
Hingga di lantai dua Belia dan Angelina sudah sampai di depan pintu lantai dua di mana Tuan Vincent sedang memadu kasih dengan wanita yang dijadikan penghangat ranjangnya.
"Kita masuk jangan mengeluarkan suara sedikitpun." Ucap Belia.
"Memang kenapa Mom?" Tanya Angelina penasaran.
"Kita memberikan kejutan untuk Daddy." Jawab Belia.
'Kejutan yang tidak pernah sama sekali di duga.' Sambung Belia dalam hati.
"Kita kan tidak membawa apa-apa Mom? Apalagi bukankah sekarang Daddy masih di kantor?" Tanya Angelina dengan wajah bingung.
"Memang benar kita tidak membawa apa-apa dan memang benar Daddy masih di kantor tapi Mommy ingin memberikan kejutan ketika Daddy pulang dari kantor kalau Kita ada di ruang perpustakaan." Jawab Belia berbohong.
"Sayang, sekarang jangan banyak bertanya karena yang ada Daddy keburu datang dan tidak lagi menjadi kejutan." Ucap Belia yang melihat Angelina ingin berbicara lagi.
"Maaf Mom." Ucap Angelina merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, ayo sekarang Kita masuk ke dalam." Ucap Belia.
"Baik Mom." Jawab Angelina dengan patuh.
Belia perlahan membuka pintu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu kemudian Belia masuk ke dalam ruang perpustakaan diikuti oleh Angelina.
Baru beberapa langkah mereka mendengarkan suara sayup-sayup yang sangat familiar di telinga Belia dan Angelina di mana suara itu dekat dengan ruangan ujung membuat Angelina menatap ke arah Belia.
"Sayang ... Ahhhhhhhh... Terus ..." ucap pria tersebut.
'Mommy, bukankah itu suara Daddy?' Tanya Angelina sambil berbisik.
'Iya benar, apa jangan-jangan Daddy...' Ucap Belia menggantungkan kalimatnya dengan suara ikut berbisik agar tidak terdengar oleh pria tersebut yang tidak lain bernama Tuan Vincent.
"Sayang, nanti sampai di depan pintu Kamu bersembunyi jika nanti Mommy dalam bahaya Kamu bantu Mommy ya." Pinta Belia.
"Baik Mom dan sudah pasti Angelina akan bantu Mommy." Jawab Angelina.
'Semoga rencanaku berhasil.' Ucap Belia dalam hati.
Selesai berbicara Belia berjalan ke arah ruangan ujung dan suara Tuan Vincent semakin jelas terdengar bersama suara seorang wanita.
Brak
Belia dengan sengaja membuka pintu dengan sangat kasar membuat Tuan Vincent dan wanita tersebut sangat kaget.
"Dasar wanita tidak tahu diri!" Teriak Tuan Vincent sambil menarik tombak saktinya dari goa milik wanita tersebut.
Tuan Vincent mengambil celana boxer nya kemudian memakainya setelah selesai Tuan Vincent berjalan ke arah Belia di mana Belia pura-pura mengeluarkan air mata buayanya.
"Daddy, selama ini Mommy selalu setia sama Daddy dan mengurus putri Kita hingga putri Kita sudah dewasa tapi kenapa Daddy mengkhianati Mommy dengan membawa wanita yang tidak punya rasa malu sekaligus wanita ja x lang itu?" Tanya Belia dengan suara tercekat.
Tes
Tes
Tes
Belia mengeluarkan air mata buayanya sedangkan wanita yang berbaring di ranjang sangat marah dikatakan wanita yang tidak punya rasa malu sekaligus wanita ja x lang.
Wanita tersebut mengambil pakaiannya setelah selesai berjalan ke arah Belia di mana Tuan Vincent bersiap menghukum Belia.
__ADS_1
"Panggil Aku Tuan Vincent, apa kamu sudah lupa apa yang aku katakan?" Tanya Tuan Vincent dengan nada satu oktaf.
"Maaf Aku lupa" Ucap Belia.
