
"Dan segala sesuatu, Kami Ciptakan Berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah,” (QS Az-Zariyat: 49).
Kennan dan Zara sudah berdiri di pelaminan sebagai pasangan suami istri, Para tamu undangan di persilahkan naik untuk menyalami sang pengantin, sekaligus memberikan ucapan selamat.
Lagi-lagi sesi ini tak lepas dari jepretan camera. Adapula wartawan dari beberapa media yang meliput jalannya acara, sebab ini adalah pernikahan anak dari seorang pengusaha dan cucu Kyai tersohor.
Beberapa media dari Jakarta, juga datang meliput karena Kennan adalah anak dari Karenina Larasati, seorang designer, yang namanya pernah melejit, sebagai perancang busana berkancah internasional. Karya-karyanya sering di ikut sertakan dalam pagelaran Fasion show, baik Nasional maupun Internasional. Tentu saja atas nama Agatha Veronika, karena Nina berada di bawah naungannya.
"Mas" bisik Zara, sembari menyalami para tamu
"Hemm"
"Lama nggak kita berdiri di sini?"
"Enggak sayang, paling tiga jam, Kenapa?" tanya kennan masih bisik-bisik "Udah nggak sabar pasti, pengin di boboin" lanjut Kennan cepat
"Ish, bures banget si mikirnya"
"Selamat ya Za" ucapan dari Ika temannya semasa kuliah "Aku masih belum percaya kamu nikah sama pak Ken"
"Makasih ya Ka" jawab Zara lengkap dengan senyum manisnya.
"Tiap hari bareng, pasti cinlok ya?"
"Udah Ka, ngantri tuh di belakang" potong Kennan sambil melirik para tamu yang tengah mengantri.
"Pasti udah ngebet, pengin nganu kan pak Ken?" kelekarnya lalu berlari sambil terkekeh.
"Udah pegel ini kaki mas" keluh Zara masih menyalami antrean tamu yang kian memanjang.
"Makannya" sahut Kennan sembari menyalami tamu "Kalau salam-salaman jangan di ajak ngobrol"
"Ya gimana enggak ngobrol, mereka yang ngajakin ngobrol"
"Sabar sayang, nanti mas gendong deh ke kamarnya"
"Selamat ya bang Ken" ucap Fino dengan gemulai
__ADS_1
Kennan mengernyitkan dahi sambil bergidik geli, melihat sikap teman Zara yang berlagak lenjeh seperti wanita. Kini lelaki itu beralih mengucapkan salamat pada Zara.
"Selamat ya cin" ucapnya ketika menyalami Zara. Kennan langsung mencegah saat laki-laki setengah wanita ini hendak mencium pipi kanan kiri Zara.
"Jangan cium-cium" larang Kennan, dengan sorot mata seolah tak rela jika Zara di cium olehnya. "Aku aja suaminya belum cium-cium" Dusta Kennan kemudian.
"Dikit aja kok bang"
"Nggak bisa" sahutnya cepat membuat Fino akhirnya mengalah, lagi pula Zara pun juga menolaknya.
"Nggak nyangka deh, Zara yang kalem, pemalu, dan pendiam, dapat cowok ganteng kayak doi. Cariin satu bisa kali cin"
Ucapan Fino di respon kekehan oleh Zara lalu menyuruhnya untuk segera pergi, karena di belakang masih banyak yang mengantri.
"Masih banyak ya mas?"
"Masih"
"Udah bosen banget mas"
"Sama dong, mas juga udah nggak betah lama-lama di sini, enakan di kamar, bisa peluk-peluk kamu"
"Itu baru bayangin, gimana nanti saat di kamar" Kennan menghirup napas panjang "Huuh pasti banjir deh"
"Mas bercanda terus si" pungkas Zara seraya mendongak, menatap wajah Kennan yang lebih tinggi darinya.
Kennan membalas tatapannya dengan kerlingan mata, membuat pikiran Zara berkelana membayangkan bobo bareng ala pengantin baru.
Kalau hanya tidur bareng, itu adalah hal biasa bagi Zara, karena beberapa malam ini mereka memang sudah sempat satu kamar, namun membayangkan sepasang suami istri pada malam pertama, membuat Zara menelan ludah beberapa kali.
"Kamu kenapa sayang, kok diam?" selidik Kennan "Lagi ngumpulin tenaga buat cetak anak iya?"
Zara tak menyahut, ia kembali fokus menyalami para tamu "Udah boleh lho, bikin dedek bayi kata pak kyai" Bisik Kennan yang masih di acuhkan, Zara pura-pura tersenyum sambil terus menyalami tamu seramah mungkin.
"Iya nggak?"
Karena Zara tak kunjung menjawabnya, Kennan menyentuh lengan Zara dengan sikunya.
__ADS_1
"Apaan si mas, dari tadi heboh sendiri?"
"Iya kan?" tegas Kennan sekali lagi.
Saat antrean sudah mulai merenggang, Zara mendongakan kepala mempertemukan netranya dengan netra suaminya "Iya sayang"
"Yes, asiik, cetak anak"
"Selamat bro" ucap Bagas lalu bergantian dengan Ridho "nggak sia-sia penantianmu" sambung Ridho. "Coba ngomongnya dari dulu, pasti enak-enaknya dari dulu juga"
"Buruan nyusul, keburu stoknya habis" sahut Kennan menimpali candaan dari sahabatnya.
"Mas, Perasaan belum lihat mbak Widia dari tadi" Ucap Zara sesaat setelah Bagas dan Ridho sudah berlalu.
"Nggak datang kali"
"Jadi nggak enak sama mbak Widia"
"Udah di bilangin jangan memikirkan orang lain" keluh Kennan sambil melingkarkan tangannya di pinggang Zara.
"Kasihan mbak Widia"
"Stop jangan bahas dia di hari bahagia kita dek" kali ini Kennan mengatakannya sambil mencium pucuk kepala Zara.
Zara menarik bibirnya ke kiri "Banyak orang mas, malu"
"Nggak apa, udah halal"
Banyak sekali tamu undangan yang hadir di hari bersejarah Kennan dan Zara. Mulai dari kolega ayah Danu dan papi Rio, rekan sesama pebisnis, teman-teman Zara dan Kennan, serta teman-teman dari orang tua Danu Nina, dan Rio Irma.
Hingga beberapa menit berlalu, Zara di kejutkan oleh tamu yang sama sekali tidak ia sangka kedatangannnya. Seketika raut wajahnya memerah. Rasa takut, panik, dan khawatir mendadak singgah dalam dirinya. Dengan sangat eratnya Zara menggamit lengan Kennan.
"Kenapa sayang?"
Zara menelan ludah, tak mampu menjawab pertanyaan Kennan.
Matanya terus memperhatikan wanita yang tengah berpelukan dengan Nina lalu berganti memeluk Irma, sambil tersenyum seolah ikut merasakan kebahagiaan keluarga mereka.
__ADS_1
Bersambung