
Malam ini Kennan sedikit pulang terlambat, sebab ada rapat mendadak bersama jajaran direksi mengenai planing promotion.
Dengan kondisi badan yang lelah, ia memasuki rumah orang tuanya. Langkahnya kian berat ketika berjalan menaiki anak tangga satu persatu. Tadi saat melewati ruang tengah, dia sempat menyapa Nina yang duduk di ruang tengah bersama Ayu. Nina juga memberitahu kalau Zara belum makan malam, membuat Kennan seketika menyugar rambutnya yang sedikit menutupi matanya.
"Assalamu'alaikum" ucap Kennan sambil memutar knop pintu. Netranya menangkap Zara tengah tidur dengan posisi miring membelakangi pintu kamarnya. Karena fikirannya terus fokus pada ucapan Widia tadi siang, Zara sampai tidak mendengar salam dari sang suami.
Perlahan Kennan berjalan mendekatinya, lalu duduk di tepian ranjang. "Assalamu'alaikum?"
"Eh mas, Waalaikumsalam" Tangan Zara reflek terulur untuk menyambut tangan Kennan lalu mengecup punggung tangannya.
"Sudah pulang?"
"Sudah" Jawab Kennan singkat, tangan kirinya menyelipkan rambut ke telinga Zara.
"Kenapa belum makan"
Zara melakukan pergerakan besar, ia memposisikan dirinya duduk bersandar pada headboard.
"Sejak kapan mas membohongiku?"
"Maksudnya apa dek?"
"Apa mas tidak merasa membohongiku?"
Huuft baiklah, kalau pertanyaanku di jawab dengan pertanyaan, itu artinya Zara sedang menuntutku untuk berkata jujur.
"Ada masalah apa?" tanya Kennan mengusap lembut punggung tangan Zara.
"Apa yang terjadi dengan Frea?"
Wajah Kennan memanas mendengar pertanyaan Zara. Mulutnya seketika kebas seolah berat untuk mengatakan sesuatu.
Menghela napas panjang, Kennan mengeluarkannya seraya memalingkan wajah ke arah kanan, kedua tangannya mengusap wajahnya gusar.
"Mas mandi dulu ya, setelah itu mas temani kamu makan"
"Apa setelah makan kita bicara?" tanya Zara menyelidik.
Kennan memindai wajah Zara dengan tatapan nanar, ia bertahan menyoroti netra Zara hingga hampir satu menit.
"Bicara apa?"
"Frea"
"Untuk apa kita membicarakan orang lain, urusan kita juga banyak dek"
__ADS_1
"Tapi aku ingin tahu kejelasan kabar tentang Frea"
Tanpa menjawab, Kennan langsung bangkit dari duduknya, lalu melangkah ke arah lemari menyiapkan piyama untuk dirinya sendiri.
"Mas mandi dulu, setelah itu kita makan, lalu ok kita bicara" ucap Kennan sebelum benar-benar beranjak ke dalam kamar mandi.
Pria itu memasuki kamar mandi dengan pikiran dan tubuh yang terasa lelah.
Satu jam berlalu, sesuai janji Kennan, setelah mandi dan makan malam dalam diam tadi, Kennan mengajak Zara untuk bicara di kamarnya.
Mereka duduk bersisian di sofa bagian ujung ranjang.
"Ada apa?" tanya Kennan memecah keheningan
"Sekarang mas jelaskan kenapa Frea meninggal, dan kapan tepatnya dia meninggal" Sorot mata Zara tertuju pada jemari tangan yang saling meremat di atas pangkuannya.
"Kamu tahu dari mana kalau Frea meninggal?"
"Itu tidak penting"
"Itu penting buat mas"
Mengatupkan bibir, dengan rahang mengeras, Zara menelan saliva berusaha untuk mengurangi debaran jantung yang terasa tidak nyaman semenjak kepergian Widia tadi siang.
"Widia"
"Sebaiknya mas jelaskan dulu lalu kemudian bertanya"
Menghirup napas dalam, lalu mengeluarkan perlahan, kedua siku Kennan bertumpu pada lututnya sementara jemarinya saling bertaut.
"Satu bulan yang lalu dia meninggal tertabrak mobil"
Sepersekian detik Zara menolehkan wajah ke kiri, menatap wajah Kennan dari samping.
"Dia kabur saat sedang menjalani perawatan, saat berada di jalan raya langkahnya hilang kendali, dan sebuah kendaraan tengah melaju dengan kecepatan tinggi, seketika menabraknya" ungkap Kennan tak berani menatap wajah sang istri.
"Apa seandainya kita menolongnya, Frea akan hidup sampai sekarang?"
"Tidak"
"Karena memang jalannya sudah di gariskan seperti itu, kita tidak bisa melawan takdir kan?, jadi tidak perlu di sesali atapun berandai-andai"
"Kenapa mas nggak memberitahuku dari awal?"
"Untuk apa, itu nggak penting, bukan urusan kita dek"
__ADS_1
"Kita pernah di mintai pertolongan sama mamahnya Frea mas, dan kita menolak untuk menolongnya kan?" Zara mengatakannya sembari mengusap pipinya yang tiba-tiba basah "Aku merasa jadi manusia kejam sekarang"
Dengan cepat Kennan merangkul Zara dari samping, membawanya bersandar di bahunya.
"Kamu jangan memikirkan soal itu, itu kesalahan dia sendiri"
"Tapi apa mas nggak takut dengan karma?"
"Dia yang mengacaukan hidup kita Za, dan dia telah mendapatkan karmanya sendiri"
"Apa mas menyuruhku bekerja dari rumah supaya terhindar dari kabar tentang Frea?"
Kennan mengangguk
"Kenapa?" tanya Zara penasaran
"Karena saat itu keluarga Frea menyalahkan mas, ayah dan juga kamu"
"Itu wajar, kalau aku di posisi mereka mungkin aku juga akan menyalahkan mas Ken dan jiga aku"
"Sudah ya jangan di bahas, masalah itu sudah lama, sudah lewat dari sebulan, mereka juga sudah tidak membicarakannya"
"Tapi aku masih kepikiran andai saja kita bantu, mungkin nggak akan gini jadinya"
"Sudah jam sebelas, kita tidur yuk" Ajak Kennan
"Aku nggak bisa tidur"
"Ini semua gara-gara Widia, bisa nggak si, dia nggak usah crita ke kamu" kesal Kennan
"Mbak Widia tidak sengaja bilang tadi"
"Emang dia bilangnya gimana?"
"Dia cuma bilang mau ke tempat orang tua Frea buat ikut doain Frea di rumahnya"
"Kita tidur saja sekarang, ucapan Widia, tidak usah di pikirkan"
"Andai saja bisa"
"Harus bisa" ucap Kennan dengan intonasi tegas "Kata dokter bumil nggak boleh banyak pikiran kan, harus happy, iya kan"
"Lebih baik kita tidur mas Sudah ngantuk" tanpa peringatan apapun Kennan mengangkat tubuh Zara dengan mudahnya, lalu membaringkannya di tempat tidur.
"Jangan di pikirin ya?" ucap Kennan lalu mengecup Kenningnya dan merebahkan diri di samping Zara.
__ADS_1
next..