
Melihat Zara pingsan di depan lift, Danu yang kebetulan akan kembali ke ruangannya setelah dari gudang, bergegas lari, dan membopong Zara lalu membawanya menuju sofa di bagian loby kantor.
Riuh suara para karyawan pun saling berebut, sedangkan Widia yang memang tadi berpisah di depan gedung kantor, pura-pura tidak tahu dengan kejadian itu.
"Ada apa dengan Zara pak?" Tanya Widia pada Danu.
"Saya juga tidak tahu Wid, tahu-tahu dia jatuh pingsan"
Sebelumnya Danu sudah menyuruh salah satu karyawan untuk mengambilkan air bening, dan salah satu karyawan lain untuk memanggil Kennan.
"Pak ini aku kebetulan ada frescare" Widia menyerahkan botol bening kecil bertutup merah "Coba di usap ke hidungnya"
"Oh ya Wid terimakasih" Dengan cepat Danu mengoleskannya di bagian hidung Zara supaya bisa terendus olehnya, dan berharap anak menantunya segera sadar.
"Bangun nak, ini ayah" Danu menepukan telapak tangannya pelan di pipi kiri Zara. Sementara dari pintu lift, terdengar suara sepatu tengah melangkah lebar dengan raut panik dan juga takut.
"Ayah ada apa yah" tanya Kennan dengan napas tersengal, ia menggantikan posisi ayahnya yang duduk merangkul tubuh Zara.
"Tadi ayah lihat Zara pingsan di depan lift"
"Ini pak Minumnya"
Kennan segera meraih gelas pemberian salah satu karyawannya, lalu menuntun agar Zara bisa meneguk walau hanya setetes.
Sedangkan Widia, dia pura-pura sibuk mengoles frescare miliknya di bagian pelipis hingga dahi milik Zara.
Satu detik, dua detik, dan detik berikutnya, perlahan Zara membuka mata mengerjap beberapa kali, berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya sedikit demi sedikit.
Sekian detik kemudian, kesadarannya telah terkumpul, ia menangkap wajah Kennan dengan gurat kepanikan level teratas.
"Dek"
"Mas, pusing" ucap Zara dengan deraian air mata"
"Ada apa dengan Zara Ken?" Sela Rio dengan napas memburu karena diapun habis berlari.
__ADS_1
"Nggak tahu pi"
Zara menatap nanar pada wajah Rio. "Pi" panggilnya lirih, ia ganti melabuhkan dirinya di dalam pelukan sang papi, berharap beban yang mengisi pikirannya bisa sedikit berkurang "Mau pulang pi, mau mami" ucapnya dengan isak tangis tertahan.
Zara yang memang dari kecil adalah gadis yang kurang mendapatkan waktu dari Rio dan juga Irma, sedikit lebih manja dari adik-adiknya. Sebab di saat usia dua tahun, sang mami sudah harus mengurus Kanes, dan lalu Bima, adiknya yang selisih usianya tidak begitu jauh dengannya.
"Ok, ok kita pulang, kita cari mami di rumah ya"
Setengah jam kemudian, Rio sudah sampai di rumah di antar oleh Kennan, Irma yang sebelumnya sudah di telfon oleh Rio, dia berdiri menunggu di teras rumahnya.
Ia berlari menghampiri pintu gerbang yang sedang di buka oleh pak Satpam, begitu melihat mobilnya sudah di balik pagar.
"Mas gendong ya dek" tawar Kennan sebelum turun dari mobil.
"Nggak usah mas" jawabnya sambil melepas sabuk pengaman.
"Apa mau di gendong papi"
"Engga pi, embak jalan aja"
"Nggak apa-apa"
"Nggak apa-apa mi, mungkin Zara kecapean"
"Mami" panggil Zara, suaranya nyaris hilang karena efek menangis.
Irma segera merangkul putrinya, lalu memapahnya masuk ke dalam rumah.
"Sudah di bilangin kan, nggak usah pergi ke kantor"
"Mbak nggak apa-apa mi, cuma pusing sedikit aja"
"Mau crita sama mami?" mau bagi beban mbak sama mami?"
"Di kamar saja ya mi"
__ADS_1
"Ok ayo kita ke kamar" Zara dan Irma berjalan bersisian menaiki anak tangga. "Kamu tu kalau di bilangin sama mas Ken, itu nurut" ucap Irma sembari terus melangkah "Kamu ingat pas di culik sama mama Sinta kan, sebelumnya mas Ken sudah bilang untuk langsung pulang, iya kan?", sekarang mas Ken ngelarang kamu ke kantor pasti ada alasannya, iya nggak?"
"Karena Frea kan mi?"
Irma sempat terkejut, namun hanya sesaat, ia kembali menormalkan ekspresinya di depan Zara. "Kalian yang udah nyembunyiin berita kematian Frea dari embak kan?" Kenapa mi?"
"Karena kondisimu mbak?" kami nggak mau kamu kepikiran soal itu"
"Tapi mbak berasa jadi orang bodoh deh"
"Udah jangan bahas Frea, itu bukan urusan kita"
"Tapi ya nggak di sembunyiin juga kan?" kata Zara matanya menatap jemari di pangkuannya. Tadi pas makan siang ada yang bully embak mi, untung ada mbak Widia, jadinya bisa sedikit kebantu"
Ucapan terahir Zara di barengi dengan ketukan pintu.
"Dek, Mi, mas balik ke kantor lagi ya" pamit Kennan lalu mencium punggung tangan Irma, kemudian beralih ke Zara yang akan mencium punggung tangan Kennan.
"Papi ikut balik nggak mas?" tanya Irma dengan kepala terdongak.
"Enggak mi, papi akan bekerja dari rumah"
"Kamu hati-hati"
"Iya mi" Sahut Kennan lalu mengecup kening Zara di depan Irma.
"Hati-hati mas" Kennan sempat mengusap pucuk kepala Zara sebelum keluar dari kamarnya.
"Tuh kan, mas udah sayang banget sama embak, harusnya mbak nurut sama mas Ken, kasihan mas Ken, harus mikir kerjaan, mikir kamu, mikir yang lain, harusnya kamu jangan nambabin beban mas Kennan"
"Ku pikir sudah lewat mi, soalnya sudah sebulan lebih Frea meninggal, nggak ada yang bahas itu, jadi mbak kekeh minta ke kantor, tapi ternyata masih ada juga yang belum lupa sama berita itu"
Irma mendesah pelan, sebelum kemudian memeluk Zara.
"Apapun yang kami lakukan itu, demi kebaikan kamu, jadi kamu tidak usah banyak bertanya, nggak usah banyak komplen"
__ADS_1
"Besok nggak usah ke kantor ya"
"Iya mi"