
Melajukan mobilnya perlahan, Zara keluar dari area kantor hendak menuju lokasi tempat dia janjian dengan temannya. Dari lantai delapan, senyum sinis tersungging di bibir wanita yang hanya berpura-pura baik di depan Kennan dan keluarga.
"Maafkan aku Za, aku mencintai suamimu, bahkan sejak kita sama-sama kuliah dulu. Jika kamu tidak selamat, aku pasti akan mendoakanmu, aku akan bertaubat demi mendapatkan hati suamimu. Maaf" gumamnya. Ada raut sedih, tapi di hatinya berharap Zara tidak akan selamat dalam kecelakaan itu.
Zara melajukan mobilnya dengan sangat pelan, ia belum menyadari bahwa remnya tidak berfungsi dengan baik.
Saat trafic light menyala merah, ia berusaha keras menginjak rem, namun tak bisa, membuat Zara kian panik. Tak bisa di hindari lagi Zarapun menerobos lampu lalu lintas begitu saja.
Sementara dari arah samping, sebuah mobil honda Civic melaju dengan kecepatan sedang, berhasil membanting setir ke arah kiri menyebabkan mobil itu menabrak tiang trafic light. Jika sang pengemudi tidak membanting setirnya, sudah pasti honda Civic itu akan menabrak mobil Zara, yang tengah melaju di depannya.
Hal yang sama pun di lakukan oleh Zara, ia membating setir ke kiri dan menabrakan mobilnya pada pohon di pinggir jalan. Nahas, kecelakaan dua mobil pun terjadi di area lampu lalu lintas.
Kedua mobil itu langsung di kerumuni oleh orang-orang yang kebetulan berada di tempat kejadian. Mereka segera memberikan pertolongan pada kedua mobil yang mengalami kecelakaan.
Menurut informasi, penumpang di mobil honda Civic yang berjumlah tiga orang semua selamat dan hanya mengalami luka ringan.
Sedangkan Zara, ia tak sadarkan diri dan langsung di bawa ke rumah sakit untuk di beri pertolongan pertama. Dari salah satu bagian tubuh Zara, darah terus mengalir bercampur dengan air yang sedikit keruh.
Di tempat lain, Irma yang tengah duduk sembari menonton TV, di buat terkejut saat tiba-tiba mendengar suara dari arah dapur. Ketika di lihat, ternyata mug kesayangan milik Zara terjatuh, namun hanya rompes sedikit, padahal jika di cerna dengan akal sehat, jika sebuah gelas berbahan beling jatuh, otomatis akan pecah sempuna.
"Kok bisa jatuh" gumam Irma, sembari memungut mug itu lalu menelitinya. "Kok bisa nggak pecah ya?"
Mendesah pelan, Irma kembali menyimpan gelas itu di dalam lemari dapur.
Sedangkan Kennan, ia berlari panik melewati koridor rumah sakit, dengan nafas tersengal dan keringat membasahi tubuhnya, ia mencari ruang IGD sesuai dengan arahan petugas resepsionis.
Ketika sampai di depan ruang IGD, salah satu dokter membuka pintu dengan raut panik.
"Dok, bagaimana kondisi istri saya" tanya Kennan dengan nafas memburu.
"Maaf pak, anda bisa menunggu untuk beberapa menit, kami sedang memberikan pertolongan kepada korban"
Usai mengatakan itu, sang dokter dengan tergopoh berlari entah hendak menuju kemana, namun di menit berikutnya, dokter itu kembali dengan beberapa dokter lainnya yang ikut berlari memasuki ruang IGD.
Hal itu membuat Kennan bungkam dengan sorot mata kosong, lidahnya begitu kelu, berkali-kali ia menelan ludahnya berharap sang istri dan bayinya akan baik-baik saja.
__ADS_1
"Tolong Za, beri mas kabar baik" batinnya di iringi dengan buliran bening yang meluncur tanpa permisi.
"Mas, bagaimana Zara, tanya Rio dan juga Danu nyaris bersamaan"
Alih-alih menjawab, Kennan justru memeluk sang ayah seperti anak kecil, menangis tersedu di pundak Danu, sedangkan Rio, ia terduduk lemas, dengan pandangan kosong menatap pintu IGD.
