
Keluarga besar daddy Rico dan ke dua orang tua Arsenio termasuk ke empat adik kembarnya yang mendengar suara tembakan serempak memalingkan wajahnya dan melihat Arsenio sedang menggendong Angelina ala bridal style menuju ke arah mobil.
"Bagas dan Draco temani kakak kalian." Ucap Daddy Javier.
"Baik Dad," jawab Bagas dan Draco bersamaan.
Bagas dan Draco berjalan mengikuti langkah kakak kembarnya menuju ke arah mobil, Bagas duduk di kursi pengemudi dan Draco duduk di samping pengemudi sedangkan Arsenio duduk di kursi belakang pengemudi sambil meletakkan kepala Angelina di kedua pahanya.
Bagas mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit sedangkan Draco yang duduk di samping pengemudi membalikkan badannya untuk melihat apa yang dilakukan oleh kakak kembarnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi kak?" tanya Draco penasaran.
"Ada musuh yang ingin menembak kakak dengan menggunakan sinar laser Rifle tapi Angelina menjadikan tubuhnya sebagai tamengnya," jawab Arsenio sambil membelai rambut hitam milik Angelina yang lumayan panjang.
Entah kenapa baru kali ini Arsenio mau menyebut nama Angelina dan dalam hatinya yang paling terdalam dirinya tidak ingin terjadi sesuatu dengan Angelina.
"Apa? Kok kakak bisa tahu kalau ada sinar laser Rifle?" tanya Draco penasaran begitu pula dengan Bagas.
"Kakak bisa tahu sebelum Angelina tidak sadarkan diri di mana Angelina sempat mengatakan kalau ada penembak jitu karena itulah kakak mencari penembak jitu itu dan ternyata penembak jitu itu ingin menembak Kakak kembali," jawab Arsenio menjelaskan.
"Apakah kakak mencintainya?" tanya Bagas yang sejak tadi diam karena dirinya sedang mengendarai mobil.
"Tidak," jawab Arsenio singkat sambil menahan tangannya yang tadi membelai rambut Angelina.
"Kak Angelina sudah merelakan dirinya untuk menjadikan tubuhnya sebagai tamengnya tapi kenapa tidak ada perasaan sedikit untuk kak Angelina?" tanya Bagas.
"Karena dia wanita mu ra han jadi kakak tidak mungkin mencintainya," jawab Arsenio yang bertentangan dengan kata hatinya.
Lain di mulut namun berbeda dengan tindakan yang dilakukan oleh Arsenio, Arsenio biasanya sangat jijik jika tubuhnya tersentuh dengan tubuh wanita mu ra han dan akan mendorong tubuh wanita itu dengan sangat kasar.
Namun entah kenapa, walau Angelina wanita mu ra han dirinya tidak tega mendorong tubuh Angelina hal itu membuat Bagas dan Draco saling menatap dengan tatapan bingung.
"Tapi kenapa kakak masih mau menyentuhnya? Bukankah kakak paling membenci jika tubuhnya bersentuhan dengan wanita mu ra han?" tanya Bagas penasaran begitu pula dengan Draco.
"Kakak juga tidak tahu kenapa kakak mau menyentuh wanita ko tor ini. Mungkin Angelina sudah menolong kakak," jawab Arsenio yang juga bingung dengan dirinya sendiri.
Bagas dan Draco hanya diam, mungkin benar apa yang dikatakan oleh kakak kembarnya hingga tidak terasa mereka sudah sampai di rumah sakit dan langsung di bawa ke UGD.
Ke tiga pemuda tampan tersebut kini duduk menunggu tanpa memperdulikan tatapan lapar para gadis dan wanita yang menatapnya hingga Bagas merasa bosan dan mengatakan ingin pergi ke kantin.
"Kak, aku mau ke kantin mau nitip tidak?" tanya Bagas.
__ADS_1
"Boleh, kakak pesan kopi hitam." jawab Arsenio.
"Draco, kamu pesan apa?" tanya Bagas.
"Aku ikut kak," jawab Draco.
"Ok, jawab Bagas singkat.
Bagas dan Draco pergi meninggalkan kakak kembarnya menuju ke arah kantin sedangkan Arsenio yang juga jenuh mengambil ponselnya untuk mengerjakan pekerjaan kantor namun ketika menatap ponselnya Arsenio melihat bayangan wajah kesedihan Angelina seperti menghiasi ponsel Arsenio membuat Arsenio menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
'Kenapa wajah kesedihan Angelina terbayang terus? Bahkan melihat layar ponselku seperti melihat wajah kesedihan Angelina .... Tidak .... Tidak ... Aku tidak boleh memikirkannya ... dia sudah menabrak Oma yang Aku sayangi dan juga dia bukan wanita baik - baik ... Angelina tidak pantas aku pikirkan." ucap Arsenio dalam hati.
