Ranjang Panas Sang CEO 5

Ranjang Panas Sang CEO 5
Aku Minta Satu Hal


__ADS_3

Lima pemuda tampan yang sangat mirip seperti fotokopi siapa lagi kalau bukan Arsenio, Bagas, Cairo, Draco dan Edison menatap Angelina dengan tatapan penuh amarah yang siap meledak membuat Angelina menundukkan wajahnya tanpa berani menatapnya.


"Lebih baik kita membawanya ke markas untuk memberikan hukuman ke gadis ini," ucap Arsenio putra pertama.


"Betul kak kita bawa saja," sambung ke empat adik kembarnya bersamaan.


Dua pemuda tampan yang bernama Draco dan Edison menarik paksa ke dua tangan Angelina sedangkan Angelina hanya pasrah akan apa yang mereka lakukan kemudian mereka membawanya ke dalam mobil dan tanpa sepengetahuan mereka sepasang mata tersenyum bahagia siapa lagi kalau bukan Belia.


"Maafkan Mommy sayang karena mengorbankan dirimu. Mommy melakukan ini karena wajahmu sangat mirip dengan pria yang sangat Aku benci. Jika Kamu selamat maka Mommy akan menggunakan dirimu untuk menjalankan misi selanjutnya." Ucap Bela tanpa punya perasaan empati sama sekali.


"Selamat tinggal di neraka putriku," ucap Angelina sambil melambaikan tangan kanannya dan tersenyum jahat.


"Vincent, lihat putri kesayanganmu akan di bunuh oleh mereka. Jika beruntung putri kesayanganmu selamat dan menjalankan misi selanjutnya jika tidak mungkin sudah takdirnya untuk bertemu denganmu." Sambung Angelina.


Kebencian dan dendam terhadap Tuan Vincent membuat Belia gelap mata dengan mengorbankan putri kandungnya untuk memenuhi ambisinya untuk membalaskan dendam.


"Ke lima pemuda itu sangat tampan tapi sayang sekali mereka sangat kejam dan tidak punya perasaan jika salah satu anggota keluarganya dicelakai," sambung Belia sambil menatap punggung mereka di mana mereka masuk ke dalam mobil.


Karena lelah Belia berbaring di ranjang dan tidak membutuhkan waktu lama Belia tidur dengan pulas nya.


xxxxxxxxxx


Di tempat yang berbeda di mana Cairo putra nomer tiga mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju ke arah markas milik Daddy Javier.


Tiba - tiba ponsel milik Arsenio berdering membuat Arsenio melihat siapa yang menghubungi dirinya ternyata Daddy Javier. Arsenio menggeser tombol berwarna hijau kemudian ditempelkan ke telinganya.


("Halo Dad." panggil Arsenio).


("Ada di mana?" Tanya Daddy Javier dengan nada dingin).


("Dalam perjalanan menuju ke markas Dad." Jawab Arsenio).


("Apakah Kamu sudah menangkapnya?" Tanya Daddy Javier).


("Sudah Dad." Jawab Arsenio).


("Baik Daddy dan Opa dalam perjalanan menuju ke markas." ucap Daddy Javier).


Tut Tut Tut Tut


Selesai berbicara Daddy Javier memutuskan sambungan komunikasi secara sepihak kemudian Arsenio menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.


"Sebelum Kamu mati, apa permintaan terakhirmu?" Tanya Arsenio sambil melirik sinis ke arah Angelina

__ADS_1


"Jika ternyata Aku mati maka Aku minta dikuburkan dekat kuburan Daddy selain itu Aku minta satu hal." Ucap Angelina.


"Apa yang kamu minta?" Tanya Arsenio penasaran.


"Waktu itu Aku menjual semua aset milik Daddy dan Aku masukkan ke dalam rekeningku. Aku minta tolong berikan semua harta peninggalan Daddy diberikan ke orang yang tidak mampu." Jawab Angelina dengan mata berkaca-kaca.


'Mungkin dengan ini Aku bisa menebus dosaku dan juga dosa Daddy.' Sambung Angelina dalam hati.


Tes


Tes


Tes


Tidak berapa lama air mata Angelina jatuh namun buru - buru dihapusnya dengan kasar. Arsenio melihat dengan jelas kesedihan di wajah Angelina namun dirinya menepisnya karena baginya Oma Karen yang paling disayangi adalah segalanya dan gadis di depannya hanya memasang wajah polos.


Arsenio bisa mengatakan hal itu karena Angelina melarikan diri dan tidak bertanggung jawab. Dirinya tidak ingin tertipu dengan wajah polos Angelina.


Setelah hampir setengah jam mereka sudah sampai di markas di mana Daddy Rico dan Daddy Javier sudah sampai duluan.


"Apakah Dia yang menabrak Oma Kalian?" Tanya Daddy Rico sambil menunjuk ke arah Angelina.


