
Satu minggu dari kejadian jatuhnya Widia terlewatkan.
Sementara Zara yang hampir sebulan di rumah sakit, sudah di ijinkan pulang sejak lima hari yang lalu. Dia masih belum bisa berjalan, dia hanya mampu berdiri, namun kakinya belum mampu untuk melangkah.
Kini Kennan dan Zara masih menginap di rumah Rio.
Usai makan malam, dan usai Kanes mencuci semua piring bekas mereka makan di bantu oleh Bima, Mereka berdua akan bergabung dengan orang tua dan kakaknya di ruang tengah.
"Gendong dong Bim"
"Ish apaa sih mbak, tinggal jalan aja ke ruang tengah minta gendong"
"Ayo dek jalan, ikuti mami"
Mau tidak mau, Bima pun menuruti permintaan Kanes.
Ketika sepasang mata Zara menangkap tingkah kedua adiknya, ia mengernyit heran, lengkap dengan gelengan kepala.
"Kalian apa-apan si?" tanya Zara yang sudah tidak kaget dengan kelakuan Kanes.
"Pusing papi lihat mereka kalau lagi bareng, kalau nggak berantem ya saling jahilin" keluh Rio yang di respon senyuman oleh Kennan.
"Sebelas dua belas sama mbak Ayu pi. Mereka kan saudara yang tertukar" ucao Bima lalu menurunkan Kanes dudu di sebelah Rio. Dengan cepat Kanes mendaratkan kepalanya di pangkuan Rio.
"By the way gimana kondisi pinjihit itu mas?" tanya Kanes pada Kennan.
"Ngomongnya yang bener mbak" timpal Irma "Dia punya nama"
__ADS_1
"Ihh nggak mau nyebutin nama yang udah bunuh ponakan aku mi"
"Ya nggak boleh gitu"
"Jangan bahas itu deh mbak" kali ini seruan Rio di sertai dengan jentikan lembut jarinya di bibir Kanes yang masih berbaring di atas pangkuannya.
"Ish si papi mah" rintinya sambil mengusap bibir, lalu kembali fokus berselancar di dunia maya.
"Besok mau jengukin katanya pi"
"Mbak Za mau jenguk?" tanya Irma mengernyit.
Zara mengangguk pelan. "Pengin tahu kondisi mbak Widia mi"
"Mbakku memang hebat, udah di jahatin masih di baikin juga" kali ini Bima ikut menimpali. "Coba kalau mbak Kanes yang di gituin, pasti matanya udah mecicil-mecicil bibirnya udah nyun manyun kayak ikan lohan"
"Tuh kan mi, si adek suka gitu, makannya jangan heran kalau mbak galakin dia"
Bima berdiri hendak memasuki kamar, dia baru saja lulus dari MAnya kakek abi, dan akan lanjut kuliah di manajemen bisnis untuk membantu Kennan mengelola perusahaannya. Dia sedang dirumah sembari menunggu Ijazah keluar.
"Mau kemana dek?" tanya Kanes.
"Ke kamar"
"Ikut dong, gendong tapi?"
"Ogah" sahut Bima sambil terus berjalan, dan Kanes dengan gerak cepat langsung nempol di punggungnya.
__ADS_1
"Aarggh, mbak iseng banget si"
Rio dan Irma kompak menggelengkan kepala.
*****
"Makasih ya mas, sudah jagain mbak Za" ucap Rio ketika mendapati Kennan di serambi rumah sambil menikmati sebatang rokok.
"Papi" satu tangannya yang ia simpan di dalam saku, reflek keluar, sementara tangan satunya masih mengapit rokok. "Belum tidur pi?"
"Belum, tadi papi niatnya mau ambil air, malah lihat kamu di sini. Mas Ken kenapa belum tidur?, ini sudah malam, besok ke kantor kan?"
"Iya pi. Tadi sore ada pemberitahuan dari polisi, kasus Widia sudah mulai di proses pi"
"Begitu ya?"
"Tapi pi_"
Kennan menggantung ucapannya.
"Tapi apa?"
"Zara minta laporannya di cabut"
Seketika alis Rio menukik tajam. "Tapi mas nggak setuju pi, aku harus menyingkirkan duri itu dari dalam rumah tanggaku, tapi justru Zara menentangnya"
"Sekarang lebih baik tidur, kita bahas lain kali saja" perintah Rio.
__ADS_1
"Iya pi" tangan Kennan membuang puntung rokok, lalu menginjaknya hingga padam.
Bersambung