
Setiap orang memang tak bisa mengelak dari yang namanya ujian atau cobaan hidup. Namun, setiap permasalahan yang terjadi di hidup kita pasti memiliki pelajaran yang bermanfaat. Jika bisa bersabar dan bersikap tenang, pasti akan menemukan jalan keluar dari setiap cobaan yang menghadang.
Satu-satunya cara untuk menyembuhkan rasa sakit adalah memaafkannya.
"Mas" panggilnya, Kennan yang sedang sibuk mengenakan kemeja tak menoleh sama sekali.
"Mas marah?" Pertanyaan Zara membuat Kennan memindai dirinya.
"Enggak" jawabnya lalu kembali fokus pada kancing kemeja di bagian lengannya.
"Tapi kenapa diam terus"
"Kamu tahu kan kenapa mas diam?, jadi nggak usah tanya"
Menghela napas, Zara berusaha tenang dan sabar. "Aku cuma nggak mau merusak masa muda mbak Widia jika hidupnya harus berakhir di penjara"
"Itu karena kesalahannya dek?"
"Tapi kalau kita nggak memberikan kesempatan, bagaimana dia mau berubah"
"Tapi kalau dia masih belum berubah bagaimana?" tanya Kennan akhirnya dia menatap wajah Zara.
"Saat bunda sama mami memilih damai dengan ibu, mereka punya keyakinan mas, dan aku rasa keyakinanku ini sama besar dengan keyakinan bunda Nina dan mami"
"Tapi di__"
"Aku dulu juga nggak terima kalau bu Sinta di bebasin, tapi aku berusaha ikhlas" potong Zara cepat. "Kalian dulu memaksaku untuk menerima keputusan kalian, jadi sekarang giliran aku meminta kalian untuk menerima keputusanku"
"Mas nggak ikut memaksamu dulu, jadi jangan bawa-bawa mas"
"Tapi kan mas waktu itu nggak mendukungku?"
Mendengkus pelan, Kennan menyambar jam tangan di atas nakas lalu melingkarkan di pergelangan tangannya.
"Kalau mas bilang enggak itu artinya enggak" ujarnya mengecup pucuk kepala Zara, lalu meraih tas kantor dan meninggalkannya setelah Zara mengecup punggung tangannya, tanpa mengatakan apapun lagi.
Namun saat tangannya memegang kenop pintu, dia menoleh pada Zara. "Sepulang kantor, mas akan antar kamu jenguk Widia". Setelah mengatakan itu, Kennan langsung keluar dan menutup pintu kamar.
Semenjak Zara duduk di kursi roda, kamar mereka berpindah ke kamar tamu, agar jika dia keluar kamar, tidak perlu menuruni anak tangga dan merepotkan orang lain.
"Aku cuma nggak mau kisah bu Sinta terulang lagi. Apa ketakutanku ini salah?"
*****
Hari ini waktu terasa begitu lambat bagi Zara. Aktifitas dia yang monoton, membuatnya merasa bosan dan bahkan stres. Apalagi dari tadi pagi Kennan sama sekali tidak menelfonnya barang sebentar.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam, jawab Zara sambil memasukan baju yang baru saja di setrika oleh ART ke dalam lemari. Karena masih duduk di kursi roda, ia hanya mampu menjangkau di bagian bawah lemari.
Zara segera meraih tangan Kennan.
"Sudah mandi?" tanya Kennan, seraya melonggarkan dasinya.
__ADS_1
"Belum"
"Kok belum, katanya mau ke rumah sakit jenguk Widia"
"Nggak jadi"
"Kenapa"
"Mas nggak ngijinin aku buat cabut laporannya" jawab Zara, dia mengatakannya tanpa menatap wajah suaminya.
"Itu lagi" desis Kennan, satu tangannya berkacak pinggang dan tangan lain mengusap tengkuknya. "Mas akan penuhi semua keinginanmu, tapi untuk yang ini, mas nggak bisa" lanjutnya lalu masuk ke kamar mandi.
Tak ada yang bisa di lakukan lagi oleh Zara, kecuali hanya menurut. Namun hatinya masih merasakan kesal pada sang suami.
Hingga beberapa menit berlalu, Kennan keluar dari kamar mandi, lalu mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai.
"Ayo kita berangkat"
"Mau kemana?"
"Jenguk Widia ke rumah sakit"
Meskipun Zara menolak, Kennan tetap membawanya menemui Widia.
Hanya tigapuluh menit perjalanan, Kennan dan Zara sudah sampai di rumah sakit tempat Widia di rawat.
