
Javier berjalan menaiki anak tangga satu demi satu sambil menatap sekeliling mansion.
'Kini Aku baru sadar, ternyata mansion semegah ini sangat sepi. Jika seandainya ke lima anak kembar Kami bersama Adira tinggal di sini pasti mansion ini sangat ramah dan penuh canda tawa.' Ucap Javier dalam hati.
Ceklek
Javier membuka pintu kamarnya yang megah kemudian berjalan ke arah ranjang dengan tubuh yang sangat lelah.
Bruk
Javier menjatuhkan tubuhnya ke ranjang sambil memejamkan matanya. Biasanya Javier pulang kerja langsung membersihkan tubuhnya yang lengket namun saat ini dirinya malas melakukan apa - apa hanya memikirkan Adira dan ke lima anak kembarnya agar bisa bersamanya.
"Adira, Aku sangat merindukanmu begitu pula dengan ke lima anak kita." Ucap Javier lirih sambil memejamkan matanya.
Tidak membutuhkan waktu lama Javier tidur dengan pulas tanpa melepaskan sepatu dan pakaian kerjanya.
Mimpi Javier
Brak
"Jika kalian semua ingin keluar dan menjual sahamnya silahkan saja." Ucap seorang pria tampan sambil membuka pintu rapat dengan kasar kemudian berjalan bersama ke lima anak kembar siapa lagi kalau bukan Javier.
Serentak semua yang ada di ruangan tersebut memalingkan wajahnya ke arah samping dan melihat Javier, ke lima anak kembar Javier dengan Adira bersama asisten setianya yang mengikuti Javier siapa lagi kalau bukan Kevin.
"Tuan, siapa? Tuan tidak berhak ikut campur urusan perusahaan ini." Ucap seorang pria sambil menahan amarahnya.
"Betul." Jawab mereka bersamaan kecuali Adira.
"Anak-anak." Panggil Adira dengan wajah terkejut melihat kedatangan dua pria asing.
Javier sangat familiar dengan suara tersebut membuat Javier yang awalnya menatap ke arah para pria dengan tatapan tajam akhirnya memalingkan wajahnya untuk menatap ke arah wajah Adira dan langsung berubah menjadi tatapan sendu.
Jantungnya berdetak kencang melihat wanita yang selama bertahun-tahun dicarinya dan Javier mengira kalau Adira sudah meninggal ternyata masih hidup membuat Javier berjalan ke arah Adira dengan mata berkaca-kaca.
"Mommy." Panggil ke lima anak kembar tersebut bersaman sambil berjalan ke arah Adira.
Grep
"Kok kalian datang ke sini? Bukannya kalian pergi ke sekolah?" Tanya Adira dengan nada lembut sambil berlutut kemudian memeluk ke lima anak kembarnya.
"Lihatlah, seorang CEO punya anak kembar tapi tidak mempunyai Ayah. Apa pantas..." Ucapan pria tersebut terpotong oleh Javier yang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Mommy dan anak-anak Daddy keluarlah, biarkan Daddy menghadapi mereka." Ucap Javier sambil menahan amarahnya.
"Tapi ..." Ucapan Adira terputus ketika melihat tatapan tajam Javier membuat Adira menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
"Baiklah, ayo anak-anak." Ucap Adira.
"Baik Mom." Jawab ke lima anak kembarnya bersamaan.
Mereka berlima keluar dari ruang rapat tersebut kemudian Javier memberikan kode ke Kevin untuk berjaga di depan pintu agar tidak ada satupun yang masuk dan keluar dari ruang rapat.
Kevin yang mengerti langsung berdiri di depan pintu sedangkan Javier menatap satu persatu para pemegang saham dengan tatapan tajam terutama ke pria yang mengatakan kalau ke lima anaknya tidak mempunyai seorang Ayah.
"Siapa bilang ke lima anak kembar tidak mempunyai Ayah?" Tanya Javier dengan nada dingin dan berwajah datar.
__ADS_1
"Buktinya sampai sekarang Kami sebagai pemegang saham tidak tahu siapa Ayah dari ke lima anak kembar tersebut. Apakah Dia pantas menjabat sebagai CEO?" Tanya pria tersebut dengan nada menghina.
"Betul, lebih baik Nyonya Adira diturunkan dari kursi CEO dan Tuan Alex yang pantas menjabat sebagai CEO karena sahamnya lebih besar." Sambung pemegang saham lainnya.
"Betul turunkan Nyonya Adira." ucap mereka bersamaan.
"Akulah Ayah kandung dari ke lima anak kembar kalau memang selama ini aku tidak sempat datang ke negara ini karena aku sangat sibuk mengurus perusahaan ku." Ucap Daddy Javier berbohong.
Daddy Javier terpaksa berbohong karena dirinya tidak ingin Adira dan kelima anak kembarnya di hina oleh orang lain karena itulah Daddy Javier terpaksa berbohong demi melindungi orang-orang yang disayanginya.
"Cihhhhh... pura-pura sibuk, memangnya nama perusahaan mu apa? Sampai segitunya sibuk?" Tanya pria tersebut dengan wajah menghina.
"Kalian pasti kenal dengan Perusahaan Akhirnya Menemukanmu? Itulah nama perusahaan yang aku kelola." Jawab Javier.
Perusahaan Akhirnya Menemukanmu adalah perusahaan nomer satu di negara S dan nomer lima di beberapa negara lainnya.
"Apa? Mana mungkin pasti kamu berbohong." Ucap mereka bersamaan.
"Kevin." Panggil Javier.
"Apa nama perusahaan Tuan?" Tanya Kevin pada salah satu pemegang saham.
"Perusahaan Angin Ribut." Jawab pemegang saham pertama.
