Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)

Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)
Bab 34


__ADS_3

"Ini mau di apain bun?"


"Mau di bikin cap cay mbak"


"Aku bantu potongin ya bun"


"Iya sayang, hati-hati motongnya ya" Nina mengatakan dengan pandangan fokus mencuci ikan.


"Bun" panggil Zara hati-hati


Tadi siang, sepulang dari mall, ada jeda beberapa jam sebelum Nina dan Zara memasak. Mereka berkumpul membicarakan tentang kasus sinta, dimana Nina dan Irma sudah memutuskan untuk berdamai dengannya, dan memaafkannya.


Ada ketidak relaan di hati Zara sebenarnya, namun, jika itu sudah menjadi keputusan Nina dan Irma, jangankan Zara, Danu dan Rio bahkan tak berani menentangnya.


Nina mengernyit ketika Zara hanya diam "Mbak" panggilnya


"Iya bund"


"Ada apa?"


"Bunda sama mami kenapa memaafkan Sinta?"


Nina yang tengah membersihkan sisik ikan, berhenti sejenak lalu menatap menantunya.


"Padahal ayah sama papi kan tidak setuju bund?"


Sebelum menjawab, Nina menyunggingkan senyum.


"Mbak pasti pernah dengar ceramah kakek abi" Nina mengambil napas lalu kembali membersihkan sisik ikan. "Setiap manusia, banyak berbuat salah (dosa) dan sebaik-baik dari orang seperti itu, adalah orang yang banyak bertaubat"


"Itu hadist Tirmidzi bund" timpal Zara sambil memotong wortel


"Betul" sahut Nina seraya mengguyur ikan di bawah kran air.


"Bunda sama mami, memberikan kesempatan pada Sinta, dengan harapan dia bisa bertaubat"


"Apa bunda takut, kalau bunda menghukumnya, Sinta akan balas dendam lagi setelah kasus ini?"


Nina mengangguk, membuat Zara menghela napas lalu mengatupkan bibirnya.


"Tapi, kalau dia mengulanginya lagi gimana bun?"


"Mengulangi gimana maksudnya mbak?"


"Kalau Sinta kembali menculiku, Ayu, atau Kanes?" Zara memberi jeda sejenak lalu menatap Nina dalam "Soalnya bun" lanjutnya sambil merendam beberapa sayuran "Dia mau menjadikanku anaknya, karena dia tidak punya anak"


"Jangan khawatir, bunda sama mami membebaskannya juga dengan syarat"


Hening selama beberapa menit.


"Maaf ya mbak, bunda sama mami hanya ingin memberikan kesempatan pada Sinta untuk merubah dirinya menjadi lebih baik. Setiap orang berhak mendapatkan maaf kan, dan berhak berubah juga"


Zara mengangguk paham "Jadi bunda sama mami udah yakin akan ke Jakarta buat sidang pertama sekalian nemuin Sinta?"


Giliran Nina yang menganggukan kepala "Ayah sama mas Ken sudah minta bantuan mas Bagas buat ndampingi bunda sama mami ke Jakarta, di antar sama sopirnya kakek abi nanti"

__ADS_1


"Mau naik mobil bund?" tanya Zara sedikit terkejut "Jauh loh"


"Kalau bisa di tempuh dengan mobil, bunda lebih milih naik mobilnya, ketimbang naik pesawat"


"Sama kaya mami berati, nggak suka naik pesawat"


"Ngomong-ngomong soal mamimu" ujar Nina seraya mengiris bawang "Saat muda dia suka bolak-balik Jakarta-Surabaya naik mobil"


"Mami nyetir sendiri bun?"


"Hu'um. Pernah bawa mas Ken, sama bi Yuni dulu, dari Jakarta ke surabaya, dan alhamdulillah, selamat sampai tujuan"


Kini bahan sayuran sudah di cuci bersih dan sedang di tiriskan sebelum di masak.


"Masak apa dek?" kata Kennan yang tiba-tiba terdengar dari arah belakang "Ayah kemana bund?" sambungnya sembari menarik kursi makan lalu duduk.


Zara dan Nina bahkan belum memulai memasak dan baru akan menggoreng ikan, namun Kennan sudah duduk seolah makanan akan segera di sajikan. Nina mengalihkan pandangan padanya lengkap dengan gelengan kepala.


"Ayah lagi mandi kayaknya" jawab Nina lalu kembali memusatkan perhatian pada bahan masakan. "Tadi bunda menyuruhnya menyiram tanaman, dan baju ayah sedikit basah"


Kennan hanya duduk diam sambil memperhatikan Zara memasak. Sesekali wanita yang tengah ia tatap melihat ke arahnya.