Mereka bertanya pada bagian informasi di mana letak kamar Widia. Mengingat arahan dari salah satu perawat tadi di mana letak kamarnya dia terus melewati koridor rumah sakit. Tepat ketika Kennan mendorong kursi roda berbelok ke arah kiri, Kennan melihat papahnya Widia yang juga selaku kepala rumah sakit di sini, Kennan melanjutkan langkahnya untuk menghampirinya.
"Selamat sore, Kennan?" Papa Widia sempat kaget, namun hanya sesaat.
"Kami datang untuk menjenguk Widia pak"
"Oh ya mari silakan masuk"
Memasuki kamar mewah, Widia tampak sedang duduk bersandar pada headboard.
Saat netranya menangkap Kenann dan Zara, Dia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
"Ken, saya tinggal sebentar, silakan ngobrol dulu dengan Widia, sebentar lagi mamanya akan datang"
"Iya pak" sahut Kennan ramah.
"Gimana kondisinya mbak Widia?" tanya Zara tulus. Sementara sosok yang duduk bersandar di atas ranjang, tampak menggeleng sebelum menjawab.
"Kamu lihat sendiri seperti apa kondisiku" Terdengar ketus, mungkin Widia masih membenci Zara.
Dan Kennan berdecak geram dalam hati. Yang tak habis pikir, sang istri sudah di perlakukan sinis seperti itu, tapi dia masih bisa tersenyum.
"Semoga mbak Widia cepat sembuh ya, dan bi_"
"Dan bisa segera masuk penjara" Potong Widia cepat. "Itu kan yang kamu mau"
Menelan saliva, Zara tertegun mendengar ucapan Widia.
__ADS_1
"Istriku jenguk kamu baik-baik loh Wid"
"Aku tidak ingin di jenguk oleh kalian loh" jawab Widia lembut, namun terkesan sinis.
"Terlepas dari apa yang menimpamu, kamu masih belum berubah ya?" ucap Kennan kali ini tak kalah sinis. "Ternyata kedatanganku kesini membuatku batal untuk mencabut laporanku"
Mata Widia memicing menatap Kennan, dengan gelegak yang kian penasaran apa maksud dari ucapan Kennan.
"Tadinya ku pikir aku membawa istriku menemuimu, untuk memenuhi permintaannya mencabut tuntutanku, tapi melihatmu masih bersikap sinis padanya, membuatku mengurungkan niatku untuk mencabut laporanku itu"
Tatapan Widia kian tajam, sorot akan kebencian yang kian menjadi.
"Dan sekarang aku tahu, bahwa kamu memang pantas untuk mendekam di penjara"
"Mas" Panggil Zara lembut.
"Sepertinya kamu memang harus mematuhi ucapan mas dek" sanggah Kennan menimpali panggilan Zara.
"Kalau begitu kami permisi Wid, semoga lekas sembuh, biar laporanku segera di proses" ucap Kennan. "Kita pulang sayang" tanpa menunggu jawaban dari Zara, Kennan segera memutar kursi roda, lalu keluar dari kamar Widia. Dengan membawa perasaan yang tak menentu.
Duduk di dalam mobil, Kennan masih belum melajukan mobilnya, mereka saling diam, dan tak melakukan apapun.
"Masih mau nyabut laporanmu?" tanya Kennan setelah sekian menit mereka terjerat dalam kebisuan.
"Apa salahku mas?" alih-alih menjawab, dia justru mempertanyakan kesalahannya.
"Salahmu terlalu polos, terlalu mengalah, dan nggak mau melawan"
Mendengar jawaban Kennan, persekian detik Zara memalingkan wajahnya ke samping kanan.
"Lalu aku harus apa?"
"Harus memberikan pelajaran padanya"
"Kalau dia balas dendam setelah ini bagaimana?"
Kennan melipat kaki kirinya, lalu mengadapkan tubuhnya ke Zara.
"Ketakutanmu" kata Kennan dengan sorot mata serius, dan Zara membalas tatapannya itu. "Akan menghancurkanmu jika kamu tak melawannya. Kamu punya mas, punya keluarga yang siap mempertaruhkan nyawa untuk membelamu, kamu tidak punya alasan untuk takut"
Kennan masih menyoroti netra Zara.
"Sekarang biarkan mas yang urus semuanya, kamu tidak perlu memikirkan Widia, hapus semua tentang Widia dari pikiranmu, mengerti apa yang mas ucapkan ya?"
Menghirup napas dalam-dalam, Zara berusaha menganggukan kepala.
Sedetik kemudian Kennan mengecup kening Zara mencoba untuk menghilangkan ketakutannya.
"Kita pulang sekarang"
Bersambung
Kalau ada yang typo, nanti di revisi lagi
__ADS_1