Ranjang Panas Sang CEO 5

Ranjang Panas Sang CEO 5
Menemani Tidur


__ADS_3

Entah kenapa Arsenio mendekati Angelina kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Angelina.


'Aku sangat mencintaimu dan Aku janji tidak akan melukai hatimu.' Bisik Arsenio tepat di telinga Angelina.


'Aku mohon beri Aku kesempatan ke dua.' Mohon Arsenio untuk pertama kalinya dirinya memohon.


Setelah mengatakan hal itu Arsenio berdiri dengan tegak kemudian berjalan dengan mundur beberapa langkah.


Dewi Arumi kembali memberikan obat ke dalam mulut Angelina namun obat tersebut dikeluarkan kembali membuat Dewi Arumi menatap ke arah Arsenio.


"Ada apa Tante?" Tanya Arsenio.


"Obat ini lumayan keras, apakah Kamu mau memberikannya lewat mulut ke mulut?" Tanya Dewi Arumi.


"Apa yang terjadi dengan Arsenio jika obat itu masuk ke dalam tubuhnya?" Tanya Mommy Adira dengan wajah kuatir.


"Dada Arsenio akan terasa sesak sekitar lima belas menit setelah itu rasa sesak nya berkurang." Jawab Dewi Arumi menjelaskan.


"Aku tidak bisa memaksa hanya saja dalam satu menit lagi nyawa Angelina sudah tidak tertolong lagi." Sambung Dewi Arumi sambil melihat jam tangannya.


"Arsenio akan melakukannya." Jawab Arsenio tanpa berpikir panjang lagi sambil mengulurkan tangan nya ke arah Dewi Arumi untuk meminta obatnya.


"Arsenio, Mommy tidak ingin Kamu tersiksa." Ucap Mommy Adira.


"Mom, waktu itu Angelina menghadang pelurunya ketika Arsenio ingin di tembak dan Angelina terluka parah. Apa yang Arsenio lakukan tidak sebanding pengorbanan Angelina." Ucap Arsenio.


Selesai mengatakan hal itu Arsenio membuka tutup botol tersebut namun Mommy Adira ingin merebutnya.


"Biar Mommy saja yang merasakan sakit karena Mommy tidak sanggup melihat anak-anak Mommy menderita." Ucap Mommy Adira.


"Tidak Mom, justru Arsenio tidak akan tega dan sanggup melihat Mommy menderita. Sudah cukup dulu Mommy dilukai oleh wanita jahat itu." Ucap Arsenio sambil menggenggam tangan Mommy Adira agar tidak merebut botol yang berisi obat tersebut.


Selesai mengatakan hal itu Arsenio memasukkan obatnya ke dalam mulutnya kemudian memasukkan nya ke dalam mulut Angelina.


Dewi Arumi yang melihat Arsenio sudah selesai memberikan obat ke Angelina membuat Dewi Arumi menotok leher Arsenio agar Arsenio dadanya tidak sesak. Selesai melakukan hal itu barulah Dewi Arumi mulai mengecek kondisi Angelina lewat nadinya.


"Terakhir tinggal menotoknya agar Angelina sadar dan ingat jangan memaksa Angelina untuk mengingat sesuatu karena Angelina lupa apa yang pernah terjadi dan akan berteriak kesakitan." ucap Dewi Arumi mengingatkan kembali.


"Bagaimana keadaan Arsenio?" Tanya Mommy Adira.


"Arsenio baik-baik saja Mom, hanya sesak sedikit." Jawab Arsenio sambil melihat Dewi Arumi menotok tubuh Angelina.


"Syukurlah." Jawab Mommy Adira kemudian menghembuskan nafasnya dengan lega.


"Eughhhh..." Angelina menggeliatkan tubuhnya kemudian perlahan membuka matanya.

__ADS_1


"Aku di mana?" Tanya Angelina sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.


"Kamu di rumah Opaku, apakah ada yang sakit?" Tanya Arsenio.


"Kepalaku masih pusing, Tuan siapa?" Tanya Angelina.


"Aku Arsenio, Kamu tidak ingat Aku?" Tanya Arsenio.


"Tidak, apakah Kita pernah bertemu?" Tanya Angelina sambil berusaha mengingatnya namun yang ada dirinya tidak ingat sama sekali.


Ketika Arsenio ingin menjawab pertanyaan Angelina bersamaan Angelina berbicara membuat Arsenio tidak jadi menjawab.


"Aku siapa? Kenapa Aku tidak ingat sama sekali?" Tanya Angelina dengan nada frustrasi sambil memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.


"Akhhhhhhhh !!!" teriak Angelina kesakitan.


Dewi Arumi menyuntikkan obat penenang membuat Angelina berusaha memberontak. Arsenio membantu memegang tangan Angelina barulah Dewi Arumi bisa menyuntiknya.


Beberapa menit kemudian Angelina memejamkan matanya dan tidak berapa lama Angelina tidur dengan pulas.


"Angelina tidak ingat akan dirinya." Ucap Arsenio dengan wajah masih terlihat shock.


"Seperti yang tadi Tante bilang kalau Angelina tidak akan ingat dengan masa lalunya karena obat yang diberikan Ibunya sangat keras membuat Angelina tidak ingat sama sekali tentang masa lalunya dan apa yang terjadi barusan." Ucap Dewi Arumi.


