Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)

Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)
Bab 49


__ADS_3

Meskipun sudah lewat hampir tiga minggu sejak pertemuannya dengan Frea, namun rasa khawatir masih tinggal di hati Zara. Apalagi saat mengingat umpatan Frea yang akan menghancurkan hidupnya. Jelas hati dan pikirannya selalu di buat was-was.


Beruntung Kennan selalu mengingatkan bahwa mereka memiliki keluarga, teman, dan yang paling utama, mereka memiliki Tuhan, yang jelas siap membantu umat-Nya dalam kondisi apapun.


Mereka yang baru pulang kantor selepas maghrib, langsung masuk kedalam kamarnya.


"Frea kirim pesan dek"


Zara yang tengah duduk di depan meja rias, seketika memepertemukan netranya melalui pantulan cermin.


"Pesan apa?" tanya Zara tangannya bergerak mengeluarkan satu kapas, lalu meraih toner, menuangkan sedikit isinya ke kapas, dan mulai mengusapkan ke wajahnya.


"Dia ingin berteman dengan kita" saat ini, Kennan tengah duduk bersandar di kursi kerja, dengan kedua tangan terlipat di belakang kepala. "Dari kemarin dia terus menelfon mas, tapi mas abaikan"


"Nggak kirim foto atau video yang aneh-aneh kan?" Zara menolehkan wajah melihat Kennan, yang hendak beranjak dari duduknya.


"Enggak" Sahutnya dengan suara cukup dekat, karena posisinya kini, berdiri di samping Zara. "Coba sini" Sambung Kennan, yang tahu-tahu sudah berlutut di depan Zara.


"Apa mas akan menerima tawarannya?"


"Jelas tidak lah sayang, Mas nggak mau berhubungan dengan dia. Mas juga nggak akan pernah ijinkan kamu berteman dengannya"


"Aku juga nggak mau berteman dengan dia mas"


"Baguslah"


"Mas kenapa?"


"Enggak tahu, mas merasa nggak enak badan"


"Mas sakit?" reflek tangan Zara menyentuh dahinya "Nggak demam kok"


"Bawaanya lemes aja dek"


"Ya lemesnya kenapa?" tanya Zara, mengalihkan tangan untuk ia daratkan di pundak Kennan.


Kennan menggeleng. "Nggak tahu kok" lalu mencium bibir Zara lembut.


Saat ciuman itu semakin dalam, sedangkan telinga mereka menangkap suara deheman seorang pria. Lekas mereka mengurai bibirnya yang saling menempel.


"Ayah" Kennan dan Zara merasa gugup dan malu.


Zara, saat itu juga, rasanya ingin menghilang dari hadapan Danu. Dalam hati, ia merutuki dirinya sendiri sebab masuk kamar tanpa menutup pintu.


"Kalau urusannya sudah selesai, lebih baik kalian turun, bunda dan Ayu sudah menunggu di meja makan"


Danu yang mendapat perintah dari sang istri, memanggil putra dan menantunya untuk makan malam, harus melihat adegan yang kerap di lakukannya sampai sekarang dengan istrinya.

__ADS_1


"Ayah kenapa nggak ketuk pintu dulu?" tanya Kennan.


"Kamu kenapa enggak tutup pintu?, kalau Ayu yang lihat bagaimana?"


"Emang bener sayang pintunya enggak di tutup tadi?" bisik Kennan pada Zara lalu di anggukan olehnya.


Kennan sedikit menggembungkan mulutnya.


"Mau lanjut ke sesi berikutnya, atau mau ikut ayah turun?" tanya Danu saat mereka tak bergeming.


"Ayah turun dulu, dua menit lagi kita turun" sahut Kennan cepat.


Danu pun pergi meninggalkan Kennan dan Zara di kamarnya.


"Mas kenapa nggak tutup pintu?"


"Yang masuk terakhir siapa?"


Zara hanya bisa diam, mengakui kecerobohannya.


