang sayang. Dokternya belum manggil?"
Zara menggeleng.
__ADS_1
"Ini kamu minun dulu" Perintah Kennan seraya menyerahkan satu kotak fresh milk pada sang istri.
Zara menerimanya lalu menyesapnya perlahan, tanpa lepas dari pandangan Kennan.
Zara yang mendapat tatapan itu mendadak salah tingkah, apalagi tatapannya lengkap dengan senyuman termanis dari bibir Kennan.
"Kenapa liatin aku kayak gitu?" tanya Zara, ia melirik sekilas ke arah Kennan. "Mas pasti mikir aku habis kesurupan kan?"
Kennan menggeleng. Lalu sunyi, hanya suara lalu lalang di sekitar mereka, sedangkan Kennan masih terus menatap Zara, dengan fokus yang kian menajam.
"Mas mau?"
Kennan mengangguk.
"Bilang dari tadi kalau mau" kata Zara sambil mengarahkan sedotan pada mulut Kennan.
Kennan menyambutnya dengan sekali sesapan.
"Kok manis, ini susu segar kan? tanyanya melirik kotak susu bertuliskan Fres Milk. Lalu menyesapnya sekali lagi, dengan sorot mata jatuh tepat di manik hitam Zara.
Masa si mas, ini no kalori loh" tadi aku minum sama sekali nggak manis"
"Beneran sayang manis banget"
Karena penasaran, Zara kembali menyesap sedotan itu untuk memastikan.
"Mana ada manis, tawar gini kok" ucap Zara dengan tatapan lekat tertuju ke arah suaminya, dan Kennan tengah menahan senyum dengan sorot geli.
"Mas ngerjain aku ya?" Zara mendengar suara Kennan yang mendengkus geli, sementara matanya menyipit karena senyum di bibirnya semakin lebar.
"Memangnya ada yang lucu?" tanya Zara galak.
Kennan menggelengkan kepala, tapi senyum di bibirnya tak kunjung memudar.
"Ibu Kennan" Panggil suster dari ambang pintu, menyela obrolan mereka.
"Loh kok aku di panggil ibu sayang?"
Tanpa menjawab pertanyaan Kennan, Zara berdiri lalu melangkah meninggalkan Kennan yang masih bertahan duduk dengan raut bingung.
"Silakan masuk" lanjut si suster setelah Melihat sosok ibu Kennan yang ia panggil.
Dengan cepat Kennan mengikuti langkah Zara memasuki ruang pemeriksaan.
__ADS_1