"Anak baik, anak cantik, anak sholehah, baik-baik ya nak" batin Rio dengan deraian air mata mengalir deras. "Papi akan marah kalau embak jadi anak nakal, Embak nggak mau jadi anak nakal kan?, berjuanglah demi papi sama mami, adik-adikmu pasti juga akan marah kalau embak nggak mau berjuang"
Kennan yang masih berada di pelukan Danu, tiba-tiba jatuh pingsan, membuat Danu sepersekian detik berteriak kencang.
Danu pun meminta bantuan pada suster yang kebetulan sedang melewatinya. Sementara Rio, dia hanya diam melihat Kennan tak sadarkan diri, dia sendiri merasa ingin memejamkan mata, seolah tak mampu lagi menopang tubuhnya.
"Mas Rio" panggil Sandra adik dari Danu.
Rio hanya menatap sekilas, lalu kembali menunduk.
"Mbak Irma sama mbak Nina sudah tahu?"
Rio menggeleng.
"Kita tunggu dokter keluar mas, setelah itu aku akan bantu hubungi mbak Nina dan mbak Irma"
Hampir satu jam Rio terduduk, menunggu sang dokter keluar dari IGD, berharap paramedis membawakan kabar baik untuknya.
"San, tolong temani Kennan, dia belum sadarkan diri" ucap Danu saat dia menghampiri Sandra yang sedang menemani Rio menunggu di depan IGD. "Tadi kata dokter sudah di suntik obat penenang. Mas akan menemani Rio di sini"
"Baik mas" sahut Sandra seraya berdiri.
Danu menghampiri Rio lalu sedikit memberikan tepukan dan usapan di pundaknya.
Tak berapa lama kemudian, para dokter keluar dari ruang IGD, membuat Danu segera mendekat ke arahnya.
"Bagaimana putri saya dok" tanya Danu, karena Rio masih bertahan di posisinya, sepertinya dia memang tidak mampu lagi hanya untuk sekedar berdiri.
"Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan bayinya"
__ADS_1
Ucapan dokter membuat Danu reflek melafazkan bacaan istiraj.
"Innalillahiwainnaillaihiroji'un" ucapnya sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya.
"Sedangkan pasien, saat ini dalam kondisi kritis, karena kehilangan banyak darah, perutnya yang sempat terbentur roda kemudi, membuatnya pendarahan hingga harus kehilangan calon bayinya, kita berdoa semoga pasien bisa melalui masa kritisnya" lanjut sang dokter, lalu pergi meninggalkan Danu.
Sesaat setelah kepergian dokter, salah satu suster membuka pintu IGD.
"Keluarga mbak Zara Ayunda"
"Iya sust, saya ayahnya" jawab Danu dengan suara parau.
"Pasien akan kami pindahkan ke ruang perawatan" mohon ikut saya untuk mengisi beberapa data.
"Ri, kamu tunggu di sini, aku akan mengurus administrasi"
Tak merespon ucapan Danu, sebab Rio sedang mengingat masa-masa kecil Zara, dimana saat kecil, dia lebih sering bersama Danu dan Nina.
"Pi" panggil Kennan lalu duduk di samping Rio
Rio yang sedari tadi menahan kesedihannya, kini ia luapkan ketika Kennan memeluk tubuh Rio dari samping.
"Nangis saja pi jangan di tahan" pesan Kennan.
Dan Rio seketika terisak di bahu menantunya.
"Enggak apa-apa pi, nangis aja"
"Bagaimana papi ngomong sama mami Ken" ujarnya terisak.
"Mami pasti kuat, kalau papi juga kuat, kita berdoa semoga Zara bisa melewati masa kritisnya ya pi"
"Tapi anakmu Ken?"
"Kennan insya Allah sudah ikhlas pi, sekarang yang terpenting adalah Zara. Kita harus kuat untuk Zara"
__ADS_1
Zara sudah di pindahkan di ruang perawatan. Saat Irma di beritahu, tentang kabar Zara, Irma shock, namun dalam hatinya ia yakin bahwa Zara akan baik-baik saja, ia ingat pada mug milik Zara yang jatuh dan hanya rompes sedikit, mungkin itu adalah sebuah pertanda, kalau Zara akan selamat, meskipun calon anaknya tidak bisa di selamatkan.
Bersambung