Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)

Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)
Ektra part 1 (Suasana Duka)


__ADS_3

"Opa Danu, opa Rio" Teriakan Cia yang terdengar sangat riang. Anak kecil itu langsung merentangkan tangan dan berlari ketika sepasang netranya menangkap kedua kakeknya yang sudah menunggu setelah sekian jam di bandara Juanda Surabaya.


Anak itu seketika berhenti tepat di hadapan kakeknya. Dia merasa bingung antara menghambur ke pelukan Danu atau Rio. Sementara kedua pria paruh baya itu sudah berlutut untuk menerima pelukan dari cucu perempuannya.


"Kok berhenti?" tanya Rio dengan raut heran.


"Ayo peluk opa?" Ucap Danu sambil menggerakan tangannya. Semacam kode agar sang cucu memilih dia yang di peluk lebih dulu.


"Peluk opa Rio dulu sini" Rio tak mau kalah.


Di sisi lain, Kennan dan Zara sudah saling berpelukan dengan Nina dan Irma. Setelahnya mereka sama-sama menyaksikan adegan sang oppa yang saling berlomba untuk mendapatkan pekukan cucunya. Lengkap dengan gurat bahagia yang mereka tampilkan, sesekali Nina dan Irma menggelengkan kepala ketika melihat tingkat para suaminya.


"Anak pintar pasti peluk oppa Danu dulu"


"Lebih pintar lagi kalau peluk opa Rio dulu" Sepertinya Rio memang selalu selangkah berada di depan Danu.


Mendengar ucapan Rio, seketika Danu memalingkan wajahnya ke arah Rio.


"Apa?" sinis Rio saat menyadari tatapan Danu.


"Ngomong apa tadi kamu?"


"Opo to" Sahut Rio memicing. "Aku ngomong, supaya cucuku peluk aku lebih dulu" lanjut Rio.


"Dia harus memelukku lebih dulu" sambar Danu cepat.


"Aku juga opanya, jadi wajar dong kalau aku minta peluk dulu"


"Tidak bisa, Cia harus memelukku terlebih dulu"


"Oh, nggak bisa dong, kalau Cia lebih memilihku, apa boleh buat, bisa apa kamu. iya to?" balas Rio dengan tatapan mengejek.


Di saat kedua opa tengah ribut memperebutkan pelukan sang cucu, Cia secara diam-diam beranjak dari tempatnya berdiri. Ia mengendap-endap sangat hati-hati berjalan menuju oma bunda dan oma mami. Cia langsung memeluk kedua omanya secara bersamaan, sekaligus menciumi pipi kedua omanya bergantian.


"Kita tinggal aja yuk opanya" ucap Nina lirih.

__ADS_1


"Setuju sama oma bunda" kata Irma "Kita tinggalin mereka yuk, lets go"


Nina dan Irma masing-masing menggandeng satu tangan mungil sang cucu. Zara mengekor di belakang sembari menarik koper berisi pakaian suaminya. Satu koper berisi pakaian dirinya dan Cia, berada dalam tarikan tangan Kennan.


"Ayah, papi" panggil Kennan. "Ayo kita pulang" tambahnya setelah kedua ayahnya menoleh.


"Cia" cicit Danu dan Rio kompak, lalu memalingkah wajah ke tempat dimana Cia berdiri tadi.


Kosong...


"Cia sudah jalan yah, pih. Tuh" kata Kennan seraya menunjuk mereka dengan dagunya.


"Ini semua gara-gara kamu"


"Gara-gara kamu" balas Rio.


"Kalian dari dulu suka saling berebut, untung nggak berebut bunda sama mami"


Setelah ucapan itu keluar dari mulut Kennan, entah apa yang ada di pikiran Danu dan Rio, mereka saling bertukan pandang, dan detik itu juga kompak memeluk Kennan secara bersamaan.


Kennan membalas pelukan kedua ayahnya, tangan kanan dan kirinya bergerak mengusap pelan punggung Danu dan Rio.


"Kami senang kamu kembali" ucap Rio, suaranya sedikit tertahan.


"Kamu dan Bima, adalah anak lelaki kami yang akan melindungi kami" sambung Danu.


