Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)

Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)
Kecurigaan Sinta


__ADS_3

Widia mengatupkan bibir rapat-rapat, sedangkan kedua tangannya ia simpan di atas pangkuanya. Menahan geram tentunya. Bagaimana bisa mereka seolah menuduh dirinya yang melakukannya, meski sebenarnya memang dia otak dari musibah Zara.


"Selamat siang?" sapa Sinta ramah. Sebelumnya Sinta memang sudah mengawasi kemanapun Widia pergi. Sinta yang sudah berpengalaman dalam hal ini, sangat mudah baginya menyelidiki gerak-gerik seseorang.


"Kamu Widia kan?" tanya Sinta berpura-pura seolah mereka tidak sengaja bertemu.


Widia yang sedang duduk di Cafe sendirian, Sinta langsung menghampirinya begitu waitres mengantar pesanan ke mejanya.


"Masih ingat saya?" ucap Sinta sambil mengulurkan tangan.


"Anda ibu yang di kamar Zara?"


Mengulas senyum, Sinta mengangguk "Boleh saya duduk?"


"S-silakan bu?" sahut Widia tergagap karena dia tidak menyangka dengan kedatangannya.


"Widia, kepura-puraanmu tak sebanding denganku, asal kamu tahu, aku pernah berada di posisimu, dan penjara, membuatku tersadar dengan kelakuan burukku, bahkan bertahun-tahun setelah keluar, aku masih melakukan kejahatan, jadi perbuatanmu itu bisa dengan mudah tercium di hidungku" Sinta membatin dengan pandangan fokus ke wajah Widia. "Aku pernah menjadi orang licik sepertimu, akupun pernah mencelakai seseorang"


Dia masih terus menatap Widia penuh lekat.


Widia yang mendapat tatapan itu merasa ruang geraknya terbatas, reflek berdehem pelan, membuat fokus Sinta buyar.


"Maaf, kamu sangat cantik" puji Sinta dengan seulas senyum "Wajahmu sama sekali tidak membosankan, enak untuk di pandang"


"Ibu kok bisa ada di sini?" tanya Widia, mengalihkan topik.


"Iya tadi saya janjian sama teman lama disini, dan saat saya hendak pergi, saya seperti melihatmu, jadi untuk memastikannya, saya menghampirimu dan ternyata benar ini kamu, teman anak saya"


"Anak ibu?" tanya Widia bingung.


Sinta tersenyum sebelum menjawab "Zara itu anak angkat saya, dia anak Irma teman saya, dan saya menganggap Zara seperti anak sendiri"


"Oh"


"Nak Widia, kamu kan teman Zara, apa di kantor Zara punya musuh?"


Mendapat pertanyaan itu, Widia mendadak gugup dan salah tingkah.


"Setahuku dia tidak punya musuh bu, dia orang baik, apalagi dia istri Kennan, anak dari pemilik perusahaan, ku pikir tidak ada yang berani melakukan itu padanya"


"Melakukan apa?" tanya Sinta, padahal Sinta tidak membahas tentang kecelakaan yang menimpa Zara.


"M-melakukan sabotase pada mobil Zara" jawabnya kian gugup, membuat Sinta kian curiga.


"Begitu ya?" sahut Sinta singkat.


Widia semakin tak nyaman dengan posisinya, apalagi tatapan Sinta sedari tadi sangat tajam dan seolah mengintimidasi.


"Kamu sakit nak, kok seperti gugup, atau tak nyaman?" tanya Sinta saat menyadari buliran peluh di dahi dan pucuk hidung Widia.


"Tidak bu, cuma sedikit gerah.


Sinta mengangguk pelan "Kalau begitu, saya permisi nak Widia, maaf sudah mengganggu jam makan siangmu?"


"I-iya bu"


*****

__ADS_1


"Za, ini sudah hari ke sepuluh, kenapa masih tidur?. Kamu nggak kangen bobo bareng mas?" kata Kennan sambil mengelap tubuh Zara menggunakan washlap.


"Mas kangen telur dadar buatanmu Za, mas kangen semua masakanmu, kamu tega ya sampai sepuluh hari nggak ngurusin suamimu, lihatlah, tubuh suamimu ini semakin tak terawat, bahkan semakin kurus"


Kennan terus mengelap tubuh Zara, dan kini gilaran tangannya yang ia bersihkan. "Kalau kamu tidur terus, mas juga mau tidur terus, biar kita sama-sama tertidur"


Saat tengah mengelap celah-celah jemarinya, Kennan menyadari pergerakan Zara meski pelan. Melihat jarinya yang bergerak, Spontan Kennan mengalihkan pandangan pada wajahnya. "Za, kamu nggak mau kan mas juga tidur lama-lama sepertimu" ucap Kennan setengah panik "kalau begitu ayo bangun, kamu sudah bisa menggerakan jarimu Za, sekarang buka matamu"


Pandangan Kennan beralih ke tangan Zara sekilas, lalu kembali menatap matanya yang tiba-tiba terbuka. Bersamaan itu, ada setetes air yang jatuh berasal dari mata Kennan.


"Ha_us" lirih Zara.


"Za, kamu sadar sayang, mas panggilkan dokter ya, kamu tunggu sebentar, mas nggak lama" Kennan berniat meninggalkan Zara untuk mencari dokter, namun saat dia hendak beranjak, dia mendengar suara Zara, meski lirih suara itu dengan jelas tertangkap oleh telinga Kennan.


"Air"


"Kamu haus Za?" dengan cepat Kennan meraih gelas di sampingnya, lalu meminumkannya pada Zara menggunakan sedotan.


