
Usai makan malam, dua keluarga duduk berkumpul di ruang tv rumah Rio. Mereka akan memberitahu pada Zara, bahwa saat ini statusnya adalah seorang istri.
Rio dan Irma duduk bersebelahan, begitu juga Danu dan Nina. Sedangkan Zara di ujung sofa bersebrangan dengan Kennan. Semetara Kenes dan Ayu, mereka sibuk mengutak-atik kabel data untuk di sambungkan ke televisi, memperlihatkan siaran vidio saat Kennan mengucapkan ijab qobul beberapa hari yang lalu.
"Mbak" Panggil Rio dengan suara lembut namun tegas "Mbak tahu kan, kita mau bicara?"
Zara mengangguk, namun dia tak tahu sesuatu apa yang akan mereka bicarakan.
Sebelum memulai bicara, Rio memberikan lima lembar photo pada anak perempuannya yang kini menjadi pusat perhatian seisi rumah.
Salah satu isi dalam foto itu menunjukan bahwa Rio dan Kennan sama-sama memakai peci dan tengah berjabat tangan, foto lainnya menampilkan keluarga besar mereka, serta foto berupa uang lima lembar seratus ribuan dan sebuah cincin.
Sembari meneliti lembar demi lembar, dalam hati dia bertanya-tanya. Hingga ia tak mampu lagi untuk menyimpan pertanyaannya.
"Ini maksudnya apa pi?" Zara bertanya dengan pandangan fokus ke arah Rio.
"Nduk, itu foto di ambil pada saat mas Kennan mengucapkan ijab qobul di depan kami, di saksikan oleh kakek Arifin dan juga yang lain"
Sepersekian detik, jantung Zara mendadak nyeri, yang ada di pikirannya, adalah Kennan sudah menikah, dan entah menikah dengan siapa? Tapi herannya, kenapa papi Rio yang menjabat tangan Kennan. Susah payah Zara menelan salivanya, berusaha meredakan rasa nyeri yang tiba-tiba muncul, namun tidak bisa, bahkan nyeri itu kian menyesakkan di dalam dada.
"I-ijab qobul pi?" tanya Zara tergagap, penglihatannya mendadak buram karena ada air yang melingkupi mata. Sekilas pandangannya ia alihkan pada Kennan yang tengah menatapnya lekat.
Rio mengangguk
Zara menunduk, berusaha menyembunyikan air mata yang sudah meluncur.
Dengan siapa mas Ken menikah? kenapa papi yang ada di foto ini?
"Nduk, maafin papi, sudah menikahkanmu tanpa meminta persetujuan darimu"
Seketika Zara mendongakkan kepala, dengan sorot mata yang seolah meminta penjelasan.
"Menikah?"
"Mi, mami tukeran tempat duduk dengan mas Ken ya"
Dengan cepat Irma beranjak dari duduknya, setelah mengiyakan perintah sang suami.
"Duduk sebelah papi nak" perintah Irma pada Kennan. Sedangkan Rio bertukar tempat duduk dengan Zara. Kini Zara dan Kennan duduk berdampingan tepat mengahadap ke Danu dan Nina.
__ADS_1
"Ini ada apa si pi?" tanya Zara masih dengan raut bingung dan jantung yang kian ribut
"Mbak liat ini ya" ucap Kanes seraya menekan tombol play pada remot.
Tanpa di komando, Zara dan yang lainnya kompak mengalihkan pandangan ke arah televisi di belakang Irma.
Sebuah vidio yang sedang di tampilkan melalui televisi, dalam vidio yang berdurasi sekitar 25 menit itu, terdengar suara parau milik Rio yang tengah mengucapkan kalimat Ijab menggunakan bahasa arab.
“Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka binti Azzara Yuanda Anggara alal mahri Rp 500.000, dan cincin, hallan.”
Artinya: “Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu, puteriku Azzara Yuanda Anggara dengan mahar Rp 500.000 serta cincin, tunai.”
Dengan suara lantang, Kennan menjawab kalimat ijab dari Rio dengan kalimat qabul dalam bahasa Arab
“Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq.”
Artinya: “Saya terima nikah dan kawinnya dengan mas kawin (mahar) yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah.”
Setelah di sahut kata sah oleh orang kepercayaan kakek abi, dan juga bagas sebagai saksi, dalam vidio itu berlanjut menampakan wajah kakek yang tengah membacakan doa, kemudian suasana haru, dimana Rio memeluk tubuh Kennan.
