
"Maaf Tuan Besar, Tuan Muda Arsenio sedang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi karena mobil Tuan Muda Arsenio diikuti oleh dua mobil hitam." Jawab Angelina.
"Apa?" Tanya mereka bersamaan.
"Baik, secepatnya kami akan membantu Arsenio," ucap Daddy Javier.
"Baik." Jawab Angelina singkat.
"Jangan lupa pasang gps." Ucap Mommy Adira.
"Baik Nyonya Besar." Jawab Angelina.
Tut Tut Tut Tut
Sambungan komunikasi langsung diputuskan oleh mereka secara sepihak kemudian Angelina memberikan ponselnya ke Arsenio.
"Maaf Tuan,ponselnya." Ucap Angelina.
"Hubungi Mr. AZ dan loud speaker!" perintah Arsenio sambil masih mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi begitu pula dengan ke dua mobil hitam yang mengikutinya.
"Baik," jawab Angelina patuh sambil menarik ponsel milik Arsenio dan tidak jadi mengembalikannya.
Angelina mencari nama Mr. AZ di kontak telepon setelah ketemu Angelina menekan nomer tersebut dan panggilan pertama langsung di angkat oleh Mr. AZ kemudian Angelina menekan tombol loud speaker.
("Hallo tuan," panggil Mr. AZ).
("Lacak GPS ku dan bawa anak buah kemari!" perintah Arsenio dengan nada datar dan dingin).
("Baik tuan," jawab Mr. AZ).
("Matikan ponselnya," perintah Arsenio pada Angelina).
("Maaf tuan, maksud tuan .... saya yang memutuskan sambungan komunikasinya?" tanya AZ dengan men jeda kalimatnya).
("Aku berbicara dengan asistenku atau kamu saja yang putuskan sambungan komunikasinya," ucap Arsenio yang enggan menyebut Angelina sebagai calon istrinya).
("Baik tuan," jawab Mr. AZ dengan patuh)
Tut Tut Tut
Cittttttttttttttttttttttttttt
Mr. AZ dan Angelina sama - sama memutuskan sambungan komunikasi bersamaan Arsenio mengerem mobilnya dengan mendadak membuat tubuh Angelina maju ke depan kursi yang di duduki oleh Arsenio.
Arsenio terpaksa mengerem mobilnya secara mendadak karena salah satu mobil hitam mendahului mobilnya dan langsung menghentikan mobilnya secara mendadak.
"Aduh," ucap Angelina ketika wajah dan tubuhnya nyaris mencium sandaran jok mobil jika saja Angelina tidak menahan jok mobilnya dengan ke dua tangannya.
"Kamu di sini saja dan jangan keluar apa lagi mobil ini anti peluru dan anti benturan!" perintah Arsenio sambil mengeluarkan pistolnya dari saku jasnya dan berusaha tidak memperdulikan Angelina walau dalam hatinya merasa sangat bersalah.
__ADS_1
"Baik," jawab Angelina patuh.
'Maaf jika kak Arsenio dalam bahaya mau tidak mau aku akan membantumu,'ucap Angelina dalam hati yang tidak tega jika Arsenio terluka.
Arsenio turun dari mobil dan berjalan ke arah mobil hitam dengan tangan kanannya menggenggam pistol sedangkan Angelina yang duduk di belakang kursi pengemudi memberanikan diri pindah dan duduk di samping kursi pengemudi kemudian membuka dasboard mobil milik Arsenio.
"Semoga saja ada pistol karena aku ingin membantu kak Arsenio," ucap Angelina sambil membuka dasboard mobil untuk mencari pistol.
"Ketemu," ucap Angelina sambil mengambil pistol tersebut yang berada di tumpukan buku milik Arsenio.
Angelina melihat Arsenio menembaki musuh sambil bersembunyi di balik mobilnya hingga pelurunya habis membuat Arsenio terpaksa mengisi peluru yang di simpannya di saku jasnya.
Angelina melihat dua orang mengarahkan pistol ke arah Arsenio membuat Angelina perlahan membuka pintu mobil dan turun dari mobil sambil mengarahkan pistol ke arah ke l dua pria tersebut.
Dor
Dor
"Akhhhhhhhhhhh...." teriak ke dua pria tersebut bersamaan.
Bruk
Bruk
Dua pria itupun langsung mati di tempat karena Angelina menembak tepat di keningnya sedangkan Arsenio langsung diam membeku menatap Angelina tidak percaya karena Angelina telah menyelamatkan nyawanya namun hanya sebentar kemudian Arsenio menembak kembali para musuhnya dengan di bantu oleh Angelina. Hingga tidak berapa lama Arsenio dan Angelina kehabisan peluru sedangkan bala bantuan musuh datang.
"Aku sedikit bisa bela diri, aku akan membantu kak Arsenio maaf maksudku tuan Arsenio untuk melawan mereka," ucap Angelina merendahkan diri kalau dirinya hanya sedikit bisa bela diri.