"Ingat dan jangan sampai lupa! Di depan putri Kita panggil dengan sebutan Mommy dan Daddy tapi jika tidak ada putri Kita maka panggil Aku Tuan Vincent. Jika sampai terjadi lagi maka Aku tidak segan-segan menembakmu!" Bentak Tuan Vincent.
"Maaf." Ucap Belia sambil masih mengeluarkan air mata buayanya.
"Kamu sudah membuatku tidak ingin melakukan hubungan suami istri dengan kekasihku karena itu Kamu akan Aku hukum." Ucap Tuan Vincent sambil berjalan ke arah laci di mana laci tersebut ada cambuk.
Grep
Ketika wanita itu sudah sampai di depan Belia, tangan kanannya di angkat ke atas namun sebelum menyentuh ke pipi Belia tangannya sudah di tahan oleh Belia.
"Jangan pernah menyentuh pipiku yang sangat berharga dengan menggunakan tangan kotor mu." Ucap Belia sambil menahan tangan wanita tersebut kemudian menekuknya.
"Akhhhhhhhh..." Teriak wanita tersebut kesakitan.
Duag
Bruk
"Akhhhhhhhh..." Teriak wanita tersebut kembali kesakitan.
Belia menendang tulang kering wanita tersebut sambil melepaskan tangannya yang tadi menekuk tangan wanita tersebut membuat wanita tersebut kesakitan hingga ambruk ke lantai.
"BELIA!" Teriak Tuan Vincent.
"JANGAN BERTERIAK! SELAMA INI AKU SELALU DIAM KETIKA KAMU MENJADIKAN AKU PENGHANGAT RANJANG MU HINGGA AKU HAMIL TAPI KAMU TIDAK PERNAH BERSEDIA MENIKAH DENGANKU!" teriak Belia dengan suara menggelegar.
"Mommy, Daddy." Panggil Angelina dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan Mommy sayang, pria ini menculik Mommy dan menjadikan Mommy sebagai penghangat ranjang hingga Mommy hamil namun pria ini tidak mau menikahi Mommy." Jawab Belia dengan mata berkaca-kaca.
"Apa benar yang dikatakan Mommy, Dad?" Tanya Angelina sambil menatap wajah Tuan Vincent.
Hening
"Kenapa Daddy tidak menikahi Mommy? Kalau tidak mencintainya kenapa menculik Mommy dan memperlakukan Mommy seperti wanita yang tidak harganya seperti wanita itu?" Tanya Angelina sambil berjalan ke arah Tuan Vincent sambil menunjuk ke arah wanita tersebut yang berusaha untuk bangun.
Plak
"Tutup mulutmu! Bicara yang sopan dengan orang yang lebih tu...." ucapan wanita tersebut terhenti ketika Belia menampar wanita tersebut.
"Kamu tidak berhak membentak putriku, jika Kamu tidak merasa tidak ada harganya seharusnya Kamu tidak akan mau menjadi penghangat ranjangnya." Ucap Belia.
"Bagaimana denganmu? Kamu bisa mencela Aku sedangkan Kamu?" Tanya wanita tersebut.
"Asal Kamu tahu, Aku di culik dan ke dua tangan serta ke dua kakiku di ikat jadi bagaimana bisa Aku melawan? Sedangkan Kamu? Ke dua tangan dan ke dua kaki tidak di ikat." Jawab Belia.
"Setiap Aku mau kabur, pria ini berhasil menangkap ku dan menyiksaku hingga akhirnya Aku hamil. Aku tidak berani kabur lagi karena Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan kandunganku." Sambung Belia.
"Benarkah itu Dad?" Tanya Angelina.
"Memang benar, selama ini Daddy sangat menyayangimu dan ingin menjadikanmu sebagai pewaris satu-satunya karena Daddy hanya punya satu pewaris." Jawab Tuan Vincent.
"Seandainya ada pewaris lain dan pewaris itu laki-laki pasti Daddy menjadikannya sebagai pewaris. Benarkan Dad?" Tanya Angelina.
"Tentu saja." Jawab Tuan Vincent.
