
Ponsel berdering membangunkan Kennan dan Zara yang tengah merajut mimpi. Belum sempat mengangkatnya, tiba-tiba nada itu berhenti bergetar di ponselnya. Setelah di periksa, ada beberapa panggilan masuk dari mami Irma, dan sebuah pesan dari Kanes.
"Jam berapa mas" tanya Zara dengan suara khas bangun tidur
"Jam delapan" jawabnya sambil membaca pesan dari adik iparnya "Bangun yuk, kita di tunggu sama mereka buat sarapan di bawah" lanjutnya lalu beranjak dari kasur dan menuju ke kamar mandi
Zara masih enggan untuk beranjak dari tempat tidur sebenarnya, namun karena akan ada sarapan bersama keluarga sebelum mereka cek out dari hotel, Zara dan Kennan akhirnya harus keluar dari kamarnya.
Ketika membuka pintu kamar mandi, Kennan mendapati sang istri masih betah bersembunyi di balik selimutnya.
"Dek, cepat bangun sudah siang ini, mereka mau cek out"
"Ambilin bathrobe dulu mas"
"Ngapain pake bathrobe?" tanya Kennan sambil berjalan ke arah sang istri "Masih malu juga?"
Belum sempat Zara menjawab, Kennan sudah buru-buru mengangkat tubuhnya dalam kondisi tak mengenakan pakaian. Pria itu hendak membawanya ke kamar mandi
"Dasar humaira"
"Kok humaira si mas?"
"Ya kamu suka malu-malu sampai mukamu kemerah-merahan"
"Ish" Desis Zara lalu menggigit lembut butiran kecil di bagian dada Kennan.
"Jangan sekarang sayang, kita sarapan dulu, setelah itu ayo kita ulangi lagi yang semalam.
"Mas ihh"
"Habisnya kamu kayak nantangin si" sahutnya lalu menurunkan Zara dari gendongan tepat di depan wastafle "Cuci muka saja ya, mandinya nanti setelah sarapan"
"Hemm"
Tak butuh waktu lama, Kennan sudah keluar dari kamar mandi.
Hampir 15 menit Zara berada di dalam sana dan saat keluar, netranya melihat sang suami tengah duduk bersandar pada headboard sembari menatap layar ponsel. Tampak sudah siap dengan mengenakan kaos berkrah dan celana panjang, lengkap jam tangan yang melingkari tangan kanannya.
__ADS_1
Kennan memindai pandangan pada Zara sejenak, lalu kembali fokus pada gawainya.
"Lama baget si dek?"
"Lama apanya, nggak sampai sepuluh menit kok?" jawab Zara sambil mengenakan kaos lengan panjang, yang akan ia padukan dengan gamis overall.
"Kamu bisa jalan?"
"Bisa lah"
"Sudah nggak sakit memangnya?"
"Jangan bahas itu kenapa si mas" pintanya sambil mengenakan pashmina di kepala.
"Masih malu ya?"
Zara merasa kikuk saat tahu pandangannya bertemu melalui pantulan Cermin.
"Jangan di bahas bisa nggak?" pintanya sekali lagi. Ia sedikit memoles lipmate di bibir, lalu menyapu bedak di wajahnya.
"Mas kan cuma tanya"
Kennan berjalan selangkah di depan Zara sambil menggandeng tangannya.
Zara hanya diam mendapat perlakuannya sambil terus mengekor di belakang Kennan, dan matanya terus menatap punggungnya. "Jalannya pelan-pelan"
Ucapan Zara membuat Kennan menghentikan langkah secara mendadak, membuatnya menabrak punggungnya "Astagfirullah" gumam Zara.
"Dek, kamu itu memang benar-benar ceroboh ya"
"Mas mau nyalahin aku lagi?" padahal jelas-jelas mas yang berhenti mendadak" ujar Zara kemudian menarik sudut bibirnya.
"Yang nyalahin kamu siapa?" tanya Kennan "Mau debat apa mau sarapan?" tanyanya lagi.
"Terus aku harus jawab mau debat begitu?", nanti mas pasti tambah menyalahkanku, kan?"
Mendesah pelan, Zara melepas genggaman Kennan, lalu beralih menggamit lengan kirinya "Ayo kita jalan" ucap Zara lembut "Maafin ya, lain kali nggak kabur kalau lagi bicara"
__ADS_1
Mendengar ucapannya, tangan Kennan reflek mengusap kepala Zara "Maafin mas juga"
Perdebatan mereka yang ringan, membawanya tahu-tahu sudah berada di sebuah restoran hotel, tempatnya di adakan resepsi kemarin.
"Selamat pagi yah, bun, selamat pagi mami sama papi"
"Selamat pagi" jawab semuanya kompak. Ada Danu Nina, Rio Irma, Kanes, Ayu dan Bima.
Mereka sudah duduk dan menikmati sarapan.
"Kok baru keluar, sudah siang loh" pungkas Nina "Jangan di biasakan terlambat sarapan"
"Pasti sudah sarapan yang lain bun?" Celetuk Ayu.
"Kita aja yang nggak tahu diri gangguin mereka" Kanes ikut menimpali
"Mulut kalian itu rempong banget si" ujar Bima sambil mengunyah makanan.
"Emang dasar cucunguk" sahut Kennan lalu meraih gelas berisi teh hangat.
"Sama nenek gayung" lirih Zara yang masih di dengar oleh semuanya. Membuat orang tua mereka geleng-geleng kepala.
"Kalian bisa anteng dulu sebentar?" perintah Danu dengan sorot mata menghunus ke anak-anak mereka. "Makan dulu, habis itu mau jungkir mau balik, terserah kalian"
"Kaya nggak tahu Kanes sama Ayu aja yah" cicit Kennan kemudian menyuapkan nasi ke mulutnya.
Setetelah menyelesaikan sarapan pagi, Keluarga mereka akan cek out dari hotel, meninggalkan Kennan dan Zara yang masih harus menginap selama 2 hari ke depan.
******
Frea : "Ayolah Ken"
Satu pesan masuk ke ponsel Kennan. Ini adalah kali kedua ajakan dari Frea.
Yang pertama, ia tawarkan langsung beberapa hari setelah makan malam dengan Kennan waktu itu.
Karena tak kunjung mendapat balasan, Frea pun mengirim pesan ke dua.
__ADS_1
Frea :"Suatu saat kita pasti akan tidur dalam satu ranjang
Bersambung