Ranjang Panas Sang CEO 5

Ranjang Panas Sang CEO 5
Ciuman Pertama


__ADS_3

Arsenio memejamkan matanya agar tidak melihat dua gunung kembar milik Angelina yang terlihat sangat montok dan seksi. Hingga setengah jam kemudian terdengar suara orang terbatuk-batuk.


"Uhuk .... Uhuk .... Uhuk ..."


Arsenio yang penasaran membuka matanya dan matanya langsung membulat sempurna karena Angelina terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah berwarna hitam.


"Jangan menyentuhnya karena darah itu beracun, gunakan kain warna biru untuk men lap mulutnya." Ucap Dewi Arumi sambil masih memejamkan matanya.


"Baik." Jawab Arsenio sambil membersihkan darah yang berwarna hitam.


Pikiran mesum Arsenio berusaha dihilangkan karena saat ini yang dipikirkan keselamatan Angelina. Setelah lima belas menit kemudian Dewi Arumi sudah selesai dengan tubuh mulai melemah karena sudah banyak mengeluarkan tenaga dalam.


"Arsenio, tolong hubungi Mommy Mu untuk membantuku keluar dari ruangan ini." Ucap Angelina sambil bersandar di kepala ranjang.


"Baik." Jawab Arsenio patuh.


Tangan Arsenio memegang punggung Angelina agar tidak terjatuh sedangkan tangan kirinya mengambil ponselnya yang ada di saku jasnya.


"Dingin ..." Ucap Angelina lirih.

__ADS_1


"Tante, kenapa tubuh Angelina mendadak dingin seperti es?" Tanya Arsenio dengan wajah panik.


Ceklek


Ketika Angelina ingin bicara bersamaan pintu ruang perawatan terbuka membuat Arsenio dan Dewi Arumi menatap ke arah pintu ruang operasi. Mereka melihat Adara dan Adira berjalan ke arah mereka sambil membawa selimut tebal.


"Baru, Arsenio ingin menghubungi Mommy." Ucap Arsenio.


"Mommy tahu apa yang ingin Kamu katakan karena itulah Kami ke sini untuk membantu Tante Dewi Arumi keluar dari ruangan ini." Ucap Mommy Adira sambil membuang kain warna biru ke lantai dan menggantinya dengan selimut tebal.


"Mommy tahu darimana?" Tanya Arsenio terkejut.


"Dari Paman Alex." Jawab Mommy Adira sambil membantu memapah Dewi Arumi dengan di bantu Adara.


"Ambilkan obat yang ada di tasku dan berikan ke Angelina tapi sebelumnya letakkan Angelina di ranjang." Ucap Dewi Arumi.


Arsenio hanya menganggukan kepalanya kemudian meletakkan perlahan tubuh Angelina lalu mengambil obat yang berada di dalam tas milik Dewi Arumi.


"Berikan ke Angelina agar tubuhnya tidak dingin lagi." Ucap Dewi Arumi.

__ADS_1


"Tapi Angelina masih tidak sadarkan diri, Tante." Ucap Arsenio.


"Obatnya masukkan ke dalam mu lalu masukkan obat itu ke dalam mulut Angelina." Ucap Dewi Arumi.


"Maksud Tante dari mulut ke mulut?" Tanya Arsenio.


"Yup, sudah Tante mau istirahat karena tubuh Tante sangat lelah seperti tidak bertulang." Jawab Dewi Arumi.


"Kalau Kamu merasa keberatan biarkan saudara mu yang melakukannya." Ucap Mommy Adira.


"Tidak, biar Arsenio yang melakukannya." Ucap Arsenio.


Mommy Adira hanya menganggukan kepalanya kemudian Mommy Adira dan kakak kembarnya yang bernama Adara memapah Dewi Arumi untuk meninggalkan ruang operasi di mana masih ada Arsenio dan Angelina.


Glek


Arsenio menelan salivanya pasalnya dirinya harus mencium bibir Angelina untuk memasukkan obat tersebut. Arsenio menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian memasukkan obatnya ke dalam mulutnya karena Arsenio tidak tega mendengar rintihan Angelina yang tubuhnya kedinginan.


Setelah selesai Arsenio membuka mulut Angelina kemudian memasukkan obatnya ke bibir Angelina. Ciuman pertama Arsenio begitu pula dengan Angelina setelah obatnya masuk Arsenio melepaskan ciumannya.

__ADS_1


"Terasa sangat manis, jadi seperti ini rasanya mencium bibir seorang gadis." Ucap Arsenio sambil menjilati bibirnya.


"Kalau Aku mencium bibir Angelina lagi, kira-kira Angelina bangun tidak ya?" Tanya Arsenio yang ingin merasakan lagi.


__ADS_2