
Sampai ketika Kennan tiba di rumah, ia bergegas melangkah masuk setelah mengucap salam. Tak ada yang menyahut, karena mungkin penghuni rumah sedang berada di kamar.
Langkah kaki Kennan semakin lebar menuju dapur.
"Bun" Sapanya ketika menemukan sosok bundanya berdiri di depan kompor.
"Eh sayang, sudah pulang?" tanya Nina yang menoleh sejenak, lalu kembali fokus memasak.
Kennan menganggukan kepala, lalu mencium punggung tangannya. "Bun, ini punya bunda ya?" Kennan menyodorkan lembaran photo
"Apa?" tanyanya masih dengan gerakan tangan menumis sayur, tidak sampai lima detik, Nina mengambil photo itu dari tangan Kennan.
Wajahnya memanas, mulutnya terkatup rapat, jantung mendadak berdesir, ketika menjumpai ada wajah dirinya, bu Agata, Sinta, dan beberapa karyawan butik Shevano di lembaran photo itu. Photo itu di ambil, tepat satu bulan Nina bekerja di butik milik Agata.
Menelan salivanya, kemudian menatap wajah Kennan
"Kamu dapat ini dari mana nak?"
"Ken nemuin di pantai bun, tempat di temukannya motor Zara"
"Nemu di pantai?" sahutnya dengan rahang yang kemudian mengatup rapat
"Hmm" jawab Kennan di iringi anggukan kepala
Tanpa berkata apapun lagi, Nina bergegas menuju ke kamar untuk menemui Danu yang tadi setelah pulang kantor berpamitan untuk mandi.
"Bun, ini masaknya gimana?" teriak Kennan namun tak mendapat sahutan dari Nina. Kennan yang memang sudah di ajari memasak sejak duduk di bangku MA, langsung mengambil alih menggantikan bundanya.
"Mas" panggilnya dengan suara agak keras sesaat setelah membuka pintu kamar. Tampak Danu sedang mengenakan kaos yang sudah di persiapkan Nina sebelumnya.
"Ada apa?" jawabnya Santai lalu menatap poto yang sudah berada di tangannya
"Ini kamu sama teman-temanmu?" kapan itu?"
"Mas, yang ini" Nina menunjuk wajah bu Agata "bos aku dulu pas di Jakarta "Terus yang ini" Kali ini jari telunjuknya menyentuh wajah lainnya "Adalah Sinta, rekan kerjaku yang juga pernah mendorongku sampai aku harus melahirkan Kennan secara caesar"
Kening Danu seketika mengerut
"Ini Kennan nemu di pantai katanya mas, dimana motor mbak Zara di temuin"
"Lalu?" tanya Danu masih belum faham
"Aku punya filling kalau bu Agata, atau Sinta yang menculiknya, Mungkin si penculik itu tidak sengaja menjatuhkan ini"
"Seyakin itu filingmu sayang?" tapi kenapa bu Agata atau Sinta menculik Zara?"
"Bisa jadi bu Agata marah dan membenciku, karena dulu" Nina menjeda untuk menelan salivanya "Beberapa kali dia menyuruhku untuk kembali bekerja di sana, dan aku menolaknya karena mas melarangku"
__ADS_1
"Ya gimana mas nggak ngelarang, kamu istri pemilik perusahaan, masa kerja jadi karyawan orang lain"
"Iya aku ngerti"
"Lalu, sedangkan Sinta, dia mau balas dendam ke kamu, karena kamu dulu ikut menjebloskannya ke penjara?" tanya Danu yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Nina
"Yakin begitu?" tanyanya lagi dengan satu alis terangkat
"Yakin mas, karena yang punya foto itu hanya bu Agata sama Sinta, aku yakin yang lain nggak punya"
"Kalau begitu kita harus beritahu Kennan dan juga Rio" ucapnya sembari meraih dompet, dan ponsel di atas nakas "Ayo sekarang kita ke rumah Rio" Ajaknya lalu menggandeng tangan Nina
Kennan yang sedang memasak, di kejutkan oleh suara ayahnya yang mendadak
"Ken, ayo kita ke rumah papi sekarang"
Kennan yang masih belum paham, menurut begitu saja.
Sedangkan Nina setengah berlari menuju mbak Harti yang sedang menyetrika pakaian "Mbak, nyetrikanya stop dulu, tolong lanjutin masak, saya mau pergi"
Nina meninggalkan mba Harti dengan terburu-buru setelah ucapannya di iyakan olehnya.
"Biar ayah yang nyetir ken" ucap Danu sambil membuka pintu bagian kemudi "Kamu hubungi temanmu, untuk mencari keberadaan bu Agata dan juga Sinta" Danu telah siap di kursi kemudi dan sedang menunggu Nina "Kamu kirim foto itu ke Bagas. Minta dia mencari di area Surabaya"
"Iya yah" jawaban Kennan bersamaan dengan Nina yang membuka pintu mobil
"Ayo mas jalan"
Sesampainya di rumah Irma, Nina segera mencari keberadaan sahabatnya. Ia memeluknya ketika mendapatinya yang tengah duduk di ruang keluarga, dengan mata sembab dan pandangan kosong menatap layar televisi.
