Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)

Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)
Bab 46


__ADS_3

Hari-hari Kennan dan Zara berjalan sebagaimana biasanya. Yang membedakan adalah status mereka yang kini telah berganti menjadi suami istri. Semua pekerjaan kantor, berhasil mereka kerjakan tanpa mencampur adukan dengan urusan pribadi mereka.


Selain bekerja sama soal urusan rumah tangga, mereka juga berhasil mengurus perusahaan dengan baik dan kompak.


Hal ini mendapatkan sanjungan dari Danu dan juga Rio. Kennan dan Zara benar-benar komit dengan keputusan yang mereka buat.


Mengenai Widia, awalnya Zara merasa tidak enak dengan status baru sebagai istri dari Kennan, tapi lewat seminggu ini, perasaan itu luntur dengan sendirinya.


Dan mengenai Frea, dia masih terus berusaha menawarkan diri pada Kennan, bukan hanya foto tak senonoh yang ia kirim ke nomor ponsel Kennan, namun video syurnya juga ia kirimkan.


Zara ingin sekali melaporkan hal ini ke polisi, namun, dia tak mau gegabah dalam mengambil keputusan, dengan kata lain, Zara ingin memberikan waktu, berharap Frea mau berubah, dan menghentikan sendiri aksinya.


"Dek" Panggil Kennan ketika Zara tengah memeriksa berkas untuk bahan meeting siang ini.


"Iya mas?"


"Meeting di mulai setelah makan siang ya?"


Zara menatapnya beberapa saat sambil mengangguk.


"Mas perlu presentasi nggak?"


"Enggak mas, meeting kali ini akan di pimpin oleh Widia dan Papi Rio" Jelas Zara "Mas cukup mendengarkan dan mengambil kesimpulan, terus nanti ayah Danu yang mutusin"


Zara menoleh untuk melihat Kennan yang masih berdiri sambil menyandarkan lengan pada kusen pintu ruangannya. Ia nampak serius medengar jawaban dari Zara.


"Kenapa mas?" tanya Zara, wajah Kennan terlihat kuyu.


"Lelah dek"


"Makannya jangan begadang terus!, tiap malam ngerumpi sama pak satpam, masuk kamar nggak langsung tidur" Ucapan Zara bebarengan dengan Kennan yang tengah menguap.


"Mau kopi?" lanjut Zara


"Mau kamu" jawab Kennan dengan bibir tersungging.


"Mau Frea?" Zara membalas godaan Kennan


"Nggak mau"


"Seksi loh, kalau mas lihat foto dan video-videonya, pasti nggak tahan" ujar Zara dengan senyum meledek.


"Enggak kalau nggak liat kamu iya" ucap Kennan mulutnya yang absurt, di sertai senyum miring dan kerlingan mata yang tak kalah jahil, membuat Zara salah tingkah, dan akhirnya menyerah.

__ADS_1


Bagaimanapun ledekan Zara, selalu dapat di patahkan dengan mudah oleh Kennan, hingga dia tak mampu lagi untuk berkutik.


Soal pesan dari Frea, Kennan memang sama sekali tak pernah tahu seperti apa foto dan video yang Frea kirim, karena jelas Zara tak mengijinkan dia melihatnya. Namun, video itu masih tersimpan di folder rahasia di ponsel Zara. Untuk berjaga-jaga jika Frea semakin berani.


Tangan Kennan bergerak menutup pintu ruangannya, ia hendak menuju ke lantai 10 untuk menemui Danu. Saat melewati meja Zara, tangannya terulur mengusap pucuk kepala Zara.


"Mas ke ruangan ayah dulu"


"Hmm" jawab Zara kembali fokus pada kertas di atas mejanya.


Selang beberapa menit, satu pesan masuk ke ponsel Kennan. Membuat Zara menghentikan aktivitasnya lalu beralih menoleh ponsel yang bergetar.


081xxx : "Bisa temui aku Ken, ayolah, sekali ini saja" (10:25 Wib)


"Pasti dari Frea" Zara bergumam. Sempat ragu, akhirnya setelah mempertimbangkannya, Zara membalas pesan tersebut.


