Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)

Rahasia Hati (Mencintai Kakaku)
bab 62


__ADS_3

Pagi harinya, Zara sudah bersiap ikut ke Kantor. Sempat di larang oleh Kennan, namun Zara tetap kekeh ingin pergi bekerja.


"Janji ya, kalau Widia ngomong macem-macem lagi, kamu nggak akan tersinggung?"


"Mas, jangan suuzon sama mbak Widia, dia baik kok, kemarin dia cuma nggak sengaja ngomong soal Frea ke aku. Mungkin dalam fikirannya" ujar Zara sambil memakai kaos kaki "Aku sudah tahu kabar meninggalnya si Frea. Dia seperti reflek gitu ngomongnya"


"Mas cuma ngingetin loh"


"Iya-iya" Zara menyahut seraya berjalan ke arah Kennan untuk membantu memasangkan dasi.


"Jangan berburuk sangka sama orang lain" lanjut Zara matanya fokus pada tangan yang bergerak menyimpulkan dasi sang suami, sementara tatapan Kennan, terus menyoroti netra Zara.


"Sudah enggak mikirin Frea kan?" Tanya Kennan menyelidik, alisnya terangkat satu.


"Bohong kalau aku jawab tidak, karena biar bagaimanapun, Frea seperti itu karena dia mencintai suamiku, jelas itu ada hubungannya denganku, dengan kita, apalagi" lanjut Zara kali ini membantu mengenakan Jas "Mamanya Frea sempat memohon pada kita"


"Enggak dek" sanggah Kennan cepat. "itu kesalahan dia sendiri, dan imannya dia yang juga lemah, andai dia menempatkan cinta Tuhannya di urutan pertama, dia nggak akan seperti ini"


"Kita juga pernah di posisi Frea loh" tambah Kennan membuat kening Zara mengerut, tangannya yang tadi sibuk membantu mengenakan jas, kini melekat di sisi pinggang Kennan, dan Kennan melingkarkan tangannya di pinggang Zara.


"Kita?" tanya Zara "Di posisi Frea?" lanjutnya


"Hmm" sahut Kennan netranya lekat menatap Zara "Coba di ingat-ingat, kalau kamu pernah mendam cinta ke mas, dan kamu bisa mengontrol emosimu, kamu mampu mengendalikan diri, iya kan?" begitu juga dengan mas, mas cinta kamu, tapi mas bisa berfikir secara logis, karena kita mencintai Tuhan kita sebelum mencintai umatnya. Mas yakin kalau saat itu kamu berfikir, jika kita berjodoh, maka akan di satukan, dan jika tidak, itu pasti ketentuan yang terbaik dari-Nya. iya kan?"


Zara sempat mematung mendengar penjelasan Kennan, sebelum akhirnya membenarkan ucapannya. "Mas juga waktu itu pasrah aja, jika taarufmu sama Yusuf berhasil, mas meyakinkan diri kalau kamu bukan buat mas, dan jika kamu milik mas, pasti Tuhan akan menunjukan caranya, and well, jawabannya ada pada saat ini. Kita berjodoh"


Mengatupkan bibir, Zara menyoroti gerakan manik hitam milik Kennan. "Tapi aku juga pernah psikisku kacau, maksudku jantungku yang selalu di buat berantakan ritmenya sama mas, itu membuatku menjadi enggak fokus"


"Tapi mas juga kok dek, mas merasakan debaran jantung yang nggak normal tiap kali berhadapan denganmu, sekaligus bahagia dan tenang juga kalau lihat wajahmu" ujarnya sambil mencubit hidung Zara


"Ngomong-ngomong ini sudah siang, jadi berangkat enggak?"


"Nggak jadi, kita tiduran lagi aja yuk" sahut Kennan lengkap dengan kerlingan mata jahil dan senyum miringnya.


"Issh, bisa-bisanya mas jadi direktur" celetuk Zara "Kalau aku jadi ayah aku harus mikir seribu kali buat jadiin mas pemimpin"


Ucapan Zara di respon gelak tawa oleh Kennan "Janji ya nggak lagi mikirin Frea, kita doakan saja, biar tenang di sana, dan di ampuni dosanya yang sempat buat hidup kita kacau"


"Mas ngomong gitu kaya nggak pernah berbuat dosa saja, ingat mas juga pernah membuat kacau hidup mbak Widia, iya kan?"

__ADS_1


"Ah itu salah dia sayang"


Zara mencebik lalu mencubit pinggang Kennan. "Ayo turun bunda pasti sudah nunggu kita buat sarapan"


******


"Zara,,, kangen?" pekik Ika sekertaris dari papinya. "Berapa lama kita nggak ketemu ya?" Mereka bertemu di tempat parkir, saat sama-sama memarkirkan kendaraannya.


"Pokoknya lama" sahut Zara dengan bibir tersungging.


"Gimana bumil, debay nya udah nendang-nendang belum?"


"Belum, baru aja mau empat bulan" Zara dan Ika berjalan saling bersisian, sementara Kennan berjalan di belakang mereka, dengan fokus tertuju pada ponsel di tangannya.


"Sehat-sehat ya Za"


"Iya, makasih"


"Aku patung bagimu" sebait lagu dari Kennan ia senandungkan saat didalam lift, sebab ia merasa tersisihkan saat Zara dan Ika bernostalgia, membuat dua wanita itu kompak menengok ke samping kiri dimana Kennan berdiri.