"Maafin aku Ir"
Irma membalas pelukan Nina
"Ada apa Nin?" tanyanya mengusap punggung Nina. Rio, Bima, Kanes dan juga Ayu yang memang masih tinggal di rumah Rio segera menghampirinya. Mereka kini duduk berkumpul di ruang keluarga
"Kemungkinan yang nyulik Zara itu Bu Agata atau nggak Sinta"
Irma menatap lekat wajah Nina seolah mencari keyakinan lewat sorot matanya "Kenapa mereka Nin?"
"Balas dendam"
Sepersekian detik Irma mengingat kejadian di masa lalunya saat ia mengunjungi Sinta di penjara "Pasti Sinta Nin, dia pasti balas dendam padaku"
"Enggak, dia balas dendam padaku Ir, aku yang sudah memasukannya ke penjara"
Danu, Rio dan yang lainnya hanya menyaksikan dua wanita itu yang tengah terlibat perdebatan kecil.
__ADS_1
Irma menggelang "Untuk apa dia balas dendam padamu, bu Agata yang sudah memenjarakannya, bukan kamu"
"Tapi aku yang terlibat masalah denganya, bukan kamu"
"Aku juga terlibat masalah dengannya Nin"
Ucapan Irma membuat Nina terkejut sekaligus tidak percaya "Kamu ada masalah dengannya?"
Irma mengangguk "Aku mengunjunginya di penjara tanpa sepengetahuanmu"
Mata Nina berkaca-kaca, ia semakin tidak mengerti.
"Aku menghinanya, menertawakannya, dan juga menamparnya, saat itu"
"Apa?"
"Iya Nin, dan pasti Sinta yang sudah menculik anaku, karena dia sempat bilang, akan membalas hinaan dan tamparanku suatu saat nanti" ucapnya dengan suara sedikit tertahan "Dan aku, justru kembali menertawakannya"
Tampak Rio mengusap wajahnya, sedangkan Danu, Kennan yang duduk berdampingan, hanya diam menatap dua wanita di depannya.
"Kenapa kamu melakukan itu Ir, kamu tahu dia sangat nekad, bahkan dia berniat menghancurkan tantenya sendiri"
"Karena kamu dan juga Kennan" sahut Irma
Nina terhenyak, tak mampu lagi bersuara. Kennan yang mendengar namanya di sebut, seketika mengurai tangannya yang tadi ia lipat di dada, lalu menegakkan duduknya.
"Saat itu aku benar-benar marah padanya Nin" lanjut Irma "Aku berfikir jika kamu dan Kennan saat itu tidak bisa di selamatkan, pasti aku yang akan merasa sangat bersalah, karena aku mendukung rencanamu pergi dari rumah, menyembunyikanmu dari abi dan juga umi"
"Ketika aku baru sampai di Jakarta untuk yang kedua kalinya, aku bahagia melihatmu dan Kennan dalam kondisi baik-baik saja, aku merasa lega. Tapi setelah mendengar cerita dari mbak Yuni, aku tidak bisa mengendalikan diriku saat itu, dan esoknya aku pergi ke penjara untuk menemui Sinta.
"Dan setelah aku mengunjunginya, aku tidak bisa lagi menyembunyikanmu dari keluargamu, disitulah aku menghubungi mas Haidar dan memberikan alamat kita padanya, yang sebelumnya aku juga lebih dulu menceritakan apa yang menimpamu, semuanya"
Jam sudah menunjukan pukul 5 sore, Ayu dan Kanes, meninggalkan ruang TV dan pergi ke dapur untuk membantu sang ART memasak. Seolah tidak mampu lagi mendengar pembicaran mami dan bundanya yang menurutnya sangat menguras air mata.
"Ternyata dia benar-benar serius dengan ucapannya Nin"
Nina membenamkan wajah Irma di dadanya "Ini Salahku Ir, maafkan aku, maaf" seloroh Nina dengan suara paraunya
Ke empat pria yang masih duduk menyaksikan pun turut meneteskan air mata
Masih dalam posisi yang sama, sebuah deringan ponsel dari tas Nina membuyarkan fokus mereka.
Yuni Calling....
BERSAMBUNG...
Kebanyakan reader tidak suka dengan cerita yang konfliknya lelet,
__ADS_1
sedangkan aku membuat cerita dengan alur dan plot yang ngalir sesuai dengan ide yang ada di kepalaku, biar cerita nggak monoton..
konfliknya bentaran aja kok...setelah konflik batin ( ZaraKennan )dan konflik yang saat ini sedang di alami, nanti juga akan ada anak konflik lagi setelah pernikahannya, tp nggak akan lama kok