
"Oh ya Aku baru ingat, Aku mempunyai uang peninggalan dari Daddy. Aku akan mengganti semuanya jadi Tuan tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun untuk gadis sehina seperti diriku." Ucap Angelina sambil tersenyum namun terlihat hatinya sangat terluka.
"Cihhhhh Kamu masih gadis? Kamu itu bukan gadis lagi tapi seorang wanita jala*g yang menjajakan tubuhnya." Hina Arsenio dengan nada sarkas.
"Kalau begitu, biarkan Aku pergi dari kehidupan Tuan Muda." Ucap Angelina sambil menarik tangannya kemudian menarik selang infusnya.
Angelina berusaha untuk duduk karena dirinya ingin turun dari ranjang sambil meringis menahan rasa perih pada bagian punggungnya namun rasa perih itu tidak sebanding hatinya yang sangat terluka dengan perkataan Arsenio dan juga perkataan Ibu kandungnya.
Grep
Brak
Arsenio yang melihat Angelina hendak turun dari ranjang membuat Arsenio menarik tangan Angelina. Angelina yang tidak ada persiapan jatuh ke ranjang membuat Angelina meringis menahan rasa sakit pada punggungnya.
Luka pada punggungnya terbuka hingga darah segar keluar dari punggungnya namun Angelina tidak memperdulikan hal itu.
"Tuan, kenapa Tuan tidak menembak ku saja agar kebencian Tuan padaku menjadi hilang?" Tanya Angelina dengan mata berkaca-kaca.
"Jika Aku menembak mu itu terlalu enak buatmu." Jawab Arsenio.
"Maafkan Aku dan Aku sangat lelah ingin tidur tanpa bangun lagi." Ucap Angelina tanpa menjawab ucapan Arsenio.
Selesai mengatakan hal itu Angelina tersenyum hambar kemudian Angelina menggigit lidahnya hingga darah segar keluar dari mulutnya.
"Angelina, apa yang Kamu lakukan?" Tanya Arsenio sambil membuka mulutnya agar Angelina tidak menggigit lidahnya.
Edison adik bungsunya menekan tombol darurat yang menempel di dinding dekat ranjang di mana Angelina berbaring.
"Aku ingin tidur." Ucap Angelina dengan nada lirih.
Tidak berapa lama Angelina tidak sadarkan diri membuat Arsenio dan ke empat adik kembarnya terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Angelina.
Tidak berapa lama datang dokter dan perawat kemudian mulai memeriksa keadaan Angelina hingga tanpa sengaja seorang perawat melihat botol obat yang berada di sisi Angelina.
"Maaf Tuan, ini botol apa ya?" Tanya perawat tersebut sambil memberikan botol tersebut ke Arsenio.
__ADS_1
"Kamu cek di lab, apa isi dari kandungan botol itu!" perintah Arsenio tanpa menerima pemberian dari perawat tersebut.
"Baik Tuan." Jawab perawat tersebut.
"Maaf Tuan - Tuan, silahkan menunggu di luar." Ucap perawat tersebut.
Tanpa menjawab Arsenio, Bagas, Cairo, Draco dan Edison keluar dari ruangan tersebut hingga hampir lima belas menit Angelina mulai perlahan membuka matanya.
"Kenapa Nona, menggigit lidah Nona?" Tanya dokter tersebut dengan nada lembut.
Ketika Angelina menjawab lidahnya terasa sakit membuat Angelina tidak jadi berbicara hingga tanpa sengaja Angelina melihat perawat tersebut memegang botol milik Ibunya.
Angelina berusaha bangun kemudian merebut botol tersebut membuat perawat dan dokter tersebut sangat terkejut.
"Ini milikku." Ucap Angelina sambil menahan rasa sakit pada lidahnya.
"Kalau begitu maafkan Aku." Ucap perawat tersebut.
Angelina hanya memaksakan untuk tersenyum kemudian dokter dan perawat tersebut pergi meninggalkan Angelina.
'Tuan Arsenio banyak yang menyayangi nya sedangkan Aku tidak ada jadi lebih baik obat ini Aku minum.' Sambung Angelina.
Angelina memasukkan obat tersebut ke dalam mulutnya hingga habis tanpa sisa sedikitpun kemudian menyimpan botol yang sudah kosong ke dalam lemari.
Ceklek
Angelina kembali berbaring ketika pintu ruang perawatan kemudian memejamkan matanya karena saat ini dirinya ingin menenangkan perasaannya yang sedang kacau.
'Mommy, kenapa Mommy membenciku hanya karena Aku mirip dengan Daddy? Kalau bisa memilih Aku ingin wajah ku mirip Daddy.' Ucap Angelina dalam hati.
"Aku tahu kalau Kamu pura-pura tidur." Ucap Arsenio sambil berjalan ke arah Angelina.
Angelina membuka matanya dan melihat Arsenio menatap dirinya dengan tatapan tajam. Angelina hanya terdiam sambil menatap ke arah lain sedangkan Arsenio menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
'Kenapa hatiku terluka melihat wajah sedih Angelina? Tidak... Tidak ... Aku tidak boleh percaya dengan wajah polos Angelina. Dia wanita jahat yang telah menabrak Oma sekaligus wanita murahan karena tidur dengan banyak pria.' Ucap Arsenio dalam hati.
__ADS_1
Krucuk Krucuk Krucuk
Tiba-tiba perut Angelina berbunyi nyaring membuat Angelina memejamkan matanya.
"Di situ ada bubur, makanlah." Ucap Arsenio yang tidak tega melihat Angelina kelaparan.
Angelina membuka matanya kemudian menggelengkan kepalanya membuat Arsenio menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
Arsenio mengambil mangkok tersebut kemudian menyendok kan bubur ke arah mulut Angelina.
"Makanlah." Ucap Arsenio.
Angelina membuka mulutnya dengan perlahan lalu Arsenio mulai menyuapi Angelina sesendok demi sesendok. Hingga lima belas menit kemudian mangkok yang berisi bubur habis tanpa sisa sedikitpun.
Arsenio meletakkan mangkok kosong tersebut kemudian mengambil gelas yang sudah ada sedotan lalu diberikan ke Angelina. Angelina meminum air dengan menggunakan sedotan sambil menahan perih pada lidahnya.
"Kenapa Kamu menggigit lidahmu?" Tanya Arsenio sambil meletakkan gelas di mana Angelina sudah minum setengah gelas.
Ketika Angelina ingin menjawab lidahnya terasa sakit membuat Angelina tidak jadi bicara bersamaan pintu ruang perawatan terbuka. Angelina dan Arsenio melihat sepasang suami istri yang tidak lain Daddy Javier dan Mommy Adira.
Mereka berjalan ke arah ranjang hingga mereka berdiri tepat di depan ranjang di mana Angelina berbaring.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Mommy Adira.
"Ba .. ik." Ucap Angelina dengan nada terbata-bata sambil menahan rasa sakit pada lidahnya.
"Angelina kenapa Kamu berbicara sambil meringis?" Tanya Mommy Adira.
"Lidahnya di gigit Mom makanya kalau berbicara meringis." Jawab Arsenio yang menjawab pertanyaan Angelina.
"Kenapa lidahnya di gigit?" Tanya Mommy Adira sambil menatap tajam ke arah putra sulungnya.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Sambil menunggu up silahkan mampir ke karya temanku dengan judul :
__ADS_1