Sembari memegang gelas, tangan Kennan yang lain menekan tombol darurat yang langsung terhubung dengan paramedis.


Tak perlu menunggu lama, dua dokter dan dua suster sudah berada di dalam kamar VVIP milik Zara.


Salah satu dokter membuka mata Zara lalu menyinarinya dengan senter medis, senter keluaran dari perusahaan Kennan. Senter itu membuat mata Zara menyipit sedikit, sementara dokter yang lainnya, memeriksa denyut jantung di tangan kiri Zara.


"Bagaiman dokter?" tanya Kennan sesaat setelah paramedis selesai mengecek keseluruhan kondisi Zara.


"Alhamdulillah, pasien sudah sadar dari komanya, kami baru saja menyuntikan obat di selang infusnya. Dia akan tidur selama kurang lebih dua jam"


"Alhamdulillah" sahut Kennan sembari mengusapkan kedua tangan pada wajahnya. Ia menghela napas lega.


"Setelah bangun nanti, tolong segera panggil kami kembali"


Kabar sadarnya Zara sudah tersebar ke seluruh keluarga, hanya keluarga. Itu artinya, orang lain belum mengetahuinya termasuk Widia.


Sesaat setelah dokter keluar, Kennan menghubungi keluarga satu persatu.


Begitu mendengar kabar dari Kennan, Danu dan Rio sama-sama keluar dari ruangannya, mereka berpapasan di depan ruangan mereka.


"Kita ke rumah sakit Nu?"


"Ayo" jawab Danu singkat, lalu menekan tombol di sisi pintu lift.


langkah Rio dan Danu yang terburu-buru keluar bersamaan dari dalam lift, tampak tergesa-gesa, saat pintu lift terbuka di lantai dasar. Widia yang kebetulan sedang menunggu lift seketika mengernyitkan dahi.


"Itu ada apa mbak?" tanya Widia pada rekan kerjanya.


"Kurang tahu mba, mungkin ada kabar dari rumah sakit" jawabnya lalu bersama-sama memasuki lift.


"Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Zara ya mbak?"


"Bisa jadi mbak Widia, soalnya melihat bagaimana pak Rio dan pak Danu berlari, seperti ada hal gawat yang terjadi"


Dalam hati Widia membenarkan ucapan rekan kerjanya. "Semoga saja kabar buruk dari rumah sakit" batin Widia


****


Mereka kini sedang berkumpul di kamar Zara seraya menunggunya bangun dari pengaruh suntikan yang di berikan dokter.

__ADS_1


Sinta berpesan, agar kabar baik ini jangan di sebarkan terlebih dulu, sebab musuh masih berada di dekatnya.


"Kita sembunyikan dulu dari orang luar" ucap Sinta, pelan. Membuat beberapa pasang mata kompak menatapnya. "Pokoknya jangan ada yang tahu selain keluarga kita kalau Zara sudah sadar"


"Ucapanmu ada benarnya juga Sin, mengingat kata polisi ada seseorang yang sengaja memutus kabel rem di mobilnya" Balas Nina pandangan mereka yang tadinya fokus ke arah Sinta, kini ganti menatap Nina.


"Betul bu" giliran Kennan menimpali "pelaku belum tertangkap, jika dia tahu Zara sadar, takutnya dia akan mencelakai Zara lagi"


"Papi setuju Ken, lagian tidak perlu orang lain tahu tentang kondisi Zara" ujar Rio.


"Termasuk petinggi-petinggi di perusahaan juga jangan di beritahu Ri" Danu pun ikut terlibat dalam pembicaraan. "Pokoknya semua karyawan baik dari posisi jabatan tertinggi sampai OB, jangan ada yang tahu" tegas Danu.


Dua jam berlalu...


"Minum" ucap Zara, mereka yang mendengar langsung berlari menghampiri brankar.


"Kamu sudah bangun nak?" tanya Rio.


"Air"


"Zara mau air pi" Sambar Irma cepat, lalu segera mengambil gelas di meja sampingnya. Sementara Kennan pergi mencari dokter.


Tak sampai semenit, Kennan sudah kembali dengan membawa seorang dokter dan satu suster.


"Permisi pak bu" ucapnya "Saya akan memeriksa pasien sebentar.


Sang dokter menempelkan stetoskop di dada Zara, lalu beralih memegang pergelangan tangannya. "Normal" gumam dokter tanpa bersuara.


"Halo mba Zara"


"D-dokter"


"Masih ingat siapa nama panjangmu?" tanya dokter yang di anggukan kepala oleh Zara. "Coba sebutkan" pintanya.


"AZ-zara Yuanda Ang-anggara"


"Ok" Sahut dokter sambil tersenyum. "Ini siapa?" dokter menunjuk Kennan.


"Mas Ken"


"Kalau ini" dia menunjuk Rio


"Papi"


"Yang Ini" kali ini menunjuk Danu


"A-ayah"


"Ok, stirahat yang cukup ya. Pak Ken, mari ikut saya ke ruangan saya sebentar, ada sesuatu yang harus saya sampaikan"


"Boleh saya ikut dok, sambar Rio dan Danu secara bersamaan.


Sang dokter tersenyum lalu mengangguk.


Dan ketiga pria itu, berjalan mengekor di belakang Pria yang mengenakan snelinya.


Diam-diam Sinta mengawasi Widia dengan caranya. Ia tidak terima jika ada yang mencelakai Zara. Pertemuan pertama Sinta dengan Zara saat dia menculiknya, membuatnya jatuh cinta. Wajah Zara yang teduh imut dan cantik, membuat Sinta akhirnya ingin menjadi ibu baginya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2