"Apakah ada obat penawarnya?" Tanya Arsenio penuh harap.


"Selama itu?" Tanya Arsenio.


"Penawarnya sangat susah karena itulah agak lama kami membuat penawarnya." Jawab Dewi Arumi.


"Jika Angelina terbangun, apa yang mesti Aku lakukan? Tidak mungkin Angelina diberikan suntikan penenang." Ucap Arsenio.


"Jangan membuat Angelina mengingat masa lalu nya. Jika Angelina bertanya jawab saja yang Kamu tahu tapi ingat jika Angelina kesakitan seperti tadi, minta Angelina mengambil nafas kemudia menghembuskan nafasnya dengan perlahan untuk menghilangkan rasa sakit pada kepalanya." Ucap Dewi Arumi.


"Baik Tante, Arsenio akan ingat semuanya." Jawab Arsenio.


"Satu lagi jangan ceritakan tentang Ibunya yang jahat karena akan membuatnya sedih dan mencari apa yang terjadi sebenarnya." ucap Dewi Arumi.


"Baik Tante." Jawab Arsenio.


Selesai mengatakan hal itu Dewi Arumi berpamitan begitu pula dengan suaminya Dewi Arumi yang sejak tadi diam mendengarkan istrinya mengobrol.


Satu persatu para wanita yang merupakan anggota keluarga besar keluar dari ruangan tersebut karena para pria menangkap Ibunya Angelina dan kini menyisakan Arsenio, Mommy Adira dan Arsenio.


"Arsenio, bawa Angelina ke kamar tamu untuk istirahat." Ucap Mommy Adira.

__ADS_1


"Baik Mom." Jawab Arsenio patuh.


Arsenio menggendong tubuh Angelina kemudian berjalan keluar dari kamar yang lumayan besar dimana dijadikan tempat seperti rumah sakit di mana semua yang dibutuhkan di rumah sakit semuanya tersedia termasuk alat usg, alat detak jantung, alat bantu pernapasan dan lain sebagainya.


Kini Arsenio berada di kamar tamu dan dengan perlahan Arsenio membaringkan tubuh Angelina namun ketika Arsenio mengangkat kepala Angelina untuk menarik tangan kanannya bersamaan Angelina membuka matanya.


"Tuan Arsenio." Panggil Angelina dengan nada lirih.


"Kamu ingat padaku?" Tanya Arsenio dengan wajah terkejut sambil meletakkan kepala Angelina kemudian berdiri dengan tegak.


"Bukankah nama Tuan adalah Tuan Arsenio?" Tanya Angelina.


"Panggil saja Arsenio." Ucap Arsenio.


"Mau kah menemani ku tidur?" Tanya Angelina penuh harap.


"Kenapa ingin ditemani tidur?" Tanya Arsenio dengan wajah bingung.


"Aku tidak ingat siapa diriku dan itu membuatku sangat takut jadi Aku mohon temani Aku tidur." Mohon Angelina.


Arsenio menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Arsenio memutari ranjang kemudian melepaskan jasnya lalu membuangnya secara asal kemudian melepaskan dasinya yang terasa sesak lalu berlanjut melepaskan satu persatu kancing kemeja membuat Angelina sangat terkejut dengan apa yang akan dilakukan oleh Arsenio.


"Kenapa Kak Arsenio membuka kemeja?" Tanya Angelina.


"Aku terbiasa tidur menggunakan boxer." Jawab Arsenio.


"Kalau merasa keberatan Aku tidak bisa menemani dirimu tidur." Sambung Arsenio sambil menghentikan melepaskan kancing kemeja.


Angelina hanya menganggukkan kepalanya sambil memejamkan matanya.


"Setuju Aku temani tidur atau tidak setuju menemani tidur?" Tanya Arsenio.


"Setuju menemani tidur." Jawab Angelina tanpa membuka matanya.


Arsenio kembali melanjutkan membuka kancing kemeja hingga terlihat dada kekar dan roti sobeknya. Arsenio membuang kemejanya secara asal kemudian berlanjut menarik gespernya lalu berlanjut melepaskan pengait celana panjangnya dan terakhir melepaskan celana panjangnya.


Kini Arsenio hanya menggunakan celana boxernya kemudian Arsenio berbaring di ranjang dan Angelina merasakan ranjangnya bergerak karena saat ini Angelina masih memejamkan matanya.


Angelina merasakan tangan Arsenio memeluk pinggangnya dari arah belakang. Setelah itu Angelina tidak merasakan pergerakan dari Arsenio malah yang ada terdengar suara dengkuran halus dari mulut Arsenio tanda kalau Arsenio tidur dengan pulas.


'Aku yang ingin tidur malah Kak Arsenio yang tidur duluan.' Ucap Angelina dalam hati sambil membuka matanya.


Angelina kembali memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur hingga dua menit kemudian pintu kamarnya terbuka dengan perlahan. Seorang pelayan masuk ke dalam sambil menggenggam sebuah pisau sambil menatap Arsenio dengan tatapan kebencian.

__ADS_1


'Kamu harus mati.' Ucap pelayan tersebut sambil mengangkat pisaunya ke atas dan bersiap menusuk perut Arsenio dengan pisau yang sangat tajam.


__ADS_2