"Kalau Tuan?" Tanya Kevin.
"Perusahaan Angin Sepoi-sepoi." Jawab pemegang saham ke dua.
"Kalau Tuan?" Tanya Kevin.
"Perusahaan Angin Mampir Yuk." Jawab pemegang saham ke tiga.
"Kalau Tuan?" Tanya Kevin.
"Bersiaplah mulai sekarang dan seterusnya tidak ada lagi kerja sama dengan perusahaan kami Perusahaan Akhirnya Menemukanmu." Jawab Kevin.
"Untuk yang lainnya, aku akan tinggal bertanya dengan anak buahku yang bernama Robert." Ucap Kevin sambil mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Robert.
"Anda kenal dengan Tuan Robert?" Tanya mereka bersamaan dengan wajah sangat terkejut.
"Tentu saja kami kenal, Tuan Robert adalah anak buah kami sekaligus orang kepercayaan Tuan Javier pemilik Perusahaan Akhirnya Menemukanmu." Jawab Kevin sambil menekan tombol Tuan Robert.
Sambungan pertama langsung di angkat kemudian Kevin dengan sengaja menekan tombol loud speaker agar semua orang mendengarnya.
("Selamat siang Tuan Kevin, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Tuan Robert).
("Putuskan kontrak kerja sama Perusahaan Angin Ribut, Perusahaan Angin Sepoi-sepoi, Perusahaan Angin Mampir Yuk dan perusahaan yang mempunyai kerja sama dengan kita di kota ini!" Perintah Kevin).
("Maaf Tuan, perusahaan yang mempunyai kerja sama dengan kita sangat banyak, apakah bisa disebutkan nama perusahaannya?" Tanya Tuan Robert).
Tut Tut Tut Tut
Tiba-tiba Kevin memutuskan sambungan komunikasi secara sepihak kemudian menekan tombol video call dan sambungan pertama langsung di angkat.
("Hallo Tuan." Panggil Tuan Robert sambil menatap wajah Kevin).
__ADS_1
("Kamu kenal dengan mereka?" Tanya Kevin sambil menekan tombol ponselnya).
Awalnya Tuan Robert menatap wajah Kevin dan kini Tuan Robert melihat para pria yang duduk di kursi ruang rapat yang diarahkan oleh Kevin.
("Kenal Tuan." Jawab Tuan Robert).
("Kalau begitu putuskan kontrak kerjasama kita dengan mereka!" Perintah Kevin sambil kembali menekan tombol dan otomatis Tuan Robert menatap ke arah Kevin begitu pula sebaliknya).
("Baik Tuan." Jawab Tuan Robert patuh).
Tut Tut Tut Tut
Sambungan komunikasi langsung diputuskan secara sepihak oleh Kevin kemudian menyimpan ponselnya ke dalam saku jasnya.
Bruk
Bruk
Bruk
Satu persatu para pemegang saham yang berjumlah lima belas orang langsung berlutut dengan wajah pucat pasi. Wajah angkuh dan sombong kini hilang dalam sekejap membuat Javier tersenyum sinis.
"Maafkan kami Tuan." Mohon mereka bersamaan.
"Sudah terlambat dan bersiaplah kalian tinggal di kolong jembatan karena telah berani mengusik istriku dan ke lima anak kembar kami." Ucap Javier dengan nada dingin dan wajah datar sambil berdiri.
Javier berjalan ke arah pintu sedangkan Kevin dengan langkah cepat membuka pintu ruang rapat tersebut dengan lebar. Javier keluar dari ruangan tersebut dan melihat punggung wanita yang selama ini dirindukannya karena posisi Adira membelakangi dirinya bersama ke lima anak kembarnya yang masih kecil.
"Adira." Panggil Javier dengan wajah sendu sambil berjalan ke arah Adira.
Adira yang awalnya berlutut sambil mengobrol dengan ke lima anak kembarnya langsung berdiri dan membalikkan badannya.
"Maaf saya tidak kenal dengan Tuan jadi jangan mengaku kalau ke lima putraku adalah anak Tuan." Ucap Adira dengan nada tegas.
"Kamu tidak kenal denganku?" Tanya Javier dengan wajah super terkejut.
"Maaf, aku tidak kenal." Jawab Adira.
"Oh ya bagaimana hasilnya?" Tanya Adira yang sangat kuatir perusahaan milik keluarganya bangkrut.
"Baik - baik saja, maukah kita pergi ke rumah sakit?" Tanya Javier penuh harap.
'Aku akan lakukan tes DNA kalau ke lima anak kembarnya adalah putraku maka aku akan meminta Adira untuk tinggal bersamaku karena aku sangat yakin kalau wanita ini adalah Adira.' Sambung Javier dalam hati.
"Untuk apa?" Tanya Adira penasaran.
Javier menatap ke arah ke lima anak kembarnya untuk meminta bantuan pasalnya dirinya tidak mungkin mengatakan kalau dirinya ingin melakukan tes DNA.
'Daddy ingin melakukan tes DNA dan jika hasilnya keluar maka Daddy bisa mengajak Mommy kalian dan kalian untuk bisa tinggal bersama Daddy dan kita bisa menjadi satu keluarga.' Ucap Javier melalui telepati.
Ke lima anak kembar tersebut hanya menganggukkan kepalanya tanda mereka mengerti arti tatapan dan ucapan Javier melalui telepati membuat ke lima anak kembarnya saling menatap.
'Apa alasan Daddy ke Mommy agar Mommy mau di ajak ke rumah sakit?' Tanya ke lima anak kembarnya lewat telepati sambil saling menatap.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
__ADS_1
Sambil menunggu Up silahkan mampir ke karya temanku dengan judul :