Ranjang Panas Sang CEO 5

Ranjang Panas Sang CEO 5
Kenapa Angelina menangis?


__ADS_3

Deg


Jantung Angelina berdetak kencang kemudian menatap dokter tersebut yang sedang menatap dirinya dengan tatapan tajam.


'Suaranya seperti Mommy tapi wajahnya bukan, apa jangan-jangan Mommy menyamar menjadi seorang dokter?' Tanya Angelina dalam hati.


"Dokter Cintya, kenapa diam saja?" tanya dokter lainnya.


"Maaf." ucap dokter Cintya singkat.


Dokter Cintya mulai memeriksa keadaan Angelina setelah selesai dokter Cintya mengeluarkan suntikan dan ampul.


"Maaf dokter Cintya, itu obat apa?" tanya dokter lainnya.


"Racun di dalam tubuhnya belum bersih sepenuhnya karena itulah diberikan obat penghilang racun agar racun yang berada di dalam tubuhnya benar-benar bersih dan Nona Angelina tidak lagi mengalami kesakitan." Jawab dokter Cintya panjang lebar.


Ke tiga dokter tersebut saling memandang sedangkan dokter Cintya menyuntik lengan Angelina.


'Obat ini akan membuatmu semakin tersiksa dan akhirnya Kamu datang padaku untuk meminta penawarnya dan di saat itu pula Mommy akan menyuruhmu untuk membunuh Arsenio.' ucap dokter Cintya dalam hati yang tidak lain adalah Ibunya Angelina.


Demi membalaskan dendam dirinya melakukan berbagai cara walau harus mengorbankan nyawa putri kandungnya. Terlebih wajah Angelina yang sangat mirip dengan pria yang dibencinya membuat Belia semakin membencinya dan ingin menyiksa Angelina yang jelas-jelas tidak bersalah.

__ADS_1


'Aku tidak tahu obat apa yang dimasukkan ke dalam tubuhku melalui suntikan tapi yang pasti Aku harus kuat dan tidak akan mau untuk menyakiti Tuan Arsenio maupun keluarganya.' ucap Angelina dalam hati.


Angelina hanya menatap Belia yang menyamar menjadi dokter Cintya di mana para dokter tahu kalau dokter Cintya merupakan dokter yang mengerti tentang racun dengan tatapan sendu.


Setelah selesai dokter Cintya atau Belia merapikan peralatan dokter dan mentlyimpan bekas suntikan dan ampul ke dalam saku jas dokternya.


"Sekarang pindahkan ke ruang perawatan." ucap dokter Cintya atau Belia kemudian pergi meninggalkan ruang operasi.


"Baik dok." jawab ke tiga dokter tersebut.


Kini Angelina berada di ruang perawatan VVIP di mana Arsenio menunggu dirinya bersama seorang pengacara.


"Sudah mulai membaik?" tanya Arsenio.


"Syukurlah dan sekarang tanda tangani dokumen ini." ucap Arsenio sambil memberikan dokumen tersebut beserta pena.


"Dokumen apa?" tanya Angelina sambil menerima dokumen tersebut dan juga pena.


"Dokumen pernikahan." Jawab Arsenio.


Tanpa membaca Angelina menandatangani dokumen tersebut membuat Arsenio dan pengacara sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Angelina.

__ADS_1


"Kenapa tidak di baca terlebih dahulu?" tanya Arsenio.


"Tidak perlu karena Aku percaya sama Tuan Muda Arsenio." Jawab Angelina sambil memberikan dokumen berikut penanya.


"Bagaimana kalau isinya merugikan dirimu?" tanya Arsenio.


"Mungkin sudah menjadi takdirku." Jawab Angelina yang tidak perduli dengan apa yang terjadi nantinya.


"Maaf, Aku ingin sekali sendiri. Bolehkah?" tanya Angelina sambil menatap Arsenio dengan mata berkaca-kaca.


Arsenio memalingkan wajahnya ke arah samping kemudian pergi bersama pengacara dan meninggalkan Angelina sendirian.


"Daddy, Aku sangat lelah mungkin ini karma ku karena telah menembak Daddy." ucap Angelina sambil memejamkan matanya.


Tes


Tes


Tes


Angelina yang tidak bisa menahan kesedihan dan rasa kekecewaan terhadap ibunya membuat Angelina menangis karena dengan menangis bisa membuat perasaannya menjadi lega.

__ADS_1


Tidak berapa lama Angelina tidur dengan pulas bersamaan pintu ruang perawatan terbuka tampak Arsenio dan Mommy Nicole masuk ke dalam dan berjalan ke arah ranjang di mana Angelina berbaring.


"Kenapa Angelina menangis?" Tanya Mommy Angelina sambil menatap ke arah Arsenio.


__ADS_2