Bruk


"Benar Opa." Jawab Arsenio kemudian mendorong tubuh Angelina hingga jatuh ke lantai.


"Kenapa Kamu menabrak istriku? Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Daddy Rico dengan nada satu oktaf.


"Maaf, saat itu Aku terburu-buru karena Ibuku sakit keras karena itulah Aku tidak sengaja menabrak istri Tuan." Ucap Angelina terpaksa berbohong untuk pertama kalinya.


Daddy Rico mengangkat tangannya ke atas dan bersiap menampar pipi Angelina membuat Angelina memejamkan matanya.


Plak


Daddy Rico menampar pipi Angelina dengan sangat keras hingga Angelina memalingkan wajahnya ke samping dan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.


"Walau terburu-buru tetap saja Kamu berhati-hati mengendarai mobil. Bahkan Kamu sengaja melarikan diri dengan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi." Ucap Daddy Rico.


Bruk


"Maaf." Ucap Angelina sambil berlutut.


"Maafmu sudah terlambat, istriku mengalami koma akibat ulahmu." Ucap Daddy Rico.

__ADS_1


"Aku tahu kalau Aku bersalah karena itulah Aku bersedia di hukum." Ucap Angelina.


"Daddy, waktu itu Aku membeli racun yang sangat kuat di mana jika racun itu disuntikan ke tubuhnya wanita itu akan sangat tersiksa dan akhirnya mati mengenaskan dengan tubuh menghitam." Ucap Daddy Javier memberikan usulan.


"Ide bagus, suntikan racun itu ke tubuhnya!" Perintah Daddy Rico.


Daddy Javier menjentikkan jarinya kemudian salah satu anak buahnya datang sambil membawa suntikan dan ampul.


"Apa permintaan terakhirmu?" Tanya Daddy Rico.


"Aku sudah mengatakan ke Tuan ..." Ucap Angelina menggantungkan kalimatnya sambil berdiri kemudian menatap ke arah wajah tampan Arsenio.


"Dia minta dua hal Opa." Jawab Arsenio yang mengerti arti tatapan Angelina.


"Apa itu?" Tanya Daddy Javier.


"Permintaan pertama : Aku minta dikuburkan dekat kuburan Daddy dan permintaan ke dua sekaligus permintaan terakhir waktu itu Aku menjual semua aset milik Daddy dan Aku masukkan ke dalam rekeningku. Aku minta tolong berikan semua harta peninggalan Daddy diberikan ke orang yang tidak mampu." ucap Angelina mengulangi perkataannya.


Selesai mengatakan hal itu Angelina mengeluarkan ponselnya kemudian diberikan ke Arsenio dan Arsenio menerima ponsel pemberian Angelina.


"Di ponselku ada bank xxxxxx, nomer id xxxxxxxxx dan nomer pin 123456." Ucap Angelina.


Arsenio membuka m-banking milik Angelina kemudian mengetik apa yang dikatakannya hingga akhirnya matanya membulat sempurna karena saldo milik Angelina sejumlah seratus lima puluh milyar.


"Sebanyak ini milik Daddy mu?" Tanya Arsenio.


"Benar sekali karena itulah Aku meminta tolong ke Tuan untuk memberikan ke orang yang tidak mampu. Mungkin ini bisa mengurangi dosaku karena telah mencelakai orang." Jawab Angelina dengan mata berkaca-kaca.


'Yaitu Daddy, Daddy maafkan Aku.' Ucap Angelina dalam hati sambil menahan air matanya tidak keluar.


Ketika salah satu anak buahnya sudah memasukkan racun ke dalam suntikan ke dua anak buah lainnya memegang tangan Angelina agar tidak kabur.


"Tidak perlu di pegang, silahkan menyuntik racun itu ke tubuhku." Ucap Angelina sambil merentangkan ke dua tangannya seakan pasrah jika hari ini dirinya mati.


Ke dua anak buahnya milik Daddy Javier melepaskan ke dua tangannya kemudian pria yang membawa suntikan mengarahkan suntikan ke lengan Angelina tiba-tiba terdengar suara...


"Tunggu!" Teriak Arsenio.


Entah kenapa dalam hati yang paling dalam Arsenio tidak tega jika Angelina mati di tangan anak buah Daddy Javier.


"Ada apa Arsenio?" Tanya Daddy Javier dengan wajah terkejut begitu pula dengan yang lainnya.


"Aku akan menikah dengannya," Jawab Arsenio tiba-tiba.

__ADS_1


"Apa???" teriak mereka dengan serempak.


"Kak Arsenio serius mau menikah dengan gadis yang menabrak oma kita?" tanya ke empat adik kembarnya bersamaan dengan wajah terkejut begitu pula dengan yang lainnya.


__ADS_2