Ranjang Panas Sang CEO 5

Ranjang Panas Sang CEO 5
I Love You So Much


__ADS_3

"Sstttttt... Jangan di paksa nanti kepalanya semakin sakit." Ucap Javier sambil tangannya di arahkan ke kening Adira namun Javier langsung menurunkan tangannya.


"Aku seperti masuk ke dalam sebuah kamar dan melihat bayangan hitam tinggi dan berjalan ke arahku. Tapi wajahnya terlihat samar-samar ... Akhhhhh.... Sakit..." Ucap Adira sambil memegangi kepalanya.


Grep


"Jangan di paksa, ambil nafas lalu keluarkan nafas secara perlahan lewat mulut agar rasa sakit kepalanya hilang." Ucap Javier sambil memeluk tubuh mungil Adira.


Adira terdiam beberapa saat kemudian membalas pelukan Javier yang terasa sangat nyaman membuat Javier tersenyum sambil mengusap rambut Adira.


'I Love You So Much.' Ucap Javier dalam hati.


Setelah beberapa saat Adira melepaskan pelukannya begitu pula dengan Javier. Adira menatap wajah tampan Javier yang sangat mirip dengan ke lima anak kembarnya.


"Wajah Kak Javier sangat mirip dengan ke lima anakku, apakah Kak Javier ..." Ucap Adira menggantungkan kalimatnya sambil mengarahkan tangannya ke arah wajah Javier namun diurungkan.


Grep


"Benar, Kakak adalah Ayah dari ke lima anak kita. Maafkan perbuatanku di masa lalu, sungguh Kakak sangat menyesal telah menyakitimu." Ucap Javier yang mengerti kalimat selanjutnya dan juga dirinya merasa bersalah.


"Aku sama sekali lupa apa yang terjadi saat itu karena jika Aku mengingatnya yang ada kepalaku sangat sakit dan semakin Aku paksa membuatku tidak sadarkan diri." Ucap Adira.


"Jangan dipaksakan untuk mengingatnya." Ucap Javier.


Adira menganggukkan kepalanya kemudian membalikkan badannya menatap ke arah bintang - bintang yang bertaburan di langit.


"Sudah malam, kenapa belum tidur?" Tanya Javier sambil berjalan ke arah Adira kemudian berdiri di samping Adira.


"Belum bisa tidur." Jawab Adira.

__ADS_1


"Ada yang Kamu pikirkan?" Tanya Javier.


Adira memiringkan tubuhnya agar menatap ke arah Javier dengan tatapan sendu.


"Kak Javier sudah tahu kalau kita sudah mempunyai lima anak kembar, apakah Kak Javier berniat memisahkan Aku dengan ke lima anak kembar?" Tanya Adira.


"Kenapa kamu bilang begitu?" Tanya Javier dengan wajah bingung.


Grep


Cup


"Kak Javier sangat tampan sudah pasti banyak wanita cantik yang menyukai Kak Javier dan ..." Ucapan Adira terputus ketika Javier memeluk kemudian mencium bibir Adira dengan lembut.


"Kak Javier kenapa menciumku?" Tanya Adira dengan nada protes sambil mendorong tubuh Javier.


"Orang yang Kakak sukai adalah Kamu, Mommy dari ke lima anak - anak kita." Jawab Javier sambil melepaskan pelukannya kemudian memegangi bibirnya.


Adira terdiam sambil menundukkan wajahnya, dirinya bingung mau mengatakan apa.


"Kamu bersediakan menjadi istriku, kan?" Tanya Javier.


"Bersedia tapi dengan dua syarat." Ucap Adira.


"Apa itu?" Tanya Javier.


"Dulu Aku tidak ingat apa yang terjadi saat itu hanya saja jangan ulangi kesalahan yang sama seperti waktu itu. Jadi Aku minta jangan sakiti Aku dan percaya denganku apapun yang terjadi." Jawab Adira.


"Baik, apakah ada tambahannya?" Tanya Javier.

__ADS_1


"Tidak ada." Jawab Adira.


"Biasanya wanita meminta perhiasan atau barang-barang berharga." Ucap Javier dengan wajah terkejut.


"Aku bukan wanita seperti di luaran sana." Ucap Adira sambil menguap.


"Sudah malam, kamu harus istirahat." Ajak Javier yang merasa yakin Adira adalah jodohnya karena Adira berbeda dari wanita lain.


"Kak Javier tidur di mana?" Tanya Adira.


"Tentu saja Kakak pulang kembali ke mansion dan nanti pagi ke sini lagi kecuali kalau Kamu meminta Kakak menemanimu tidur. Tentu saja Kakak tidak akan menolaknya." Ucap Javier.


"Menemaniku tidur? Yang ada ..." Ucap Adira menggantungkan kalimatnya karena dirinya malu untuk melanjutkannya.


"Awalnya Kakak tidak berpikiran ke arah sana tapi kalau Kamu mau Kakak tidak akan menolaknya." Ucap Javier.


Bugh


"Mesum." Ucap Adira sambil memukul bahu Javier kemudian berjalan ke arah ranjang.


"Mesum sama calon istriku boleh dong." Ucap Javier sambil berjalan mengikuti langkah Adira.


Adira hanya tersenyum mendengar ucapan Javier, entah kenapa dirinya sangat senang dan nyaman bersamanya. Adira berbaring di sisi ranjang sedangkan Javier duduk di sisi ranjang satunya.


"Boleh Kakak tidur di sini? Kalau tidak boleh berarti Kakak pulang sekarang." Ucap Javier yang tidak ingin memaksakan kehendaknya.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Sambil menunggu Up silahkan mampir ke karya temanku dengan judul :

__ADS_1



__ADS_2