Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)

Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)
Bab 29


__ADS_3

Satu tahun setelah keluar dari penjara, Sinta menikah dengan seorang pengusaha asal Thailand. Karena harus menjalani hukuman selama 15 tahun, dia baru menikah di usia yang tidak lagi muda, 43 tahun tepatnya.


Setelah menikah, sang suami membawanya tinggal di negaranya dan menetap di sana sebagai warga negara Thailand.


Beberapa tahun setelah pernikahannya, Sinta mengunjungi Agata yang saat itu tinggal bersama anaknya di Australia.


Saat mengunjungi tantenya, dia sempat melihat sebuah album pernikahan milik sepupunya. Dan netranya menangkap sebuah foto wanita berhijab, tengah berdiri di samping manekin dengan gaun pengantin rancangannya terpampang di patung itu. Seketika ia ingat dengan seseorang bernama Karenina. Wanita yang ikut andil dalam menjebloskannya ke penjara.


Dan rasa balas dendam pun tiba-tiba muncul dalam isi kepalanya, apalagi saat Agata bercerita sedikit tentangnya, bahwa dia memiliki dua anak yang menggemaskan.


Di saat Nina bahagia dengan suami dan kedua anaknya, Sinta justru pontang-panting kesana kemari demi untuk mendapatkan keturunan. Di usianya yang sudah kepala empat, kemungkinan memiliki anak hanyalah 25%. Setelah di nyatakan hamil, dia justru harus kehilangan bayinya sampai dua kali keguguran. Hingga lebih dari tujuh tahun, dan usianya menginjak kepala lima, Sinta pun menyerah.


Hari-hari ia jalani dengan sang suami tanpa adanya seorang anak. Baru beberapa bulan yang lalu, suamipun pergi untuk selamanya.


Di saat kesendiriannya itulah, tiba-tiba rasa balas dendam kepada Nina itu semakin naik hingga berada di level tertinggi.


"Bagaimana gadis itu?" ucapnya melalui sambungan telefon


"Aman bos"


"Kalian tahu kan, aku tidak bisa membawanya menginap bersamaku di hotel?"


"Tahu bos"


"Jadi jaga dia baik-baik, keluarganya tidak akan pernah mengira bahwa aku yang sudah menculiknya. Besok pagi aku akan menjemputnya dan membawanya tinggal bersamaku"


"Siap bos"


Sinta benar-benar tidak menyadari, bahwa rumah Nina di Jakarta di tempati oleh Yuni, pengasuh Kennan saat kecil. Membuat Yuni terheran dan akhirnya melaporkan pada Nina. Serta sebuah photo yang sempat Kennan temukan di pantai, menjadi petunjuk bahwa Sintalah pelaku penculikannya.


******


Tanpa sepengetahuan anak buah Sinta, Haidar dan kawan-kawan sudah mengerahkan anak buahnya untuk mengawasi sekitar lokasi. Mereka sudah terkepung oleh pasukan polisi. Petugas yang di bagi menjadi dua yakni, tim penyergap dari gegana, dan tim penyidik dari mabes polri.


Tepat pukul 1:30 dini hari, di tengah kesunyian malam nan dingin, kedua tim mulai menyergap. Bersamaan dengan kedatangan Kennan serta Bagas dan bima. Tanpa di komando, Bagas langsung melancarkan aksinya begabung dengan tim.


Pertama, mereka akan membereskan tiga pelaku penculikan yang berjaga di depan pintu masuk. Ketiganya dengan gampang di lumpuhkan oleh bagas dan juga tim dari penyergap, tanpa menimbulkan riuh suara ataupun perlawanan dari si pelaku.


Haidar dan tim penyidik segera memasuki gedung bekas butik, ada sekitar lima orang pelaku yang sedang terlelap, mereka langsung di bekuk dengan mudahnya.


Sempat ada pelaku yang mencoba melawan, dengan senjata tajam, namun bisa di atasi oleh anggota tim.


Dengan gerak cepat Kennan barlari menuju lantai atas, untuk mencari keberadaan Zara.


Kennan yang dulu sering di ajak Nina bekerja, membuatnya paham tata letak ruangan gedung bekas butik ini. Saat mendapati sebuah ruangan tertutup rapat, Kennan segera memutar handle pintu, namun terkunci.


"Ah sial" umpatnya dengan napas tersengal

__ADS_1


"Mas" Suara Bima yang setengah berlari menaiki anak tangga "Apa mbak ada di dalam?"


"Sepertinya iya Bim, tapi pintu terkunci" jawabnya seraya terus berusaha memutar handle pintu.


Tak lama kemudian, Haidar dan juga bagas ikut menaiki tangga dengan tangan membawa serta kunci yang di berikan oleh si pelaku. Sedangkan kedelapan pelaku itu, sudah di amankan dan di bawa ke kantor polisi untuk di mintai keterangan.


