Ranjang Panas Sang CEO 5

Ranjang Panas Sang CEO 5
Dewi Arumi


__ADS_3

"Biarkan Aku yang mengecek kondisi gadis itu." Ucap seorang wanita yang tiba-tiba datang bersama suaminya.


Ketika Mommy Adira ingin menjawab ucapan Arsenio tiba-tiba datang sepasang suami istri dan wanita itu berbicara ingin memeriksa keadaan Angelina.


"Dewi Arumi, Alex." panggil Mommy Adira sambil tersenyum bahagia.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Cerita tentang Dewi Arumi dan Alex dapat di baca di novelku dengan judul :



xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


"Maaf Kami datang terlambat, ijinkan Aku melihatnya." Ucap Dewi Arumi tanpa basa basi.


Hal itu dilakukan karena semakin cepat dirinya bertemu dengan Angelina maka nyawanya cepat tertolong.


"Silahkan, Arsenio temani Tante Dewi Arumi." Pinta Mommy Adira.


"Baik Mom." Jawab Arsenio patuh namun dalam hatinya masih bingung.

__ADS_1


"Semuanya yang berada di dalam ruang operasi keluar kecuali istriku dan ponakanku Arsenio." Ucap Alex yang sudah menganggap Arsenio sebagai ponakannya.


"Tapi Tuan ..." Ucapan dokter tersebut terpotong oleh Daddy Javier.


"Lakukan apa yang diperintahkan oleh Tuan Alex." Ucap Daddy Javier dengan nada dingin dan berwajah datar.


"Baik Tuan." Jawab dokter tersebut dengan patuh.


Daddy Javier merupakan salah satu cucu menantu Daddy Raka di mana Daddy Raka adalah pemilik rumah sakit tempat dokter tersebut bekerja. Jadi mau tidak mau dirinya harus patuh kalau tidak bisa dipastikan dirinya di pecat.


Dokter itupun meminta para dokter dan para perawat yang berada di ruang operasi untuk keluar dan menyisakan Dewi Arumi, Arsenio dan Angelina yang sedang berbaring di ranjang dengan tubuh polosnya ditutupi seluruhnya dengan menggunakan selembar kain warna biru.


"Seharusnya racun itu ditujukan untukku tapi Angelina malah meminumnya." Ucap Arsenio dengan nada lirih dan perasaan sangat bersalah.


"Tidak semua orang yang bersedia mengorbankan nyawanya demi orang yang disukainya." Ucap Dewi Arumi sambil memegang tangan Angelina untuk mengecek nadinya.


"Angelina tidak mungkin menyukaiku karena Kami baru bertemu." Ucap Arsenio.


"Arsenio, angkat tubuh Angelina dengan posisi duduk." Ucap Dewi Arumi tanpa menjawab ucapan Arsenio.


Hal itu dikarenakan kondisi Angelina sudah sangat kritis dan telat sedikit saja maka Angelina meninggal dunia.

__ADS_1


"Untuk apa Tante?" Tanya Arsenio penasaran karena Angelina sudah meninggal.


"Angelina masih hidup jadi cepatlah angkat dalam posisi duduk. Aku harus menolongnya dengan cepat jika tidak Angelina benar-benar meninggal dunia." Jawab Dewi Arumi sambil berjalan melewati Angelina.


Glek


Tanpa menjawab Arsenio mengangkat tubuh polos Angelina hingga terlihat dua gunung kembar yang lumayan besar dan pas di tangan Arsenio membuat Arsenio menelan salivanya dengan kasar. Perlahan sesuatu yang sudah lama tidur dengan pulasnya tiba-tiba terbangun.


"Hilangkan pikiran mesum mu, waktu Kita tidak banyak." ucap Dewi Arumi.


"Maaf Tante." Jawab Arsenio sambil memalingkan wajahnya dan berusaha menghilangkan pikiran mesumnya.


"Duduk lah saling berhadapan dengan Angelina dan tahan lah jangan sampai Angelina terjatuh." Ucap Dewi Arumi sambil duduk bersila di ranjang dengan ke dua tangannya di rentangkan di dua sisi punggung Angelina.


"Baik." Jawab Arsenio sambil duduk saling berhadapan dengan Angelina.


'Serius ini membuatku sangat tersiksa.' Ucap Arsenio dalam hati.


Bagaimana tidak dihadapannya Arsenio melihat dua gunung kembar terhampar dihadapannya dan seakan melambai-lambai ke arah dirinya agar Arsenio memainkannya.


'Seumur hidupku baru kali ini melihat tubuh polos seorang gadis dan gadis itu adalah Angelina.' Ucap Arsenio dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2