
"Siapa kamu?" tanya Zara ketika langkahnya makin dekat
"Apa kamu benar-benar ingin tahu siapa aku?" alih-alih menjawab, ia justru melempar pertanyaan balik.
"Aku tidak mengenalmu, Kenapa kamu menculiku?"
"Kamu memang tidak mengenaliku, tapi ibumu kenal baik denganku"
"Mamiku?"
"Oh jadi kamu memanggilnya mami?" tanyanya lalu duduk di tepian meja, dengan tangan ia lipat di dada.
"Apa salah mamiku?" tanya Zara semakin penasaran "Kenapa kamu menjadikanku sebagai balas dendammu?"
"Kesalahan mamimu, dia telah menyekapku di ruangan ini" pekiknya dengan pandangan ia edarkan ke seluruh ruangan "Dan membuatku harus mendekam di penjara selama 15 tahun"
Zara benar-benar belum mengerti apa yang di ucapkan wanita paruh baya itu.
"Kau tahu, sudah sejak lama aku mencari keberadaan mamimu, sampai hampir 12 tahun, akhirnya aku menemukan kalian, dengan hanya bermodalkan satu lembar photo"
Wanita itu lalu tertawa, membuat Zara kian bingung.
"Kesalahan mamimu itu sangat banyak" ucapnya dengan tatapan mengejek.
Zara membalas tatapannya penuh lekat, menunggu wanita itu bercerita lebih banyak, dan berharap rasa penasarannya segera terjawab.
"Gara-gara mamimu, aku menikah di usia yang tidak lagi muda" ucapnya lirih "Dan karena itu pula, aku tidak bisa melahirkan bayi untuk menjagaku di masa tuaku" Ia mendekati Zara "Aku adalah Rekan kerja mamimu di masa lalu" bisiknya kemudian.
Sinta keponakan dari bu Agata, yang harus di penjara selama 15 tahun. Karena kesalahannya, ia di kenakan pasal berlapis. Penipuan soal nota pembelian berbagai macam peralatan butik, penggelapan dana, dan juga mencelakai seseorang hingga hampir kehilangan 2 nyawa sekaligus. Padahal yang sebenanya adalah bukan kesalahan Nina.
"Dan kau tahu" teriaknya hingga Zara terlonjak kaget "Aku menikah dengan lelaki tua, dan dia baru saja meninggalkanku"
"Sekarang aku ingin membalaskan dendamku pada Nina, dengan membawamu pergi sejauh mungkin" Sinta menjeda ucapannya untuk menarik napas "Itu ku lakukan karena dia sudah merusak masa depanku"
"Bunda Nina?" pungkas Zara seraya mengernyitkan dahinya
"Iya Karenina larasati, wanita yang kamu panggil mami, Dia yang sudah menghancurkan impianku"
"Tapi aku bukan anaknya bunda Nina" Teriak Zara tak kalah lantang "Kamu salah sasaran" sambungnya dengan deru nafas yang memburu
Sinta tecenung mendengar pengakuan Zara "Jadi kamu bukan anaknya Nina?" tanyanya seraya membungkuk menyamakan level matanya
"Aku bukan anak bunda Nina, aku anak temannya" ulang Zara dengan deraian air mata
"Anak temannya?"
Zara mengangguk takut, karena jarak wajahnya sangat dekat.
__ADS_1
"Apa kamu anaknya Irma, sahabatnya Nina?"
Untuk kedua kalinya Zara mengangguk. Tiba-tiba satu tamparan mendarat di pipi Zara.
Plak.. Sinta tersenyum sinis "Ini untuk mamimu yang sudah memperolokku"
Plak.. Satu tamparan kembali mendarat di pipi satunya "Dan ini untuk mamimu, yang sudah menamparku saat menjengukku di penjara"
"Itu sudah sangat lama, kenapa kamu masih dendam?" ucap Zara lirih, ia berusaha menenangkan dirinya sendiri dari keterkejutan masa lalu orang tuanya.
"Sudah sangat lama" sahutnya tak kalah lirih "Tapi aku masih belum bisa melupakannya"
"Tolong lepaskan aku bu" Zara memelas berharap wanita itu akan luluh dan bersedia melupakan dendamnya.
Sinta memegang dagu Zara sedikit menekan pipinya, membuat Zara kesakitan "Susah payah aku membawamu kemari, dan butuh waktu yang sangat lama, kamu justru memintaku melepaskanmu?"