Arsenio yang ingin mengerjakan kantor membatalkannya kemudian menyimpan kembali ponselnya di saku jasnya sambil menatap ke arah pintu UGD hingga tidak berapa lama pintu UGD terbuka. Arsenio langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu ugd bersamaan dokter keluar dari pintu ugd.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Arsenio dengan wajah kuatir.
"Untung di tolong tepat waktu jika tidak ... tuan Arsenio pasti sudah tahu jawabannya," jawab dokter tersebut.
Deg
Deg
Entah kenapa jantung Arsenio berdetak kencang ketika mendengar hal tersebut terlebih Angelina sudah menolong dirinya menjadikan tubuhnya sebagai tamengnya membuat dirinya merasa bersalah tapi berusaha di tepisnya.
"Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan," jawab dokter tersebut.
"Apakah tuan Arsenio menyukainya?" tanya dokter tersebut kepo.
"Tidak," jawab Arsenio singkat namun sebenarnya bertentangan dengan kata hatinya.
"Syukurlah," jawab dokter tersebut.
"Apa maksudmu?" tanya Arsenio dengan wajah tidak suka.
"Berarti aku bisa mendekatinya dan menjadikan pendamping hidupku," jawab dokter tersebut.
"Kamu ingin Aku pindahkan ke kutub utara?" tanya Arsenio dengan nada dingin dan tatapan membunuh.
"Ayolah bro, kita ini berteman sejak masih kecil bahkan sekolah dan kuliah di tempat yang sama hanya beda jurusan tapi sikapmu seperti ini? Apa jangan - jangan kamu memang menyukainya?" tanya dokter tersebut merubah bahasa formalnya.
Arsenio tidak memperdulikan ucapan dokter sekaligus teman masa kecilnya malah Arsenio membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan dokter tersebut.
__ADS_1
"Jadi bolehkah aku mendekati gadis itu?" tanya dokter tersebut penasaran dengan perasaan Arsenio.
"Kalau kamu mau tinggal di kutub utara dan berkerja di rumah sakit kutub utara untuk mengurus penguin dan beruang kutub silahkan saja," jawab Arsenio dengan nada santai sambil kembali melangkahkan ke dua kakinya yang sempat terhenti.
Sahabatnya langsung membayangkan tinggal di kutub utara bersama para penguin dan beruang kutub langsung bergedik ngeri.
"Aish nyebelin," ucap dokter tersebut dengan wajah di tekuk.
"Jangan lupa di rawat di ruang perawatan VVIP." ucap Arsenio sebelum pergi menjauh.
"Aku sangat yakin Arsenio menyukai gadis itu tapi dirinya tidak mau mengakuinya atau bisa jadi dirinya belum menyadarinya," ucap dokter tersebut sambil berjalan ke ruangan lain untuk memeriksa pasien lainnya.
xxxxxxx
Perlahan Angelina menggerakkan jari jemarinya dan tidak berapa lama Angelina membuka ke dua matanya yang lentik sambil menatap ke sekeliling ruangan.
'Aku di mana?' tanya Angelina dalam hati sambil melihat ke arah sekelilingnya yang serba putih dan berada di ruangan yang lumayan besar.
'Terakhir yang aku ingat aku menjadikan tubuhku sebagai tamengnya setelah itu samar - samar aku melihat kak Arsenio memelukku dengan wajah yang sangat kuatir.' Ucap Angelina dalam hati.
'Tapi tidak mungkin Kak Arsenio kuatir denganku karena Aku di sini sendirian," ucap Angelina dalam hati dengan wajah yang sangat sedih.
Tidak berapa lama air matanya keluar hatinya sangat sedih dan sangat terluka karena saat ini Ibu kandungnya yang bernama Belia tidak menghubungi dirinya seakan tidak perduli apakah dirinya hidup atau ma ti.
'Daddy, maafkan Aku karena Aku telah menembak Daddy hingga Daddy pergi selama-lamanya. Mungkin ini karma ku karena telah menembak Daddy hingga Daddy meninggal dunia.' Ucap Angelina dalam hati.
"Sepertinya jika aku tiada semua orang tidak ada yang perduli padaku,' sambung Angelina dalam hati sambil tangan kanannya menyentuh selang infus yang menempel di pergelangan tangan kirinya.
Ceklek
Ketika Angelina hendak menarik selang infus bersamaan pintunya terbuka membuat Angelina menghapus air matanya dengan kasar dan dalam hatinya sangat bahagia karena mengira Ibunya akan datang untuk menengok dirinya dan baru saja yang yang dipikirkan ternyata salah besar.
'Ternyata yang datang dokter dan perawat.' Ucap Angelina dalam hati dengan wajah sangat kecewa.
Dokter dan perawat tersebut berjalan ke arah Angelina sambil menatap tajam ke arah Angelina seakan ingin membunuhnya membuat Angelina mengejutkan keningnya.
"Kenapa dokter dan suster menatapku dengan tatapan kebencian?" Tanya Angelina dengan tatapan bingung.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
__ADS_1
Sambil menunggu up silahkan mampir ke karya temanku dengan judul :