"Ken, coba kunci yang ini" Perintah Haidar sambil menunjukan salah satu kunci dari empat kunci yang tergabung menjadi satu. Kunci yang memang sudah di beri tahu oleh si pelaku.


Gegas Kennan melakukan apa yang Haidar suruh. Dengan gugup Kennan memutar kunci itu, perlahan pintu terbuka.


Betapa terkejutnya saat melihat Zara dengan kondisi tubuh yang sangat lemah, tanpa penutup kepala, rambut panjangnya di biarkan tergerai. Dengan tangan dan kaki terikat.


"Zara"


"mbak Zara"


ucap Kennan dan Bima nyaris bersamaan. Ke empat pria itu berlari ke arah Zara.


"Za" panggil Kennan


Zara yang tubuhnya merasa kehabisan energi karena terlalu lama duduk, tak menyahuti panggilan Kennan.


Perlahan membuka mata, dengan pandangan yang sedikit kabur, dan kesadaran belum sepenuhnya terkumpul, membuat Zara bergumam.


"Tolong" lirihnya


"Za, buka matamu, mas dan Bima di sini Za, ada pak dhe Haidar juga" pungkasnya dengan kepanikan level teratas.


Haidar yang menemukan sebuah gunting di laci meja, langsung memakainya untuk menggunting tali ikatannya. Beberapa menit kemudian, Bi Yun datang membawa segelas air putih.


Dengan langkah tergopoh, Bibi Yuni berjalan mendekat "Nak, minum dulu"


Kini tali ikatan terlepas dari tangan dan juga kaki Zara, yang menimbulkan bekas merah di pergelangan tangannya.


"Ken, lebih baik bawa Zara ke rumah sakit" ucap Haidar yang langsung di setujui oleh Bi Yuni.


Kennan segera mengangkat tubuh Zara.


Haidar dan Kennan membawanya ke rumah sakit terdekat, dengan menggunakan mobil milik Haidar. Bima dan Bagas, memilih menunggu di rumah bibi Yuni..


Tepat pukul 03:02 Am, Kennan telah sampai di rumah sakit, Suster memerintahkan untuk membawanya ke ruang IDG.


Sembari menunggu dokter memeriksa kondisi Zara, Haidar dan Kennan terlibat perbincangan.


"Ayah bunda sehat nak?" tanya Haidar. Mereka duduk di kursi panjang depan ruang IGD.


"Sehat pak dhe"

__ADS_1


"Kakek, Nenek, semua sehat?"


Kennan mengangguk "Pakdhe sendiri sama budhe bagaimana?"


"Alhamdulillah, Kami sehat" Sahutnya "Insya Allah, tiga bulan lagi pakdhe pensiun, dan akan kembali ke Malang. Pakdhe juga merekomendasikan Bagas untuk menggantikan tugas pakdhe di sini"


"Jadi kemungkinan bagas akan menetap di sini dhe?"


Haidar menganggukan kepala "Iya sebagai seorang polisi memang harus siap, dimana kita akan di tugaskan"


"Hebat pak dhe" puji Kennan di balas senyuman oleh Haidar.


"Kamu sudah menikahi Zara tha?"


"Sudah dhe"


"Nah tanggung jawabmu bertambah sekarang"


"Keluarga pasien" ucap dokter tiba-tiba


Kennan dan Haidar bergegas berdiri "Bagaimana istri saya dok?"


Dokter perempuan yang di ketahui bernama syarmila tersenyum tipis "Istri bapak tidak apa-apa, hanya mengalami dehidrasi dan kelelahan" ujarnya masih dengan senyum tipisnya "Pasien akan kami pindah ke ruang rawat, Cukup istirahat beberapa hari disini, nanti bisa di ijinkan pulang"


"Terimakasih dok"


"Pak, bapak bisa mendaftarkan pasien terlebih dulu, setelah itu, baru akan kami pindahkan ke ruang rawat inap" ucap suster "Mari saya antar"


"Ken, pak dhe disini temani Zara, kamu registrasi dulu"


"Iya, titip Zara dhe"


Sebuah ruangan VVIP sudah di pilih oleh Kennan, Haidar berpamitan sesaat setelah Zara di pindahkan ke ruang perawatan, beliau di jemput oleh Arsen, suami dari Jenaira.


"Pak dhe pulang dulu, besok datang lagi sama budhe jenguk Zara"


"Makasih pak dhe" Kennan mencium punggung tangan Haidar lalu Arsen.


"Kamu istirahat, jangan lupa kunci pintu" Ucap Haidar sambil menepuk pelan punggung Kennan


"Iya pakdhe"


"Ken, pulang dulu ya" pamit Arsen


"Hati-hati mas"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2