"Tadi mas nyanyi?" tanya Zara sembari menunggu angka digital pada lift berhenti di angka tujuh, lantai ruangannya.


"Bentar lagi punya baby Za, harus sering-sering latihan, kan harus siap jadi penyanyi buat nyanyiin dedek bayinya" canda Ika, lengkap dengan kekehannya membuat Kennan berdecih.


"Ok Za, nanti harus makan siang sama aku"


Kennan sempat mendelik ke arah Ika usai dia mengatakan itu. "Harus boleh pak" ucap Ika dengan senyum miringnya saat menyadari tatapan tajam dari Kennan.


***


"Mau pesan apa Za?" Tanya Widia. Mereka saat ini tengah duduk di foodcourt dengan di batasi meja.


Tadi saat Ika dan Zara hendak pergi untuk makan siang di dekat kantor, tiba-tiba Ika di panggil oleh Rio untuk ikut rapat dengannya, bersamaan dengan itu, Widia yang saat itu hendak istirahat juga, menawarkan diri untuk menemani Zara memenuhi keinginannya makan pizza, karena Ika jelas akan membatalkan acara makan siangnya bersama Zara.


"Aku mau pizza saja mba"


"Ya udah kita barengan aja, kebetulan aku juga pengin makan itu. Aku ke toilet dulu ya Za, kamu pilih-pilih dulu mau pizza yang mana, aku ngikut kamu, nanti minumnya aku mau cofe vanila marsmellow"


Widia berjalan menuju toilet, tapi sebelumnya, dia berbicara pada dua waitres, dan salah satu kasir.

__ADS_1


Salah satu dari waitres itu berjalan menghampiri Zara yang tengah fokus pada buku menu.


"Selamat siang mbak, mau pesan apa?"


"Siang mbak" jawab Zara pandangannya yang tadi tertuju pada buku menu, kini beralih pada waitres seorang wanita, Zara sedikit mendongak mempertemukan netranya.


Si waitres berpura-pura kaget saat melihat wajah Zara. "Loh, embak bukannya wanita yang pernah di mintai tolong buat nolongin anaknya yang depresi itu kan, yang akhirnya meninggal, viral banget loh mbak waktu itu berita tentang mmmm si fre,," Waitres itu menggantung ucapannya. "Kok jahat si mbak nggak mau nolongin" lanjutnya tanpa dosa.


Zara tak menghiraukan ucapan wanita itu, ia berusaha keras menormalkan ekspresinya. "Mbak saya mau pesan pizza yang ini, sama minumnya jus Alpokat satu, cofe vanila marsmellow satu, makasih" pesan Zara cuek, ia seoalh sibuk dengan ponselnya, tapi sebenarnya, pikirannya kalut memikirkan ucapan si waitres tadi.


"Maaf ya Za, lama" seloroh Widia, sambik mendudukan bobot tubuhnya.


"Nggak apa-apa mbak"


"Udah pesen Za?"


"Sudah" jawab Zara singkat


"Kamu nggak apa-apa Za" Tanya Widia penuh selidik "Kok seperti nggak nyaman gitu, apa kita pergi aja dari sini?"


"Nggak apa-apa mbak, mungkin aku lagi pengin Makan piza aja"


"Oh ya sudah" sahut Widia sebelum kemudian membatin. "Aku tahu kelemahanmu Za, maaf aku mengobrak-abrik dengan tidak sopannya, Aku harap kamu akan bernasib sama seperti Frea"


Setelah menunggu hampir lima belas menit, pesanan pun datang.


"Embaknya kan yang pernah muncul di koran karena kasusnya si gadis cantik yang meninggal karena depresi kan?" ucap waitres yang lain seraya meletakan pesanan Zara. membuat Zara kian tak nyaman. Debaran jantungnya kian bertalu-talu tak tahu aturan, serta keringat dingin mendadak muncul.


Sudah tak ada lagi selera untuk menikmati pizza yang ia pesan.


"Mbak tolong di jaga mulutnya" sambar Widia "Dia meninggal karena kesalahannya sendiri" lanjutnya pada pelayan itu. "Itu berita sudah lama, tolong jangan di ungkit"


Pelayan itu pergi dengan tatapan seolah tidak suka dengan Zara, dan Zara sempat melihat tatapan yang di lemparkan oleh waitres padanya.


"Jangan di pikirin Za, kita makan saja yuk" Ajak Widia


Berkali-kali Zara menelan salivanya, ia sedikit menyesal sudah mengunjungi cafe ini.


Tiba giliran ke kasir untuk membayar pesanannya, lagi-lagi Zara di buat kacau detak jantung dan pikirannya.

__ADS_1


"Mbak aku saranin jangan berteman dengan dia" kata seorang kasir, matanya meliriknpada Zara yang sudah memucat "Wajahnya kan sempat muncul di Tv karena di sangkut pautkan dengan meninggalnya anak seorang pengusaha, nanti kalau nyawa mbak lagi di ujung tanduk, di tinggalin begitu saja sama dia, kaya mbak yang meninggal itu"


Ketiga kalinya Zara merasa terpojok dengan kata-kata ketiga orang yang sudah di perintahkan oleh Widia. Membuat keringat dinginnya kian membanjir, rasa mual dan kunang-kunang tiba-tiba mulai mendominasi, saat baru saja akan memasuki pintu lift, dia tidak bisa lagi menguasai kesadarnnya, hingga seluruh ruangan tampak begitu gelap.


__ADS_2