
Ini malam terakhir kita menginap di sini kan?" Tanya Zara dengan kedua tangan berada si atas lengan Kennan, yang melingkari perutnya.
"Hmm" Gumam Kennan lalu menciumi ceruk leher Zara berkali-kali
Kennan yang tengah memeluk Zara dari belakang, di atas tempat tidur usai sama-sama mendapat satu pelepasan, tangannya bergerak naik bermain-main di area dada. Tak ada remasan, hanya usapan-usapan lembut yang Zara rasakan.
"Dek"
"Iya"
Kennan memutar tubuh Zara untuk menghadap ke arahnya "Mas mau mengatakan sesuatu?"
Seketika jantung Zara mencelos, entah kenapa setiap sesuatu yang keluar dari mulut Kennan, selalu membuatnya was-was.
"Apa?" tanya Zara, belum apa-apa jantungnya sudah berdetak tidak karuan.
" Tetang Frea"
"Frea?" Zara kembali di buat terkejut "Ada apa dengannya?"
"Kamu tahu, kenapa perusahaannya membatalkan kerja sama dengan kita?"
Zara menggeleng, lalu mengalihkan pandangan pada dada bidang sang suami. Otaknya tak mampu menerka apa yang menjadi alasan batalnya kerja sama itu.
"Karena mas menolak perjodohan dari papanya"
Seketika Zara menatap Kennan dengan ekspresi terkejut, bola mata Zara bergerak gelisah, berkali-kali ia menelan saliva, menunggu Kennan menjelaskan lebih detail.
"Waktu itu" ucap Kennan mengawali penjelasannya, "Saat ayah belum tahu tentang perasaan mas padamu, ayah dan papanya Frea berencana menjodohkan kami"
Entah kenapa ucapan Kennan membuat gelegak emosinya kian menjadi.
"Tapi mas menolak karena mas cuma mau kamu yang jadi istri mas"
Emosi Zara yang tandinya berada di level teratas, kini turun secara perlahan.
__ADS_1
"Ayah dan bunda, menyetujui permintaan mas untuk menikahimu. Malam itu juga, papanya Frea telpon ayah memastikan rencananya tentang perjodohannya, karena sebelumnya, ayah belum memberikan jawaban, sebab keputusan ada di tangan mas. Dan saat ayah memberitahu bahwa mas tidak mau di jodohkan, paginya mereka membatalkan kerja sama itu. Masih ingat kan, waktu mas nyuruh kamu turun buat nemuin mas di depan kantor?"
Zara mengangguk, dengan mulut mengatup rapat.
"Tapi sebenarnya bukan itu yang ingin mas katakan?"
"Lalu apa?" tanya Zara setenang mungkin
"Kamu ingat, sepulang mas dari Bangkok, terus mas lembur?"
Entah untuk ke berapa kalinya Zara mengangguk.
"Selesai lembur, mas nemuin Frea di hotel, dan saat mas kesana, dia malah menawarkan..."
Kennan menggantung ucapannya
"Menawarkan apa?" tanya Zara ketika Kennan tak kunjung melanjutkan kalimatnya
Kennan tahu Zara pasti akan terkejut mendengarnya, tapi walau bagaimanapun, ini harus di bicarakan pada istrinya, takutnya akan menjadi duri dalam rumah tangganya.
Pertanyaan Zara langsung di jawab gelengan kepala oleh Kennan.
"Dan kemarin pagi, saat kita sarapan bareng sama ayah bunda dan mami papi, Frea kembali menawarkan itu"
Sontak ingatan Zara beralih pada kemarin lusa, dimana Kennan dengan gugup menyimpan ponsel di saku celananya.
"Apa nomor baru yang menelfon mas kemarin itu Frea?"
Kennan mengangguk. Sedangkan jantung Zara, kembali berdetak dengan lebih cepat.
"Mas sudah menghapus dan memblokir nomornya, tapi tiba-tiba dia menelpon mas menggunakan nomor lain. Mas kira dia hanya iseng, tapi malah semakin nekad"
"Dia tahu kita sudah menikah kan?" tanya Zara sambil menguatkan mental "Walaupun mereka tidak kita undang, setidaknya mereka tahu dari media, iya kan?"
Lagi-lagi Kennan mengangguk, "Justru karena Frea tahu kita sudah menikah, dia berusaha ganggu mas, dia pikir dengan tingkahnya bisa merusak malam-malam indah kita"
__ADS_1
"Tapi bagaimana perasaan mas padanya?", aku pikir kekhawatiranku cuma Widia"
"Kamu tidak perlu memikirkan apapun, entah Widia ataupun Frea"
"Ish" desis Kennan sambil mencubit hidungnya Ketika Zara hanya diam memperhatikannya.
Seketika raut wajah Zara memerah menahan malu.
"Mungkin mas bisa berjanji padaku, mas bisa menolaknya, tapi mas tidak tahu kan, apa yang akan di lakukan orang-orang di luar sana demi untuk menarik perhatian mas, apalagi orang model Frea?"
Kennan mengangguk pasti "Maka dari itu, mas memutuskan kamu tetap bekerja jadi sekertaris mas, supaya kamu bisa melindungi mas dari wanita itu, dan wanita-wanita lain di luar sana" Ujarnya sambil membelai rambut Zara "Banyak cewek-cewek di luar sana yang berani menggoda laki-laki yang bahkan sudah punya pasangan, padahal dia tahu kalau laki-laki yang dia goda, sudah memakai cincin di jari manisnya"
Sepasang netra mereka saling mengunci, sama-sama saling menyelami, mencari sesuatu untuk meyakinkan dirinya sendiri, bahwa mereka akan mampu melawan badai yang menghantam rumah tangganya. Seketika keheningan mendadak singgah di antara keduanya.
"Mau ya tetap bekerja, temani mas kemanapun mas ada urusan bisnis?"
"Iya"
"Mas nggak akan membiarkan kamu bekerja sendiri, mas pasti akan membantu pekerjaan kantormu seperti yang sudah-sudah"
Zara mengangguk mengerti "Kita bekerja sama untuk hal apapun, dan mas minta" ujarnya mengecup bibir Zara sebelum melanjutkan ucapannya "Kamu jangan menyembunyikan apapun dari mas" satu lagi kecupan mendarat di bibirnya "Meski hanya seekor semut yang mengganggumu, kamu harus ngomong ke mas. Mengerti?"
"Mas menyuruhku demikian, lalu bagaimana dengan mas?"
Kennan tersenyum menanggapi pertanyaan sang istri "Barusan sudah mas lakukan kan?" tanpa kamu meminta" lagi-lagi Kennan mendaratkan kecupan singkat di bibir Zara sebelum berbicara kembali "Mas pasti membicarakannya jika itu menyangkut kita, apalagi keluarga kecil kita yang baru saja akan kita mulai"
Zara mengeratkan pelukannya "Aku pikir jika aku sudah memiliki mas, hatiku akan tenang dan permasalahanku selesai, tidak ada lagi sesuatu yang aku pendam, tapi justru tantangan yang sebenarnya baru akan di mulai"
"Mas akan selalu bersamamu, melewati semua tantangan-tantangan itu"
Tangan Kennan semakin liar di balik punggung Zara
"Sekali lagi mau?" pinta Kennan kemudian "Setelah itu kita tidur"
Tak butuh waktu lama Zara menganggukan kepalanya memenuhi permintaannya.
__ADS_1
Bersambung