
Usai mengikuti kajian, Kennan dan Zara berpamitan pada kakek nenek, dan orang tuanya.
Sesuai rencana tadi malam, mereka akan berkunjung ke rumah kakek neneknya yang lain.
"Mau ke rumah siapa dulu mas?" tanya mami Irma yang juga datang ke rumah kakek abi.
"Kerumah kakek Anggara dulu mi, sorenya baru kerumah kakek Rusdy"
"Kalian hati-hati" pesan Rio, saat tangannya terulur menyambut uluran tangan Kennan.
"Assalamu'alaikum" ucap Kennan dan Zara nyaris bersamaan.
Selain Kennan dan juga Zara yang pamit, Yusuf dan Karisa pun menyusul pamit karena mereka akan jalan untuk menghabiskan hari minggunya.
"Sampai ketemu Za" ucapnya.
"Hati-hati ya kalian" balas Zara seraya melambaikan tangan, lalu membuka pintu mobil.
"Assyikk yang habis ketemu mantan" kata Kennan ketika Zara sudah duduk di dalam mobil, yang saat ini sedang memakai sabuk pengaman.
Mata Zara seketika memicing mendengar ucapan Kennan, bersamaan dengan kepala yang ia tengokan ke samping kanan.
"Mas ngomong apa?"
"Seneng nggak ketemu mas Yusuf?" tanyanya dan itu membuat kerutan di kening Zara semakin mengerut. "Ok sudah siap, kita jalan ya" lanjut Kennan tanpa mengalihkan pandangan dari fokusnya yang akan menginjak pedal gas.
"Aku nggak pernah punya mantan"
Ucapan Zara membuat Kennan mengulas senyum.
"Mau punya mantan gimana, mas kan selalu jadi lampu merah, tiap kali ada cowok yang deketin kamu"
Zara terkejut sekaligus bingung, "Lampu merah gimana?" tanya Zara sedikit menggerakkan badan menghadap Kennan.
"Dulu" ucap Kennan dengan tatapan fokus ke arah padatnya jalanan hari ini "Setiap kali ada laki-laki yang mau deketin kamu, mas selalu jadi lampu merah, supaya mereka berhenti ngejar kamu"
"Kapan itu?"
"Ya pas kamu masih SMA, atau kuliah"
"Pantesan saja aku kok merasa masa nggak ada cowok yang suka sama aku, ternyata mas biang keroknya"
Kennan terkekeh, lalu menginjak rem saat lampu jalan menyala merah.
Mendengkus pelan, Zara kembali memposisikan duduknya lurus menghadap ke depan, ia memegangi sisi kepalanya menggunakan tangan kiri, sementara sikunya bertumpu pada jendela mobil.
__ADS_1
"Padahal aku dulu mikirnya, kalau aku tuh jelek, jadi nggak ada yang mau sama aku"
"Tapi ternyata ada banyak loh dek"
"Mas tahu?" sahut Zara tanpa menatapnya.
Sampai ketika lampu merah berganti hijau, Kennan masih bungkam, Ia kembali menarik tuas gigi dan perlahan ia kembali melajukan mobilnya.
Setibanya di rumah kakek Anggara orang tua dari Rio, mereka di sambut sama bu dhe Rita.
"Kalian dari mana saja to?, kok nda bilang mau kesini"
"Dari rumah kakek Abi budhe, udah niat dari kemarin mau kesini" sahut Zara, mereka berjalan menuju ruang tengah. "Oma sama opa gimana, kabarnya sehat?"
"Sehat, mereka lagi duduk di gazebo belakang"
"Nggak istirahat siang memangnya?"
"Ndak pernah tidur siang, mereka lebih suka duduk sambil nikmatin angin di jam segini" budhe Rita mengatakannya sembari memutar pandangan. "Loh Mas Ken mana?"
"Paling lagi nyangkruk sama pak satpam budhe"
Jawaban Zara bersamaan dengan budhe Rita yang menoleh ke ke arah Kennan berada. Tampak ia tengah mengeluarkan beberapa barang dari bagasi mobilnya.
"Kalian sudah makan siang?"
"Bu dhe bikinin minum ya"
"Hmm"
"Assalamu'alaikum" teriak Kennan dari ambang pintu. Ia langsung memasuki rumah oma opanya, menuju dapur, untuk meletakan oleh-oleh.
"Waalaikumsalam, kalian kalau ke sini mbok ya kesini saja, ndak usah bawa macam-macam"
"Nggak apa-apa dhe Rita" sahut Kennan lalu mengecup punggung tangan Budhenya, yang sedang berada di dapur "Zara mana dhe?"
"Dia ke belakang, oma opa ada di sana"
"Bu dhe mau bikin minum?"
"Iya, kenapa?"
"Buatin wedang asem jawa dhe, kayanya seger asem-asem manis"
"Okey budhe buatin deh"
__ADS_1
"Makasih budhe, Ken ke oma dulu ya"
"Iya sayang"
Kennan yang baru saja bergabung, berusaha menahan diri untuk tidak tersenyum ketika melihat sang istri tengah di beri wejangan tentang kehamilannya oleh oma dan opanya, Zara yang terus menganggukan kepala seolah faham dengan nasehat omanya, nyatanya saat di tanya kembali dia tidak bisa menjawab.
"Tadi katanya sudah tahu, kenapa oma tanya nggak bisa jawab" ujar oma sambil menoel pipinya yang semakin chabi. "Kalau masih belum paham mbok di tanyakan Zara" ucapnya lagi.
"Kamu jangan pura-pura paham dek, nggeh nggeh mboten kepanggeh" seloroh Kennan
Zara hanya nyengir, dan itu, membuat Kennan semakin terkekeh.
"Dia tuh kalau di kasih tahu, transitnya di kepala cuma sebentar oma, masuknya lewat telinga kiri, langsung keluar lewat telinga kanan" lanjut Kennan sambil meraih kue lapis legit lalu melahapnya.
Reflek Zara mencubit lengan Kennan yang melingkar di pinggangnya.
"Papi sama mami sehat?" tanya oma
"Sehat oma"
"Terus ayah sama bunda juga sehat, opa Rusdy gimana?"
"Kalau bunda sama ayah sehat, kalau opa Rusdy Insya Allah juga sehat" kata Kennan "Nanti kita juga akan mampir nengokin mereka"
"Salam buat mereka ya" balas opa.
"Iya opa"
Sudah hampir dua jam Kennan dan Zara berada di rumah opa. Rasa rindu yang mereka pendam pun sedikit terobati.
"Hati-hati di jalan" pesan opa sembari terus melangkah. Meskipun usia mereka sudah lebih dari tujuh puluh tahun, mereka masih sanggup berjalan tanpa bantuan tongkat.
Pesannya di anggukan oleh Kennan dan Zara.
"Opa sama oma selalu jaga kesehatan ya" ucap Zara sambil mengusap lengan opanya. "Makan yang teratur, istirahat yang cukup, jangan lupa setiap pagi juga di sempatin berjemur"
"Siap Nona" jawaban opa mengundang gelak tawa mereka.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Kita langsung ke rumah opa Rusdy kan dek?"
"Hmm, memangnya mau kemana lagi?"
__ADS_1
"Ya siapa tahu sekalian ke rumah Kakek Bambang"
"Kesananya next time saja"