
Zara berdiri di depan cermin, ia sedang memperhatikan penampilannya dengan memakai daster yang baru saja ia beli tadi setelah memeriksakan kandungan.
"Bagus sayang" puji Kennan tulus "Kamu cantik pake baju itu, lucu juga. Jadi gampang juga buka garasinya" Celetuknya, dengan senyum miring, dan langsung mendapat delikan mata dari Zara.
"Ngomong-ngomong garasi apa?" tanya Zara memicing.
"Itu pintu garasinya tinggal di tarik ke atas" sahut Kennan seraya menarik ujung daster hingga ke atas, lalu berlenggang menuju tempat tidur.
Tak menghiraukan candaan Kennan, Zara terus mematut bayangan dirinya lewat pantulan cermin.
"Mau miring, mau puter-puter, mau dari arah depan belakang, tetep cantik sayang, bagus cocok di kamu"
"Bagus apaan, mirip emak-emak gini kok" kata Zara sambil mencebik.
"Nggak nyadar bentar lagi mau jadi emak?"
Zara merespon dengan senyuman memamerkan giginya.
"Ya udah sini, kita kan mau bicara" Kennan menepuk tempat kosong di sebelahnya.
"Tadi kenapa bisa seberani itu ngadepin mamanya Almarhumah Frea?" tanya Kennan setelah Zara duduk dengan posisi bersandar di kepala ranjang.
"Aku juga nggak tahu mas, reflek aja. Asal mas tahu, aku juga gemetar tadi, dadaku bertalu-talu, dan nafasku berasa tercekat"
"Masa si?"
"Iya"
"Terus katamu kita akan membicarakan sesuatu setelah dari dokter" ucap Kennan sambil bergerak duduk bersila mengahadap Zara "Mau bicara apa?"
"Mmm,,, mas" Panggilnya ragu "tadi siang di telpon mas bilang kalau kata mbak Widia pengunjung cafenya yang memojokanku"
"Ya terus"
"Sebenarnya,," Zara menggantung ucapannya, lalu seketika bibirnya terkatup rapat, matanya bergerak mengikuti bola mata Kennan yang seolah menunggu ucapan Zara. "Sebenarnya bukan pengunjung cafe yang bilang gitu ke aku"
Mengangkat satu alis, Kennan berusaha mencerna ucapan Zara "Terus?" tanyanya masih dengan raut bingung sekaligus penasaran.
"Yang bully aku tuh pelayan cafenya, bukan pengunjungnya"
Terdengar helaan napas berat dari mulut Kennan. "Maksud kamu, Widia sudah bohong begitu"
"Iya mas, tapi aku masih bingung kenapa dia bohong ke mas"
"Kalau begitu besok mas mau ke cafe itu"
"Mas mau ngapain ke situ?"
"Memangnya mau apa lagi?" tanya Kennan dengan penuh intimidasi "Mas mau negur menejernya, kenapa seorang pelayan harus mencemooh pengunjung cafenya. Sudah jelas nggak bener kan?"
__ADS_1
"Jangan mas, kasihan nanti si pelayan itu"
"Mas lebih kasihan ke kamu dek, kamu itu terdzolimi tapi diam saja, harusnya kamu lawan jangan lemah"
"Aku nggak bisa mas, apalagi kalau harus ribut-ribut, di tempat umum lagi"
"Jadi istri mas itu harus pemberani, kayak tadi pas ngelawan si mamanya Frea"
"Sudah di bilangin itu reflek mas, di luar kendaliku"
"Tapi itu bagus" jawab Kennan sambil memainkan jari jemari Zara. "Pokoknya mas besok mau nemuin si menejer cafe itu buat negur pegawainya, supaya lebih menghargai dan menghormati pengunjungnya"
"Tapi jangan meminta untuk memecat mereka, kasihan nanti, mereka kan lagi cari uang"
"Enggak sayang, urusan pecat memecat, biar menejernya yang tentukan, yang jelas mas pengin tahu alasan kenapa mereka berbuat seperti itu"
"Tapi aku punya filing kalau mbak Widia yang sudah menyuruh mereka, soalnya mbak Widia juga sempat pergi ke toilet lumayan lama"
Kennan tekejut dengan kejujuran Zara, rahangnya mengeras, bibirnya mengatup rapat, matanya tak lepas dari manik hitam milik Zara.
"Kalau saja Widia dalang di balik itu semua, mas nggak akan tinggal diam"
"Terus mas mau apa ke mbak Widia?"