"Lain kali jangan lupa tutup pintu, jangan main nyelonong masuk tanpa menutupnya" Pesan Kennan "Rapikan rambutmu, pakai khimar betul-betul"


*****


Kennan termangu menatap menu makanan yang tersaji di atas meja. Menarik kursi, lalu mendudukinya dan langsung menyenderkan punggungnya.


Mendengar perintah Kennan yang di tujukan pada Zara, kening Nina mengerut.


Zara yang tengah menyidukan nasi untuk Kennan pun langsung berhenti.


"Ini bunda udah masakin buat mas" ujar Zara "kenapa mau telur dadar?"


"Lagi nggak pengin makan itu" sahutnya menunjuk beberapa menu dengan dagunya. Dan Zara segera beranjak menuju dapur.


"Ini ada rica-rica ayam loh Ken?" ucap Nina


"Enggak bun"


"Ini juga nggak mau" Bunda menunjuk stik sapi di piring berwarna putih.


Kennan menggeleng.


Nina pun melanjutkan aktivitasnya melayani Danu.


"Kasih irisan wortel, sama daun bawangnya banyakin dek" perintahnya sedikit menaikan volume suaranya.


"Ok" sahut Zara lalu memecahkan tiga butir telur.

__ADS_1


"Ken, masih ingat Frea, anaknya pak Pranoto?" tanya Danu setelah menelan kunyahannya.


"Ada apa memangnya yah?" Kennan menatap wajah Danu penasaran.


"Dengar-dengar dia kembali depresi, dan sudah dua hari tinggal di pusat rehabilitasi"


Zara benar-benar tidak mendengar dengan jelas apa yang di bicarakan oleh Danu dan Kennan.


Sedangkan Nina dan Ayu, diam menyimak.


"Kembali depresi?" tanya Kennan dengan satu alis terangkat "Memangnya dulu dia pernah depresi yah?"


Danu mengedikan bahunya pelan "Ayah juga cuma dengar dari mulut ke mulut, dari kolega ayah, jadi tidak tahu pasti"


"Katanya" Danu meraih gelas lalu meneguk isinya sebelum melanjutkan kalimatnya "Dulu saat jaman SMA, dia pernah putus cinta terus depresi dan mau mengakhiri hidupnya, sempat di rawat selama 8 bulan di rumah sakit, setelah itu sembuh total, dan sekarang kambuh lagi"


Ucapan Danu membuat Kennan terkejut, dan secara reflek, menelan ludahnya sendiri.


"Makan mas" Zara meletakan piring berisi telur dadar dan mangkok kecil berisi sambal terasi hasil ulekan tangannya.


"Nggak mau pake sayur dek" Cegahnya cepat, saat Zara hendak meraih sendok sayur.


"Mau makan telur dadar sama sambal terasi doang?" tanya Zara memicing


"Iya" jawabnya lalu berdiri menuju wastafle, untuk mencuci tangan.


Pikiran Kennan sebenarnya tidak fokus setelah mendengar berita tentang Frea, dalam anggapannya, sudah pasti dialah yang menyebabkan Frea depresi, namun saat memikirkannya kembali, Kennan menyangkal anggapannya itu. Lagian selama ini, Kennan dan Zara tidak pernah mengusik hidupnya. Hanya saja Kennan sedikit khawatir, karena pasti di ponsel Frea, ada sisa pesan yang di tujukan ke nomor ponselnya.


Kembali duduk di kursi tempat makan, Kennan menikmati telur dadar dan sambal terasi, buatan Zara. Ia makan menggunakan tangannya, mereka masih menyantap makanan di saat yang lain sudah selesai makan.


"Kenapa nggak mau sayur?"


"Lagi nggak pengin dek, perutnya berasa mual lihat makanan itu?"


"Mual kenapa?" Zara menatap Kennan penuh selidik, sembari mengunyah makanan.


Kennan menggelengkan kepala.


"Besok-besok rokok sama kopinya di kurangi ya?"


"Mas juga udah ngurangi kok, malah dua hari ini nggak ngerokok dan cuma ngeteh"


"Mau ke dokter?"


Melihat gelengan kepala Kennan, membuat Zara kian penasaran, lalu dalam hati berniat mengajaknya bicara nanti menjelang tidur.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2