"Ayah ngomong apa?" balas Kennan setelah mengurai pelukannya. "Lihatlah! badan kalian masih bugar, wajah kalian masih sama seperti aku kecil dulu. Kalian masih tampan, jadi untuk apa meminta perlindunganku".


Kennan berkata demikian hanya untuk menghibur ayah dan mertuanya. Sejujurnya dalam hati Kennan pun sudah pasti akan selalu melindungi orang tuanya.


"Seharusnya aku yang minta perlindungan dari ayah sama papi, bahkan para kolega kalian bilang kita seperti kakak adek"


Rio dan Danu memang terlihat masih sangat muda, berkat pola hidup yang mereka atur dan kecintaanya dalam dunia olagraga serta Gym, menambah alasan mereka masih tampak kuat. Apalagi istri mereka selalu menjaga asupan gizi yang masuk ke dalam tubuhnya. Di tambah dengan air wudhu yang kata abi bisa membuat wajahnya semakin bersinar dan awet muda. Di tambah lagi mereka adalah orang kaya.


******

__ADS_1


Keesokan paginya...


Keluarga Danu, Rio, serta Haidar, sudah berkumpul di rumah Kyai Arifin. Mereka tengah berada di dalam kamar milik Arifin yang sampai detik ini terbaring lemah.


Meskipun dalam kondisi sakit, ingatan beliau masih sangat tajam, matanya pun masih bisa mengenali anak-anak, menantu serta cucu-cucunya.


Hingga menit berlalu, tiba-tiba Kyai Arifin yang sudah melahirkan santri dan santriwati dinponpesnya, terdiam dengan pandangan kosong. Detik berikutnya beliau seperti berhalusinasi, seolah tengah melihat orang-orang dari masa lalunya, orang tuanya, saudara-saudaranya dan para guru yang sudah lebih dulu meninggalkan dunia. Sesekali bibirnya mengulas senyum tipis, namun detik kemudian matanya meluncurkan air mata. Tatapannya kosong, kesadarannya seakan terombang-ambing. Dengan mulut terkatup rapat, beliau benar-benar tak berdaya.


Melihat kesadaran abinya yang semakin tak terkendali, Haidar langsung mengambil alih posisi Nina yang terus duduk di samping abinya.


Haidar dan Kyai Arifin seperti tengah melakukan komunikasi, meskipun nafasnya semakin tercekat, dan matanya membelalak, Haidar terus membisikkan kalimat-kalimat tauhid di telinganya.


Hingga bibir itu kian kaku, perlahan bergerak mengikuti kalimat yang tertangkap oleh pendengarannya. Mengikuti kalimat yang di bisikan oleh Haidar dengan sempurna, dan....


Terlepaslah ruh dari tubuh Kyai Arifin.


Betapa dahsyatnya sakarotul maut itu, tapi sayangnya, sang mayit tak mampu menceritakan kematiannya pada penghuni dunia.


Dokter keluarga yang memang sudah di utus dan di hadirkan oleh Danu pun mendekat lalu memeriksa kyai Arifin. Tak lama, sang dokter memusatkan perhatian pada para keluarga, lalu menggelengkan kepala seraya mengucapkan Innalillahi wa innaillaihi Roji'un.


Langit seakan mendung, dan awan terasa sekelam malam mengiringi kepergian suami, orang tua, guru, dan panutan mereka.


Tangis umi dan Nina pecah melepas kepergian abi. Begitu juga dengan Haidar, Danu dan yang lainnya.


Mereka kehilangan seseorang yang begitu berharga dalam hidupnya.


Nina


Mesipun masih belum ikhlas dengan kepergian abi, sebisa mungkin Nina akan mengikhlaskanmu.


Maafkan Nina yang belum bisa membahagiakanmu, maaf karena anak gadismu pernah melakukan dosa besar, maaf karena Nina selalu melakukan kesalahan yang nembuat abi malu, Maaf, maaf, maaf.


Pergilah dengan langkah yang ringan, jangan khawatirkan umi karena kami akan menjaga kekasih abi seperti pesan abi, pergilah dengan senyum bahagiamu. Nina akan menjadi orang pertama yang membuat kesaksian bahwa abi orang baik, Taqwa, dan selalu amanah. Nina pun rela dan bersedia menanggung semua dosa abi.


Pergilah dengan tenang, setenang pengendalian diri dan sabarmu dalam mengasuh kami...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2