Ranjang Panas Sang CEO 5

Ranjang Panas Sang CEO 5
Mangga Muda


__ADS_3

Adegan Mengandung Kekerasan Tidak Untuk Di Tiru dan Jika Tidak Suka Mohon Di Skip. Terima Kasih.


Javier kini berada di markas di mana Loren, Tuan Robert dan Bela masing-masing diikat dengan menggunakan rantai di ke dua tangan dan ke dua kakinya hingga membentuk huruf X.


"Tuan Javier, kenapa aku dan putriku di tangkap?" Tanya Tuan Robert.


"Kak Javier tolong bebaskan aku dan Daddy Ku." Mohon Loren sambil mengeluarkan air mata buayanya.


"Kenapa aku di tangkap? Aku salah apa?" Tanya Bela sambil ikut mengeluarkan air mata buayanya.


Mereka bertiga berbicara sambil berusaha melepaskan diri namun yang ada ke dua tangan dan ke dua kakinya terasa sakit dan memerah karena ikatan tersebut berupa rantai jadi sia-sia saja melakukannya.


"DIAM!" Teriak Javier dengan suara yang menggelegar.


Plak Plak


Plak Plak


Javier menampar pipi kanan dan pipi kiri Loren dan Bela secara bergantian dengan sangat keras hingga tangannya terasa kebas. Hingga ke dua sudut bibir Loren dan Bela mengeluarkan darah segar.


"Brengs*k, jangan sakiti putriku!" Bentak Tuan Robert sambil berusaha melepaskan diri tapi dirinya tidak bisa.


Dor


"Akhhhhhhhh !" teriak Tuan Robert


Tanpa menjawab Javier mengeluarkan pistolnya kemudian menembak dada Tuan Robert membuatnya berteriak kesakitan.


"Daddy!" teriak Loren dengan mata berkaca-kaca.


"Lepaskan ke dua gadis itu!" Perintah Javier.


"Baik Tuan." Jawab ke dua bodyguard tersebut bersamaan.


Ke dua bodyguard tersebut mengambil kunci untuk membuka gembok tersebut dari ke dua kakinya lalu berlanjut ke dua tangannya.


"Dorong ke dua gadis itu dari lantai tiga hingga ke lantai satu!" Perintah Javier.


"Baik Tuan." Jawab ke dua bodyguard tersebut bersamaan.


"Aku mohon jangan lakukan itu." Mohon Loren dan Bela bersamaan dengan air mata bercucuran.

__ADS_1


"Tuan Javier, aku mohon jangan lakukan itu pada putri kesayanganku." Mohon Tuan Robert.


"Ketika kalian berdua mendorong tubuh Adira, apakah kalian tidak berpikir betapa sakitnya Adira ketika tubuhnya kalian dorong? Bukan itu saja kalian memfitnah Adira hingga Adira kembali jatuh dari tangga. Aku ingin kalian merasakan apa yang dirasakan oleh Adira." Ucap Javier dengan nada dingin.


"Maafkan aku, aku janji tidak akan lagi melakukannya. Aku bersedia meminta maaf pada Adira atas semua kesalahanku." Ucap Loren yang tidak ingin dirinya kesakitan jika tubuhnya jatuh dari tangga.


"Aku juga akan meminta maaf pada Adira." Sambung Bela yang juga tidak ingin kulit mulutnya rusak.


"Sudah terlambat, Adira sudah meninggal akibat ulah kalian." Ucap Javier.


"Kamu tahu Loren, Aku ada perasaan suka padamu tapi ternyata kamu sangat jahat dan aku bersyukur karena sebelum perasaan itu semakin dalam aku sudah ditunjukkan sifat asli jahatmu." Sambung Javier sambil menahan amarahnya.


Javier awalnya ingin membuka hatinya untuk Loren tapi ketika mengetahui betapa jahatnya Loren membuat perasaan Javier berubah menjadi kebencian yang teramat sangat.


Hal itu dikarenakan gadis yang tidak bersalah mati di tangannya. Hatinya sangat sakit jika mengingat bagaimana Adira tersenyum ketika dituduhnya sebagai orang jahat.


Adira membiarkan dirinya terluka oleh Javier bahkan Javier menuduhnya padahal Adira tidak melakukan kesalahan sedikitpun. Padahal Javier sudah mengambil harta berharganya yang selama ini dijaganya namun dengan kejinya menuduh Adira.


Adira sama sekali tidak memaki dirinya ketika harta berharganya yang dijaganya di renggut paksa olehnya bahkan dirinya diam ketika di fitnah membuat Javier semakin bertambah bersalah.


"Lakukan perintahku, cepat!" Teriak Javier.


"Baik Tuan." Jawab ke dua bodyguard tersebut bersamaan.