Sinta terkekeh "Yang benar saja"
"Tapi apa gunanya kamu menculik orang yang salah"
"Apa kamu bilang?" menculik orang yang salah?" Sinta kembali terkekeh sambil melepaskan tangan dari dagu Zara "Aku tidak salah sasaran, aku sangat yakin, jika anak Irma pasti sudah Nina anggap sebagai anaknya sendiri. Dan selain itu, aku bisa balas dendam pada Irma, yang sudah seenaknya menamparku"
"Aku mohon bu, lepaskan aku"
"Tidak akan!"
"Aku mau membawamu ikut denganku, dan hidup bersamaku menjadi anaku"
"Itu tidak mungkin"
"Kenapa tidak?" aku punya warisan berlimpah peninggalan suamiku, aku bisa melakukan apa saja dengan uangku, termasuk membawamu ke Bangkok"
"Thailand?" gumam Zara.
"Aku sedang mengurusnya, dan beberapa hari lagi kita akan terbang ke sana, menggunakan jet pribadiku"
"Menurutlah, aku tidak akan melukaimu, justru sebaliknya, aku akan menyayangimu seperti anak kandungku sendiri"
Usai mengatakan itu, Sinta berlalu meninggalkan Zara.
"Ku mohon lepaskan aku" teriak Zara "Tolong bu, jangan bawa aku menjauh dari keluargaku" Pekikan Zara yang tak di hiraukan oleh Sinta, membuatnya kian frustasi
"Papi, mami, tolongin aku pih, mih" Ia memejamkan matanya, berharap ada keajaiban yang akan menggagalkan rencana Sinta.
Beberapa saat setelah Sinta keluar, seorang wanita dan dua pria masuk membawa sebuah koper "Non saya bantu mandi ya, nyonya besar menyuruhku membantumu"
"Mbak, tolong lepaskan aku, dan biarkan aku pergi"
__ADS_1
"Maaf non saya tidak bisa" jawabnya sembari melepas ikatan di kakinya "Mari ku antar ke kamar mandi"
"Kenapa kamu tidak melepaskan ikatan di tanganku"
"Maaf Non, nanti bisa di lepas di kamar mandi"
Zara di kawal satu orang wanita dan dua orang Pria menuju kamar mandi.
Wanita bernama Salsa membantu melepaskan ikatan di tangan Zara, dengan pengawasan dua pria, lalu membiarkan Zara mandi dengan semua perlengkapan serta baju ganti sudah siap di kamar mandi. Salsa menutup pintu lalu menguncinya dari luar.
Zara mengguyur tubuhnya dengan air dingin, Sembari mengusap sabun, ia mengedarkan pandangannya, berharap ada celah untuk melarikan diri, namun Nihil. Bahkan dia sendiri tidak tahu keberadaanya saat ini.
Usai mandi, tidak ada hijab untuk mengganti hijabnya, terpaksa ia memakai hijab yang kemarin ia kenakan.
Saat pintu terbuka, tangannya kembali di ikat oleh seorang pria, lalu membawanya kembali ke ruangan tadi.
******
"Zara" Teriak Kennan. Saat ini pria itu sedang berada di laut, karena terahir kali Zara berada disini. Ia berharap menemukan sesuatu yang bisa di jadikan petunjuk untuk menemukan Zara "Dimana kamu?"
"Kembalilah Za, kita menikah" teriaknya lagi sambil menyugar rambutnya "Jangan tinggalkan aku Za, aku sangat mencintaimu"
Ia melempar sebuah batu ke tengah lautan dengan kasar
"Zara, beri aku petunjuk supaya bisa menemukanmu"
"Aarrggghh" teriaknya semakin putus asa
Puas berteriak, Kennan melangkahkan kakinya untuk kembali ke mobil. Saat sedang berjalan, ia menemukan sebuah kertas usang seperti photo, di mana dalam photo itu ada sosok wajah yang sangat familiar.
"Bunda" Gumamnya setelah memungutnya, dengan kedua alis saling bertaut "Ini benar bunda kan, kenapa ada di sini?" kapan bunda ke sini dan menjatuhkan ini di sini. Dan siapa mereka?"
"Wajah orang ini" lirih Kennan jarinya mengusap wajah photo wanita yang menjadi atasan Nina "seperti nggak asing di ingatanku, tapi siapa?"
Ia berfikir keras berusaha mengingatnya.
"Lebih baik aku bawa pulang dan mengembalikannya ke bunda"
BERSAMBUNG
Selamat malam minggu..
happy reading..
makasih suportnya sampai di sini
kumohon jangan tinggalkan komentar yang mengerikan ya, seperti di novel Danu dan Nina, komentarnya serem 😅😅 horor bingit
__ADS_1