Dan Zara merasa kikuk karena aktifitasnya tak lepas dari tatapan Kennan.


********


Selesai makan malam, Zara mencuci semua peralatan makan, di bantu oleh Kennan dan Ayu yang mengelap dan merapikan meja. Sementara Danu ke ruang kerjanya, dan Nina ke ruangan khusus untuk menjahit, karena harus menyelesaikan rancangan gaun pernikahan untuk Kennan dan Zara, yang akan di adakan satu minggu lagi.


"Buatkan teh jahe dek" perintah Kennan usai merapikan meja makan. Lalu melangkah keluar dapur setelahnya.


"Ruang tv" jawabnya sambil mengayunkan kaki.


Zara langsung memanaskan air, lalu mengisi cangkir dengan dua sendok bubuk jahe, dan satu sendok gula.


Tak ada Kennan di ruang tengah, hanya ada laptop di atas meja. Usai meletakan teh jahe di atas meja, Zara berniat kembali ke dapur


"Mau kemana?" Pertanyaan Kennan yang mendadak saat berpapasan, membuat Zara tersentak. "Mmas"


"Kenapa?" kaget?" atau deg-degan?" Reflek Zara mencubit lembut pinggang Kennan, kedua tangannya tengah memegang sebuah map, yang baru saja di ambil dari kamar


"Mau lanjut bantu Ayu cuci piring"


"Belum selesai memangnya?"


"Belum"


"Dua orang cuci piring dari tadi belum selesai juga?" tanya Kennan lalu melanjutkan langkahnya "Sambil ghibah pasti ya" imbuhnya membuat Zara balik badan dan menatap punggung Kennan.


"Iya ghibahin mas"


Kennan tersenyum kemudian duduk di lantai "Alhamdulillah, dosa mas berkurang, dosamu dan Ayu nambah"


"Dosa mas nggak jadi berkurang, sebab dosaku mas yang tanggung"


"Ah kamu ada-ada saja sayang" sahutnya sambil terkikik. Dan Zara kembali melangkah memasuki area dapur

__ADS_1


Usai cuci piring, Zara menghampiri Kennan.


Kennan yang menyadari kedatangan Zara, dia melirik sekilas lalu kembali fokus pada pekerjaannya. "Sudah selesai cuci piringnya?"


"Sudah" Zara duduk lalu meraih remot tv dan menekan tombol power.


"Tadi papi kirim pesan ke ponselmu, mas lihat pas mas ke kamar"


"Pesan apa?" tanya Zara dengan sorot mata sepenuhnya ke layar televisi


"Papi tanya, Ada berkas yang harus di bawa ke kantor atau tidak?" Kennan mengatakannya setelah melihat Zara sekilas. "Kalau ada, besok mau di bawain sekalian sama papi ke kantor"


"Nggak ada, aku nggak pernah bawa pulang pekerjaan kantor kalau hari sabtu"


"Kalau gitu balas pesan papi"


"Ya sudah aku ke kamar dulu ambil ponsel" ucap Zara lalu berdiri dari tempat duduknya


"Ini ponselnya, udah mas bawain"


Beberapa menit berlalu, tak ada percakapan lagi antara Zara dan Kennan, hanya ada suara yang berasal dari televisi.


"Mas"


"Hmm" sahut Kennan dengan pandangan tetap tertuju pada monitor.


"Apa bunda juga membebaskan semua suruhan Sinta?"


Kennan menghentikan gerakan tangannya yang tengah menggeser mouse, lalu menoleh ke kiri dimana Zara duduk.


"Kenapa memangnya?" tanya Kennan menyelidik


"Aku nggak suka sama preman-preman itu" jawab Zara sambil mengingat perlakuan para preman saat menyekapnya "Mereka sudah bentak-bentak aku, sama sentuh2 tanganku"


"Wah berati tanganmu udah nggak suci dong"


"Aku serius mas"


"Iya-iya, maaf" Kennan menatap Zara dengan senyum terkulum.


"Bunda cuma bebasin Sinta saja sayang. Semua suruhannya tetap akan menjalani hukuman"


"Baguslah" respon Zara cepat yang membuat Kennan menaikan satu alisnya.


"Gondok banget ya dek sama preman-preman itu"


"Iya" jawabnya sambil berdiri


"Mau kemana?"


"Ke bunda, lihat gaun rancangannya"


BERSAMBUNG


Hari ini di usahain crazy up...😀

__ADS_1


__ADS_2