Ke dua bodyguard tersebut menariknya ke arah lift kemudian salah satu menekan tombol lift tersebut. Setelah terbuka mereka masuk ke dalam kotak persegi empat tersebut kemudian menekan tombol lift nomer tiga.


Ting


Pintu lift terbuka mereka keluar dari kotak persegi empat tersebut membuat Loren dan Bela berusaha memberontak agar genggaman tangannya terlepas namun tidak bisa.


Bruk


"Akhhhhhhhh..." Teriak Loren.


Hingga tepat di atas tangga salah satu bodyguard tersebut tanpa punya perasaan mendorong tubuh Loren membuat Loren terjatuh dan tubuhnya terguling - guling di lantai bersamaan teriakan kesakitan Loren.


"Kamu dengar suara temanmu?" Tanya bodyguard tersebut sambil tersenyum menyeringai.


"Aku mohon jangan lakukan itu padaku, aku bersedia melakukan apa ... Akhhhhhhhh...." Teriak Bela.


Bela yang ingin mengatakan melakukan apapun tidak bisa melanjutkan perkataannya dan berubah menjadi teriakan kesakitan Bela karena bodyguard tersebut mendorong tubuh Bela.

__ADS_1


Tubuh Loren terguling-guling dan di susul oleh Bela hingga akhirnya mereka sampai ke lantai dua dengan kepala, mulut, hidung dan telinga mengeluarkan darah segar.


Ke dua bodyguard tersebut menuruni anak tangga ke lantai dua kemudian tanpa punya rasa empati sedikitpun ke dua bodyguard tersebut menarik tubuh Loren dan Bela yang sudah mengeluarkan darah segar agar berdiri.


Setelah berdiri ke dua bodyguard tersebut mendorong tubuh Bela dan Loren ke arah tangga. Hal itu membuat tubuh mereka berguling-guling hingga akhirnya ke dua gadis tersebut tidak sadarkan diri.


Tanpa punya perasaan Javier menyuruh dua bodyguard lainnya menarik ke dua tangan Loren dan Bela ke tempat di mana Tuan Robert berdiri membuat Tuan Robert berteriak memanggil putri kesayangannya.


"Loren sayang, bangun." Ucap Robert dengan mata berkaca-kaca.


"Diamkan seperti ini sampai mereka mati kehabisan darah." Ucap Javier sambil membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan tempat tersebut dengan diikuti oleh Kevin yang sejak tadi diam menyaksikan kekejaman Javier.


Kevin juga tidak perduli jika Javier melakukan hal itu karena mereka pantas mendapatkannya. Hingga Tuan Robert berteriak memaki Javier membuat Javier menghentikan langkahnya.


"Semoga kamu merasakan apa yang aku rasakan saat ini." Ucap Tuan Robert.


"Jika aku jadi Tuan, aku tidak akan pernah menyuruh putriku melakukan hal yang sama seperti yang Tuan lakukan pada putri Tuan. Mengajarkan anak menjadi seorang penipu ulung dan mempunyai mulut berbisa." Ucap Javier dengan nada dingin dan datar kemudian melanjutkan langkahnya.


Tuan Robert langsung terdiam namun dalam hatinya yang terdalam dirinya sangat menyesali perbuatannya karena apa yang dikatakan oleh Javier ada benarnya.


Hanya karena ingin mendapatkan kekayaan secara instan membuat nyawa mereka berada di ujung tanduk. Penyesalan yang tidak ada gunanya ibarat nasi sudah menjadi bubur.


Hingga esok harinya lebih tepatnya pada sore hari, ketiganya menghembuskan nafas terakhirnya kemudian ke tiga mayatnya dikubur secara massal di tanah belakang yang digabung dengan mayat lainnya tanpa dimandikan ataupun didoakan.


xxxxxxx Flash Back Off xxxxxxxx


Tiba-tiba perut Javier terasa sangat mual membuat Javier berlari ke arah kamar mandi bersamaan pintu ruang kerjanya diketuk oleh seseorang.


Ceklek


Kevin membuka pintu ruang kerja Javier karena tidak ada jawabannya. Kevin menggelengkan kepalanya kemudian menyuruh office boy untuk membersihkan ruang kerja Javier.


Kevin kemudian berjalan ke arah ruang pribadi Javier dan mendengar suara orang sedang muntah.


"Hoek.... Hoek... Hoek..."


"Maaf Tuan, saya akan panggilkan dokter." Ucap Kevin.


"Jangan panggilkan dokter tapi aku minta cari mangga muda yang di petik langsung dari pohonnya." Ucap Javier sambil membersihkan mulutnya dengan menggunakan air kran yang ada di wastafel.


"Mangga muda?" Tanya Kevin dengan wajah terkejut karena pasalnya mereka berdua tahu kalau mangga muda terkenal dengan rasa asemnya.

__ADS_1


"Ya, mangga muda." Jawab Javier yang ingin sekali makan mangga.


__ADS_2