Sudah cukup jelas bahwa detik itu juga, Rio menyerahkan tanggung jawab Zara pada Kennan.
"Sekali lagi papi minta maaf" ucap Rio sesaat setelah vidio selesai di putar. "Mulai saat ini, kamu adalah istri dari Kennan Abraham Buwana" lanjut Rio, dalam hati kecil Rio, dia merasa sangat bersalah pada putrinya.
"Sayang, jika kamu tidak setuju dengan pernikahan ini, kamu bisa membatalkannya" sambung Danu.
Kennan yang sedari tadi hanya diam, kini melakukan pergerakan, ia mengambil dompet di dalam saku celananya, mengeluarkan uang serta cincin yang ia gunakan sebagai mahar.
"Za, ini mahar dari mas" pungkasnya di iringi debaran jantung, takut-takut Zara menolaknya "Maaf, mas yang udah paksa papi jadi wali ijbar buat nikahin kamu sama mas"
Zara yang sudah menahan rasa gugup, khawatir, sedih dan menahan debaran jantung serta keringat dingin dari awal pembicaraan, kini ia tak mampu lagi mempertahankan tubuhnya yang kian lemah, tiba-tiba dia menjatuhkan badan, Kennan yang duduk di sampingnya segera menangkapnya.
Sontak semua terkejut dan memanggil nama Zara secara bersamaan
"Za" panggil Kennan seraya merengkuh tubuhnya, jantung Kennan seolah bekerja keras saat itu juga.
"Nes ambil minyak kayu putih cepat" perintah Irma. Dan Kanes pun langsung berlari menuju lemari tempat penyimpanan kotak P3K.
"Ayu ambil air putih Yu"
__ADS_1
"Iya bund"
"Boleh di lepas dulu hijabnya Ken"
Kennan segera melakukan perintah Irma.
Beberapa menit berlalu, Zara mulai membuka matanya "Tiduran dulu kalau masih pusing, nggak apa-apa Za" ujar Kennan, ia masih memangku kepala Zara.
Perlahan Zara bangkit, kedua tanggannya ia usapkan ke wajah
"Gimana nak?" tanya Irma
"Mbak nggak apa-apa mi" jawabnya sambil menerima gelas dari Nina. "Cuma pusing sedikit"
Setelah meneguk air hingga tandas, Zara menghela napas panjang, lalu memindai pandangan pada Rio. Ia ingin menanyakan tentang kejelasan mengenai pernikahan ijbar.
"Mengenai pernikahan itu?" Zara meneguk ludahnya, ia edarkan pandangannya pada Danu dan Rio bergantian "Bagaimana bisa terjadi tanpa adanya aku saat ijab?"
"Yakin mau bahas ini sekarang dek?" potong Kennan dengan sorot mata ke wajah Zara
"Nggak apa-apa mas"
Setelah di jelaskan oleh Rio dan juga Danu, Zara sedikit mengerti tentang pernikahan yang dia alami.
"Sekarang bagaimana?" tanya Rio dengan sangat hati-hati "Secara agama, kamu sudah sah jadi istri mas Ken, tapi secara hukum, kalian belum sah"
Zara masih membungkam mulutnya, dia merasa akhir-akhir ini hidupnya penuh dengan kejutan. Pertama, Kennan yang saat itu mengatakan bahwa Danu dan Nina sudah merestui hubungannya, kedua, tentang penculikan dan penyelamatannya, dan kali ini tentang pernikahannya.
Di sana, ganti Kennan yang tidak bisa menguasai rasa gugupnya, Keringat dingin tiba-tiba muncul di pelipisnya, serta debaran jantung yang berdetak cepat, bak lari di atas treadmil dengan kecepatan tinggi.
"Kalau mbak nggak setuju" kali ini Danu yang mengatakan "Nanti mas Ken akan langsung menalakmu, dan kalau setuju, kita akan daftarkan ke KUA, dan akan langsung meresmikannya"
Bersambung
Masih nungguin tiap episodenya enggak?..
aku crazy up mau?
Padahal lagi males nerusin, konsentrasi benar2 bubar termasuk ide yang udah ketangkep di kepala ilang semua, apalagi kalau baca komentar di novel sebelumnya, pengin masuk kulkas jadinya 😂
__ADS_1
pengin fokus juga lanjutin novel Cintaku tumbuh di macau
😀😀😀