Arsenio hanya tersenyum tipis nyaris tidak terlihat entah kenapa dirinya sangat suka jika di panggil kak Arsenio dari pada tuan Arsenio tapi perasaan itu segera di tepisnya. Arsenio dan Angelina menyerang para musuh dengan menggunakan tangan kosong.
Mereka berdua sesekali menghindar dan memukul para musuhnya hingga di saat kritis bala bantuan anggota mafia milik Arsenio datang bersama orang tuanya dan ke empat adik kembarnya tidak itu saja bantuan juga datang dari keluarga besar daddy Rico.
"Kak Arsenio masuklah ke dalam mobil," ucap Bagas adiknya nomer dua.
Benar kata kak Bagas lebih baik kakak masuk ke dalam mobil biar kami melawan mereka," sambung Cairo, Draco dan Edison bersamaan.
"Oh ya Kak, Aku bawa pistol dua dan bawalah satu untuk berjaga-jaga." Ucap Draco sambil memberikan satu pucuk pistol.
"Ok, jawab Arsenio singkat sambil menerima pistol tersebut.
"Kamu ikut Aku!" Perintah Arsenio.
"Maaf, bukankah Keluarga Tuan hanya meminta Tuan untuk masuk ke dalam mobil?" Tanya Angelina.
"Jangan membantah perintahku!" Ucap Arsenio dengan nada satu oktaf.
"Baik." Jawab Angelina patuh.
Arsenio berjalan dengan langkah cepat menuju ke arah mobil di ikuti oleh Angelina hingga Angelina melihat ada sinar merah dari rimbunan pohon yang berada di depannya menuju ke arah Arsenio membuat Angelina berlari mendahului Arsenio.
__ADS_1
'Gawat itu sinar laser Rifle, berarti di sekitar sini ada penembak jitu dan sepertinya sinar laser Rifle di arahkan ke Arsenio ," ucap Angelina dalam hati.
Entah kenapa Angelina tidak bisa jika Arsenio terkena luka tembak dan ketika sudah mendahului Arsenio, Angelina langsung membalikkan tubuhnya hingga mereka saling berhadapan.
Tentu saja hal itu membuat Arsenio terkejut dan langsung menghentikan langkahnya sambil menatapnya dengan tatapan tajam karena telah menghalangi jalannya.
"Minggir," ucap Arsenio dengan nada dingin.
Grep
Deg Deg
Deg Deg
Tanpa menjawab Angelina memeluk tubuh Arsenio membuat ke dua jantung mereka berdetak dengan sangat kencang. Mereka saling menatap hingga tembakkan laser mengenai punggung Angelina membuat Angelina memeluk Arsenio dengan erat dan menyembunyikan wajahnya karena Angelina menahan rasa sakit akibat tembakan laser tersebut.
Arsenio yang ingin membalas pelukan Angelina tiba-tiba teringat kembali dengan perkataan dua pria waktu di mall membuat Arsenio menjadi sangat jijik ketika tubuhnya di peluk oleh Angelina.
"Lepas!!!" teriak Arsenio tanpa membalas pelukan Angelina.
"Aku ..." Ucapan Angelina terpotong oleh Arsenio.
"Aku sangat membencimu, lepas!!!" teriak Arsenio ketika merasakan Angelina mempererat pelukannya.
"Maafkan aku, mungkin dengan cara seperti ini bisa mengurangi rasa benci Tuan Arsenio padaku," ucap Angelina dengan nada lirih namun masih terdengar jelas di telinga Arsenio.
Angelina yang tidak bisa menahan rasa sakit pada punggungnya membuat Angelina perlahan melepaskan pelukannya sambil menatap wajah tampan Arsenio sambil tersenyum membuat Arsenio memalingkan wajahnya.
"Uhuk .... Uhuk ... Uhuk ..."
Bruk
Angelina mulai batuk - batuk dengan mengeluarkan darah segar sambil memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sangat sesak dan tidak berapa lama Angelina perlahan kehilangan kesadarannya.
Angelina melihat bayangan samar wajah terkejut Arsenio hingga Arsenio menangkap tubuh Angelina sebelum terjatuh ke jalan raya.
"Hati - hati ada penembak jitu," ucap Angelina dengan nada sangat lirih sebelum dirinya benar - benar kehilangan kesadarannya.
Walau suara Angelina sangat lirih namun telinga tajam membuat Arsenio mampu mendengarnya dengan baik. Arsenio mencari keberadaan penembak jitu hingga dirinya melihat ada sinar laser Rifle ke arah dirinya membuat Arsenio mengarahkan pistolnya ke arah penembak jitu tersebut.
Dor
"Akhhhhhhhhhhh...." teriak pria tersebut.
Bruk
Sebelum penembak jitu tersebut menarik pelatuknya namun kalah cepat dengan Arsenio dan tepat mengenai keningnya, tangan kiri Arsenio masih menahan tubuh Angelina yang masih tidak sadarkan diri.
"Aku mohon bertahanlah." Ucap Arsenio dengan nada lirih.
__ADS_1