__ADS_1
"Sebagai pewaris Daddy, maka Daddy minta hukumlah wanita ini hingga wanita ini mati." ucap Tuan Vincent sambil menunjuk ke arah wanita tersebut.
"Tuan, kenapa Aku harus mati? Seharusnya mereka berdua yang mati." Ucap wanita tersebut sambil menatap tajam ke arah Tuan Vincent.
"Tembak wanita itu!" Perintah Tuan Vincent sambil mengambil pistol di meja dekat ranjang kemudian melempar ke arah Angelina.
Tap
Angelina menangkap pistol tersebut kemudian mengarahkan pistolnya ke arah kening wanita tersebut membuat wanita tersebut menggelengkan kepalanya sambil mengeluarkan air matanya.
"Aku mohon jangan tembak Aku, Aku mohon maaf dan Aku janji tidak akan ke sini lagi." mohon wanita tersebut sambil berjalan mundur.
Dor
"Akhhhhhhhh..." Teriak wanita tersebut.
Bruk
Tanpa menjawab Angelina menembak kening wanita tersebut hingga wanita tersebut berteriak kesakitan dan tidak berapa lama tubuhnya ambruk ke lantai sambil kejang-kejang hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dengan mata melotot.
"Bagus, sekarang tembak wanita itu!" Perintah Tuan Vincent sambil menunjuk ke arah Belia.
"Daddy memintaku untuk menembak Mommy?" Tanya Angelina tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Tentu saja, tembak lah wanita itu dan Daddy janji akan memberikan apapun yang Kamu minta." Jawab Tuan Vincent.
"Lakukanlah jika itu membuat kalian puas karena Mommy sudah sangat lelah." Ucap Belia sambil merentangkan ke dua tangannya.
'Walau tidak sesuai dengan apa yang Aku inginkan, sudahlah mungkin memang sudah takdirku mati di tangan putri kandungku.' Sambung Belia dalam hati sambil memejamkan matanya.
"Angelina tembak wanita itu!" Perintah Tuan Vincent.
Dor
"Akhhhhhhhh..." Teriak Tuan Vincent tersebut.
Bruk
Tanpa menjawab Angelina menembak dada Tuan Vincent membuat Tuan Vincent berteriak kesakitan dan tidak berapa lama tubuhnya ambruk ke lantai sambil kejang-kejang.
"Maafkan Angelina Dad, karena bagaimanapun Angelina tidak mungkin menembak Mommy." Ucap Angelina dengan mata berkaca-kaca.
"Dasar anak durhaka! Sia -Sia saja Aku mendidik mu dan menyayangimu dengan tulus ternyata ini balasanmu.'' Ucap Tuan Vincent yang merubah nama Daddy menjadi Aku.
"Daddy sudah salah menjadikan Mommy sebagai penghangat ranjang tapi tidak mau menikahi Mommy jadi sudah sepantasnya Daddy Aku tembak." Ucap Angelina.
"Aku mengutuk mu, semoga Kamu bertemu dengan seorang pria dan Kamu jatuh cinta tapi pria itu dan keluarganya akan menyiksamu hingga Kamu sangat tersiksa dan berakhir ingin bunuh diri karena pria itu tidak mencintaimu dengan tulus." Ucap Tuan Vincent dengan nafas tersengal - sengal.
Duarr
Duarr
Tiba - tiba terdengar suara petir saling bersahutan bersamaan Tuan Vincent menghembuskan nafas terakhirnya dengan mata melotot.
"Seumur hidup Aku tidak akan menikah." Ucap Angelina.
Bruk
"Daddy, hiks... Hiks ... Hiks ... Maafkan Aku." Ucap Angelina sambil terisak.
__ADS_1
'Bagus, akhirnya pria brengs*k itu mati dan sekarang berlanjut melanjutkan misi membunuh Nyonya Besar Rico dan Nyonya Javier agar ke dua suaminya merasakan kehilangan orang yang dicintainya sama seperti yang Aku rasakan.' Ucap Belia dalam hati.