
"Za, kita bicara" ucap Kennan nadanya terdengar tegas, membuat jantung Zara seketika berdebam.
"Mau bicara apa mas?" manik hitam Zara bergerak mengikuti tubuh Kennan yang hendak duduk di tepian ranjang.
"Tadi siang kenapa pingsan?" Posisi Kennan kini duduk di tepi ranjang sebelah Zara berbaring.
"Enggak tahu mas" jawab Zara menunduk, menatap jari-jarinya yang saling bertaut di atas pangkuannya.
"Jangan bohongin mas dek, mas yakin kamu pingsan pasti ada sebabnya"
Zara mendongak menatap sang suami dengan sorot mata terluka. Susah payah menelan salivanya, ia menimbang-nimbang apakah harus menceritakan kejadian saat di foodcourt tadi siang atau tidak.
"Aku cuma masih kepikiran saja sama mamahnya Frea" dustanya
"Apa Widia mengatakan sesuatu?" tanya Kennan masih dengan ekspresi serius
"Enggak" jawab Zara di sertai gelengan kepala "Justru dia membantuku dari orang-orang yang memojokanku tadi"
"Siapa yang memojokanmu, memojokan yang seperti apa?" Kennan bertanya seraya melipatkan kaki kanannya di atas kasur, kedua sikunya bertumpu di pahanya sementara jemarinya saling menyatu. Matanya tak kalah tajam menyoroti netra Zara.
"Sudahlah mas, nggak usah di bahas, aku mau nurut sama mas sekarang, aku akan bekerja dari rumah" sergahnya tak berani membalas tatapan Kennan.
Hembusan nafas Kennan terdengar di telinga Zara, membuat Zara kian merasa bersalah.
"Ya sudah sekarang istirahat" pungkas Kennan lalu bangkit dari duduknya.
"Mas nggak tidur?"
"Mas masih banyak kerjaan, kamu tidur saja dulu"
Zara mengerjap menatap lekat punggung Kennan yang kian menjauh. Untuk pertama kalinya dia begitu ingin memeluk sang suami, karena merasakan betapa kerasnya Kennan berusaha melindungi dirinya dari orang-orang yang ingin menyakitinya.
Zara bergerak bangkit lalu bergegas memeluk Kennan dari belakang. "Maaf" ucap Zara lirih, salah satu sisi wajahnya menempel di punggung Kennan.
Kennan berbalik dan membalas pelukan Zara.
"Kalau kamu terus memikirkan soal Frea, itu artinya kamu nggak sayang sama anakmu" Kennan mengatakannya setelah mengecup pucuk kepala Zara. "Harusnya kamu bisa lebih menguasai pikiranmu dari ucapan orang yang memojokanmu untuk enggak peduli sama omongannya"
"Aku cuma masih syok dengan kabar meninggalnya Frea mas, harusnya mas dari awal-awal bilang kalau Frea sudah meninggal, jadi aku nggak perlu dengar dari orang lain"
"Ok mas minta maaf, tapi mas melakukannya juga untuk kebaikanmu, mas tahu hatimu sangat sensitive, apalagi di awal kehamilan, kalau kamu tahu, kamu pasti akan terus merasa bersalah, dan kalau sudah seperti itu, bukan hanya kamu, tapi anak kita juga akan terkena imbasnya"
"Iya maaf"
"Mas akan maafin kamu, tapi kamu janji nggak akan kepikiran lagi soal Frea"
__ADS_1
"Iya janji"
"Satu lagi"
"Apa?" tanya Zara mendongak mempertemukan netranya.
"Besok nggak usah ke kantor, kamu bantuin mas kerja dari rumah"
"Tapi mas jangan deket-deket sama mbak Widia?"
Kennan tersenyum geli mendengar ucapan Zara "Definisi dekat setiap orang itu berbeda dek. dengan jarak dua meter, bagi mas itu udah jauh, dan bagi orang yang cemburuan kayak kamu, itu udah berasa dekat banget. Lagian ngapain mas deket-deket sama Widia?"
"Kalau gitu aku ubah" ucap Zara sedikit mendongak lalu menempelkan dagunya di dada Kennan "Jangan deket-deket sama gadis-gadis di kantor"
"Masih cemburu juga?" Tanya Kennan yang di respon bibir mengerucut oleh Zara.
"Masih nggak ngerti juga?" sahutnya lalu kembali mengerucutkan bibir"
"Itu mulutnya di gituin mau minta di iket pake karet?" ledek Kennan.
Mereka saling diam dengan netra masih saling mengunci.
Zara berjinjit, lalu melingkarkan tangan di leher Kennan, bergerak lebih dekat, kali ini untuk menyatukan bibirnya. Butuh hingga beberapa detik sampai akhirnya Kennan membalas ciuman Zara.
Setelah sama-sama kehabisan napas, mereka melepaskan tautan bibir mereka. Dengan mudahnya Kennan mengangkat tubuh Zara dan membawanya ke atas ranjang.
"Katanya masih banyak pekerjaan"
"Ya ini salah satu pekerjaanku"
Kening Zara mengernyit mendengarnya. "Apa?" tanya Zara penasaran.
"Boboin kamu" Bisik Kennan sambil merebahkan tubuh Zara di atas tempat tidur.
****
"Wid, kemarin kamu makan siang bareng Zara kan?" tanya Kennan, Dia sengaja memanggil Widia ke ruangannya untuk mencari tahu siapa yang memojokan Zara.
"Kenapa Ken?"
"Kamu pasti tahu kan orang yang memojokan Zara kemarin?"
"Memangnya Zara nggak memberitahumu?"
Kennan menggeleng merespon pertanyaan Widia. siku kirinya ia daratkan pada sandaran tangan di kursinya, sedangkan telapak tanganya menutupi bagian hidung ke bawah.
__ADS_1
"Mereka hanya pengunjung cafe, aku tidak tahu pasti mereka siapa" jawab Widia dengan raut gugup.
Kennan yang menyadari kegugupan Widia, setengah tidak percaya dengan ucapannya
"Benar-benar nggak tahu ya Wid?"
"I-ya Ken"
"Memangnya mereka ngomong apa ke Zara"
"Ya ngungkit soal kematian Frea" Sahut Widia tanpa menatapnya.
Mendesah frustasi, Kennan pun menyuruh Widia untuk kembali keruangannya.
Beberapa saat setelah kepergian Widia, Kennan menelpon Zara hanya untuk mendengan suaranya sekaligus menanyakan kondisinya.
"Assalamualaikum" Suara lembut di balik telfon.
"Waalaikumsalam. Lagi ngapain?"
"Bikin brownis sama Ayu ini?"
"Ayu nggak kuliah"
"Sudah pulang"
"Dek" Panggil Kennan
"Iya"
"Udah nggak mikirin omongan si pengunjung Cafe kan?"
"Pengunjung cafe?" tanya Zara balik.
"Hmm, tadi mas tanya ke Widia, cuma pengin tahu saja si"
"Pengunjung cafe apa si mas, aku nggak ngerti"
"Ya pengunjung cafe, yang mojokin kamu dengan omongan gilanya"
"Mas tahu dari mana kalau pengunjung cafe yang mojokin aku?"
"Widia lah siapa lagi"
next...
__ADS_1