
Zara telah melewati beberapa pemeriksaan. Hingga tiga hari di rawat, akhirnya dokter mengijinkannya pulang.
Dari rumah sakit, Kennan dan Zara akan langsung menuju bandara, karena Irma dan Nina sudah merengek ingin secepatnya bertemu dengan Zara.
Bima dan Bagas sudah kembali ke Surabaya terlebih dulu.
Sementara Sinta, sudah di tangkap. Kini statusnya sebagai tersangka, ia menjadi tahanan rumah dengan mengadakan pengawasan terhadapnya, untuk menghindarkan segala sesuatu yang dapat menimbulkan kesulitan dalam penyidikan, penuntutan, atau pemeriksaan di sidang pengadilan.
Dengan statusnya tersebut, polisi membatasi ruang geraknya hanya dalam lingkup tempat tinggalnya saja. Perjalanannya dibatasi, bahkan tidak diizinkan sama sekali.
Dan menurut berita yang Kennan dengar dari Haidar, saat ini Sinta menginap di salah satu hotel di Jakarta.
Kennan menyerahkan segalanya pada Haidar, dan ia akan kembali ke Jakarta untuk sidang pertama yang akan di laksanakan pada dua minggu yang akan datang.
Bi Yuni, bu dhe Dini, Jennaira dan Arsen akan mengantar mereka ke Bandara.
"Kalian hati-hati ya" pesan Budhe Dini istri Haidar "Salam buat keluarga di rumah, terutama Kakek dan nenek Arifin" Ia memeluk keponakannya sedikit lebih lama
"Iya bu dhe" jawab Kennan sambil menepuk punggung Dini.
Saat suara opertor sudah terdengar dari pelantang suara, meminta penumpang untuk bersiap-siap, Kennan dan Zara segera menyalami saudaranya satu persatu.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam" jawab Jennaira dan yang lainnya kompak.
Kennan dan Zara melangkahkan kakinya seraya melambaikan tangan, menuju Gate keberangkatan untuk melakukan boarding pass.
Sejujurnya, Zara masih belum mengerti tentang ucapan Kennan yang mengatakan bahwa saat ini dirinya sudah menjadi istri Kennan. Saat hendak meminta penjelasan pada Bima tempo hari, seolah ada saja halangannya untuk Bima menjelaskan.
"Mas bercanda kan tentang pernikahan?" tanya Zara, yang kini duduk bersebelahan dengan Kennan di dalam pesawat.
"Nanti saja di rumah mas jelaskan" jawabnya dengan senyum tersungging
"Kenapa nggak sekarang saja"
"Nanti saja"
Zara menghela napas berat, lalu menghempasnya kasar dengan sedikit menggembungkan mulutnya.
"Ok kalau gitu, mas jelaskan kenapa mas bisa tahu kalau aku di sekap di butik milik bosnya bunda"
__ADS_1
"Pertama, mas nemuin poto bunda dan Sinta di laut" Kennan berhenti sejenak, ia meraih tangan Zara "Lalu bi Yuni telfon bunda, kalau dia melihat Sinta keluar dari butik , ya udah akhirnya bunda sama mami punya filling kalau kamu ada di situ"
"Mas tahu, kenapa Sinta melakukakan itu?"
"Bunda bilang, Sinta sakit hati sama bunda"
"Dia juga sakit hati sama mami"
"Kamu tahu dek?" tanya Kennan dengan kening mengerut
"Sinta sendiri yang bilang waktu itu"
"Oh ya?" sahut Kennan
"Kalau terlambat sedikit saja, mas pasti tidak bisa menolongku"
Kennan menatap Zara dengan mata memicing "Dia akan membawaku ke Thailand mas, aku akan di jadikan anaknya" sambung Zara
"Kenapa?" tanya Kennan dengan raut bingung
"Dia bilang, gara-gara bunda, dia tidak bisa punya anak"
Kennan semakin di buat bingung mendengar ucapan Zara. "Kok gara-gara bunda?"
"Kamu tahu kenapa bunda memenjarakannya?"
Zara menggeleng "Dia sudah mendorong bunda saat sedang hamil mas" lanjut Kennan
Zara terpaku, pikirannya melayang penuh tanya
"Mendorong bunda saat hamil mas Ken?"
Kennan mengangguk "Membuat bunda harus menjalani operasi caesar di usia kehamilan 7 bulan" ujarnya kemudian
"Jadi mas lahir prematur?"
"Hem" jawab Kennan seraya mengangguk
"Serius mas, aku baru tahu kalau mas lahir prematur" Zara menautkan alisnya, ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "Baik bunda maupun mami, nggak pernah crita tentang itu ke aku"
"Mas juga baru tahu dek"
__ADS_1
"Kapan?" tanya Zara penasaran "Tepatnya?"
"Saat bi Yuni nemenin kita di rumah sakit kemarin" Jawab Kennan "Bi Yuni cerita semuanya"
"Kok aku nggak tahu si mas?"
"Kamu sudah tidur malam itu sayang"
"Jadi mas tahu bukan dari bunda?"
Kennan mengangguk.
"Ternyata masa lalu bunda sama mami sangat menyeramkan" Ujar Zara yang tak bisa membayangkan.
Kennan dan Zara masih belum mengetahui tentang Nina yang menyamar jadi orang lain untuk menggoda Danu, hingga hamil Kennan.
Entah seperti apa reaksi mereka saat mengetahui rahasia itu dari orang tuanya, termasuk soal Rio yang menyangka menikahi seorang wanita janda.
"Lain kali" Kennan menatap lekat sekaligus mengunci netranya "jangan pergi sendiri lagi ya?" pesan Kennan sambil mengusap pucuk kepala Zara "Mas nggak mau ini terjadi lagi"
"Iya" Jawab Zara. Mereka saling pandang, dan saling berbalas senyum, hingga suara seorang pramugari membuyarkan fokus mereka.
Sebelumnya, Kennan sudah memberitahu keluarga, bahwa pesawat akan mendarat di bandara Juanda pada pukul 11:00 Wib.
Bahkan orang tua mereka datang menjemput dari jam 09:00 Wib, mereka sangat antusias menunggu kedatangan Zara sampai rela menunggugu cukup lama di bandara.
"Assalamu'alaikum" ucap Kennan
Irma segera merangkul tubuh Zara, setelah menjawab salamnya dengan deraian air mata. Kejadian ini benar-benar membuat Irma tak bisa tidur nyenyak, hingga menyisakan lingkar hitam pada matanya. Zara yang melihat kondisi sang mami pun turut menangis.
Kennan bergantian memeluk Nina, Danu dan juga Rio.
"Kalian tidak apa-apa kan?" tanya Rio saat memeluk tubuh menantunya.
"Tidak apa-apa pi" jawabnya menepuk punggung Rio.
Kini ganti Nina memeluk Zara, sambil berbisik lirih "Sayang, syukurlah, bunda senang kamu selamat nak. Kamu sehat kan?" tanyanya saat mengurai pelukannya.
"Sehat bun"
"Peluk-peluknya kita lanjutin di rumah yuk" ucap Danu sesaat setelah memeluk menantunya. Yang menimbulkan gelak tawa dari semuanya.
__ADS_1
Bersambung