^^^"Temui aku di cafe dekat taman kota^^^


^^^setelah jam makan siang^^^


Tak menunggu lama, Zarapun mendapat balasan darinya.


081xxx. : "Baik Ken, aku akan datang sebulum kamu"


*****


"Aku janjian dengan Kennan bukan denganmu" ucapnya setelah menikmati meneguk minuman yang di pesannya.


Frea sempat terkejut saat tahu bahwa yang datang adalah istrinya, bukan si pemilik ponsel.


Tanpa sepengetahuan Kennan, Zara menemui Frea saat dia sedang mengikuti meeting. Dia nekad bertemu dengannya, karena ingin memeperingatkan supaya berhenti meneror sang suami melalui telfon.


"Dan saya menemuimu karena ada perlu denganmu"


Frea tersenyum sinis. "Tapi aku tidak punya urusan denganmu"


"Tapi saya punya"


Mendengar jawaban Zara, Frea kembali tersenyum, senyuman akan kebencian terhadapnya.


"Jika mbak memiliki harga diri, tolong berhenti mengganggu suami saya" lanjutnya berusaha tenang.


Alih-alih tersinggung, dia justru kembali menerbitkan senyum yang begitu menusuk hati Zara.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka bahwa kamu adalah wanita yang menjijikan" ujarnya dengan sorot mata tak kalah tajam dengan ucapannya. "Menikahi kakaknya sendiri"


Zara berusaha rileks dan mencoba menenangkan debaran jantung.


"Seperti tidak ada laki-laki lain saja" tambahnya.


"Kami bukan saudara kandung, jadi sah-sah saja jika kami menikah"


Untuk beberapa saat mereka saling diam.


"Kamu tahu kan, bahwa banyak lelaki yang tidak puas dengan satu wanita"


Zara tertegun mendengar ucapanya, susah payah ia menelan saliva untuk membasahi kerongkongannya yang mengering.


"Jangan terlalu percaya dengan mulut para pria, mereka manis di depan, tapi menjadi pahit di belakang kita"


"Tapi suamiku tidak seperti itu"


"Sepercaya itu kamu sama dia?" harus aku katakan, ikatan yang masih baru, pasti akan menyenangkan, tetapi seiring berjalannya waktu, kesenangan itu akan pudar, rasa cinta akan berkurang, dan akhirnya, para pria mencari kepuasan di luar" Sinisnya dengan mata menyorot tajam.


Napas Zara terasa berhenti mendengar perkataan Frea barusan.


"Sebenarnya apa maksudmu?" Geram Zara, ia mulai tak bisa mengendalikan emosinya.


Frea tersenyum ironis, senyuman yang tidak bisa di artikan.


Tanpa di duga, wanita itu mengikis jarak menyamakan level matanya dengan mata milik Zara "Dia pasti akan tidur di ranjangku, bertukar air liur, dan berbagi peluh deng_"


Plak, satu tamparan mendarat di pipi mulus Frea. Dua detik kemudian, ganti Frea yang menampar Zara bahkan lebih keras dari tamparan Zara padanya.


"Aku bukan wanita lemah, aku akan membalas apa yang mereka lakukan bahkan balasanku terasa lebih menyakitkan" ujarnya sesaat setelah menampar Zara.


Aksi tampar menampar itu di saksikan oleh Fino, teman Zara yang terkenal dengan tingkahnya yang gemulai. Seorang perancang busana, dan MUA. Satu universitas, akan tetapi beda jurusan.


Zara tersadar bahwa saat ini ia sedang di kuasai emos.


"Tolong jangan merusak rumah tanggaku" Lirih Zara memohon.


Ucapannya di respon gelak tawa oleh Frea, "Tidak hanya merusak, bahkan aku akan mengambilnya darimu" ucapnya tak kalah lirih.


Menarik napas panjang, Zara memilih pergi meninggalkan Frea yang masih duduk dengan gestur santai, seolah tidak terjadi apa-apa.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2