"Berhentiin kerja lah"
"Kayaknya nggak semudah itu mas, mengingat dia anak dari pemilik rumah sakit terbesar di kota ini"
"Kalau boleh kasih saran, pindahin saja ke devisi lain mas, jangan di pecat, takutnya dia dendam sama kita"
Kennan seperti menimbang-nimbang saran dari sang istri.
"Dia main secara halus, kita juga harus halus tanpa menyakiti"
"Tapi kan dia udah mengusik hatimu dek"
"Tapi itu belum tentu benar kan, itu baru dugaan kita mas, mas belum konfirmasi loh sama pelayan di cafe itu"
"Tapi kalau dugaan kita benar, kamu tetap ingin mempertahankannya?" dia pernah suka loh sama mas dek" ujar Kennan seraya menegakkan posisi duduknya.
"Maka itu kita lebih baik pindahin dia di cabang lain mas"
"Itu kita pikirkan nanti saja, yang penting besok mas harus konfirmasi dulu ke cafenya.
******
Pagi hari saat Kennan bangun, sudah tidak ada Zara di sampingnya, dia sudah tahu pasti sang istri sedang membantu bunda bikin sarapan.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, di pagi ini Kennan pun masih merasakan mual. Berasa ingin muntah, tapi tidak bisa memuntahkan isi perutnya.
__ADS_1
"Dia yang hamil, aku yang alami morning sickness, jangan-jangan nanti dia yang ngelahirin aku yang kesakitan"
"Ngomong apa?" tanya seseorang di balik punggunya. Kennan menemukan wajah Zara di balik pantulan cermin.
"Nggak ngomong apa-apa" jawab Kennan sambil menuangkan isi shaving gel, lalu mengolesnya di salah satu bagian wajah. "Udah selesai masaknya emang?"
"Udah" sahut Zara lalu melangkah menuju lemari, meyiapkan setelah kantor untuk Kennan. Terdengar suara pintu kamar mandi di tutup, tidak lama kemudian, menyusul suara guyuran air dari shower.
Sembari menunggu Kennan selesai mandi, Zara meraih ponsel di atas tempat tidur. Dahinya sempat mengerut saat mendapati satu pesan masuk dari Widia.
Widia : "Za, kamu nggak cerita ke Kennan, siapa yang mojokin kamu saat di cafe kemarin?" (05:50 Wib).
^^^"Enggak mbak, aku sengaja nggak bahas itu, kenapa mba?"^^^
Widia : "Nggak apa-apa Za" (06:45 Wib)
Sedikit menekan bibirnya ke dalam, Zara semakin yakin, kalau pelayan cafe itu ada hubungannya dengan Widia.
"Jika iya, kenapa mbak Widia melakukan itu, apa dia sengaja mempermainkan mentalku, karena sebenarnya dia masih mencintai mas Ken?"
Kedua bahu Zara bergidik ngeri, membayangkan betapa banyaknya wanita melakukan hal gila hanya demi cinta.
"Ada apa dek?" tanya Kennan sesaat setelah membuka pintu kamar mandi.
Tanpa mengatakan apapun, Zara memperlihatkan pesan dari Widia pada suaminya.
Semetara itu, Kennan menggelengkan kepala setelah membaca pesannya.
"Cinta memang mampu mengalahkan logika" gumam Zara lalu membantu Kennan memakaikan kemeja.
"Jangan-jangan memang sengaja mbak Widia bilang kematian Frea waktu itu"
"Mas bilang juga apa"
"Aku kira dia baik, ternyata cuma pura-pura" Gerutu Zara di depan Kennan, membuat Kennan mengulas senyum.
"Makannya jadi orang jangan terlalu baik, jangan terlalu polos, di bohongin kan jadinya"
"Awas aja kalau emang mbak Widia terlibat drama waktu di cafe"
"Mau di apain?" tanya Kennan sambil mengangkat satu alisnya.
"Langsung aku pindahin ke devisi lain"
"Lucu kamu dek kalau lagi menggerutu gini"
"Apanya yang lucu, lagi kesel juga"
NB : Yang mau left dari novel-novel yang sudah ku buat, atau sedang on going, left saja tanpa harus menulis di kolom komentar ya...
__ADS_1
Susah tau nggak si menyusun kata menjadi kalimat dan menjadi sebuah cerita.
Semoga nggak ada pembaca yang aku blok lagi