
"Dek" panggil Kennan pelan agar tak mengagetkannya.
Zara diam tak menuyahut panggilannya, fokusnya masih terarah ke luar jendela. Setelah makan malam tadi, Zara duduk terdiam di atas kursi roda di depan jendela. Sejak sadar dari komanya, dia sering termenung seolah memikirkan sesuatu.
Seperti kejadian yang menimpa Frea, padahal dia tak pernah berbuat salah padanya, tapi dia justru merasa bersalah hingga detik ini, namun, tidak ia tunjukan pada siapapun.
Zara tahu apa yang akan dia lakukan saat rasa bersalah itu singgah dalam benaknya. Dia akan menyebut nama Frea dalam doanya, berharap rasa bersalah itu sedikit berkurang.
Dan kini, Kennan berfikir bahwa Zara masih memikirkan tentang anaknya yang tak bisa di selamatkan dalam kandungan di usia menginjak bulan ke lima.
"Mikir apa?" tanya Kennan lembut, dia berlutut di depan kursi rodanya.
"Enggak"
"Jangan bohong" Kennan sedikit mendongak karena posisinya lebih rendah dari Zara.
"Apa aku terlihat sedang berbohong?"
"Apa kamu pikir mas nggak tahu kebiasaanmu selama ini?"
Zara terpaku menatap Kennan, bola mata Kennan ia lihat tengah mengikuti manik hitamnya.
"Aku cuma masih kepikiran tentang anak kita, kata mas dia laki-laki"
"Hemm, kenapa?" Kennan masih bertahan menatap Zara
"Seperti apa wajahnya?"
"Sepertimu, sudah ada matanya, jarinya, kakinya, tapi bentuknya sangat kecil"
"Maaf" ucap Zara sambil menangkup wajah Kennan. "coba aku dengerin ucapan bunda, coba waktu itu aku di antar mas pake mobil mas, pasti nggak gini"
"Semua sudah ada jalannya masing-masing" Kennan mencoba menghiburnya, setidaknya bisa mengurangi rasa bersalah, meski Kennan tahu bahwa itu murni bukan kesalahan sang istri. "Sudah cukup kamu menyalahkan dirimu sendiri dek, baik itu tentang Frea, ataupun tentang anak kita.
Zara mendekatkan wajahnya hingga kening mereka saling menempel, dan hidung mereka saling bersentuhan.
"Maaf" ucap Zara pelan sambil mengusap kedua sisi pipi Kennan.
"Maaf itu coba kamu ucapkan untukmu sendiri, dan katakan juga kalau kamu memaafkan dirimu sendiri" balas Kennan kedua tangannya memegang pergelangan tangan Zara yang masih bertahan menangkup wajahnya.
"Demi mas, demi keluarga kita, hapus semua rasa bersalahmu kepada siapapun"
Zara mengangguk.
__ADS_1
Setelah itu tidak ada yang mereka lakukan, kecuali saling menatap dan berbalas senyum. Mereka masih bertahan di posisi yang sama, sampai beberapa detik berlalu, Kennan mengecup bibir Zara, sedikit memberi lum*atan.
"Mas cinta kamu" bisiknya lirih ketika tautan bibir mereka terlepas. "Apapun yang terjadi, baik kamu sehat ataupun sakit, baik ketika hatimu sedih maupun senang, mas mencintaimu.
Mata Zara yang tadinya terpejam, perlahan ia buka.
Dunia mas hanya berputar di sekelilingmu, hanya kamu Azara, jadi mas mohon sama kamu, jangan tinggalin mas seperti kemarin"
"Kemarin?" tiba-tiba Zara di buat bingung lalu menjauhkan wajahnya agar bisa melihat ekspresi wajah Kennan.
"Kamu lupa kemarin udah ninggalin mas selama sepuluh hari?"
"Oh" sahut Zara singkat
"Jangan lagi dek, plis"
"Iya"
"Janji ya"
"Iya"
"Jangan cuma iya-iya doang, harus di ingat juga"
"Iy_"
Mereka tersenyum sebelum kemudian Kennan kembali mel*umat bibir Zara, ciuman yang kian dalam, kian intens, dan kian lama.
Sampai ketika terdengar suara decitan pintu, membuat mereka mengurai bibirnya yang saling menyatu.
"Ibu" kata Kennan setelah memindai pandangan ke arah pintu.
"Kalian sudah makan?" tanya Sinta, ibu Sinta benar-benar tidak tahu jika mereka tadi tengah berciuman. "Ibu bawakan sate kambing, kata bunda mas Ken suka sama sate kambing"
"Iya bu, suka banget malah" jawab Kennan lalu menghampiri Sinta yang tengah meletakan sate di meja sofa yang tidak jauh dari ranjang Zara.
Zara yang masih duduk di kursi roda menghadap ke jendela, ia segera menghapus air mata yang sempat meluncur tadi, lalu membelokan kursi rodanya dan menjalankannya menuju Kennan.
Sinta yang melihat itu, dengan gerak cepat mendorongnya. "Mbak Za mau?" tanya Sinta,
"Enggak bu, baru saja makan tadi"
"Hmm enak banget sayang, beneran nggak mau cobain?" tanya Kennan lalu kembali melahap sate di tusukannya.
__ADS_1
Selama beberapa menit mereka berbincang, Kennan berdiri menuju nakas samping brankar, lalu meraih obat untuk Zara.
Beberapa menit setelah minum obat, Zara mengeluh ngantuk, dan dengan cepat Kennan membawanya ke tempat pembaringan. Selagi Kennan membantu Zara berbaring, Sinta membereskan meja bekas Kennan makan, yang tadi belum sempat Kennan bereskan.
Tak menunggu lama, Zara sudah terlelap karena efek obat yang menyebabkan kantuk.
Kini, hanya ada Kennan dan Sinta yang tengah mengobrol sembari duduk di sofa.
"Ibu sudah tahu pelakunya mas" Ucap Sinta tiba-tiba, membuat Kennan mengalihkan pandangan pada wajah Sinta.
"Pelaku apa bu?"
"Orang yang sudah merusak rem mobil Zara"
Menelan saliva, Kennan tertegun usai mendengar ucapan Sinta.
"Siapa bu?" tanya Kennan dengan wajah yang memanas.
"Widia"
"Widia?"
Bukannya menjawab, Sinta malah membuka tasnya, lalu meraih ponsel dari dalamnya.
"Coba kamu lihat" perintah Sinta seraya membuka menu galery, lalu menyodorkannya ke tangan Kennan.
Kennan tercengang setelah melihat rekaman itu, ia berusaha menahan diri untuk tidak teriak, untuk tidak mengeluarkan umpatan.
Namun dia tak bisa menahan diri untuk tidak mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Kamu sabar Ken, kita harus pakai trik untuk menjebloskannya ke penjara, takutnya nanti dia kabur, jadi pelan-pelan saja"
"Dia sudah membunuh anakku bu, dan hampir membunuh istriku, aku tidak bisa sabar lagi"
"Ibu tahu, Tap_" Belum sempat Sinta menyelesaikan ucapannya, Kennan keburu bangkit dari duduknya, lalu berjalan keluar hendak mendinginkan otaknya yang mendadak panas.
"Aaarrggg,,," bruuk Kennan berteriak sembari melempar batu ke sembarang arah. Posisinya yang berada di belakang rumah sakit, dan karena sudah hampir pukul sepuluh malam, suasana sudah sepi, bahkan tak ada orang yang melintas di area Kennan menyendiri "Gila kamu Widia, jahat sekali kamu" teriak Kennan menahan amarah.
"Ternyata kamu lebih menakutkan dari Frea, Sinting kamu Widia. Awas saja kamu, besok aku akan memberimu pelajaran, pembunuh kamu...!
"Ternyata baikmu, selama ini menyakitiku dan istriku, ternyata selama ini kamu hanya berpura-pura, ular kamu Widia"
Bersambung
__ADS_1
Mau unfav, ya monggo, mau menyukai ya saya terimakasih, mau komentar ya lebih baik tulis kalimat yang baik-baik
Sebuah penghargaan tertinggi bagi saya, jika mbak-mbak dan mas-mas sudi dan mau baca karya-karyaku. 😘