Ranjang Panas Sang CEO 5

Ranjang Panas Sang CEO 5
Anggota Keluarga


__ADS_3

"Arsenio tidak tahu Mom." Jawab Arsenio.


"Mommy hanya pesan sama Kamu, jika seorang wanita lelah maka besar kemungkinan wanita itu bunuh diri atau pergi sejauh mungkin. Mommy harap jika itu terjadi pada Angelina jangan pernah menyesalinya." Ucap Mommy Adira.


Deg


Jantung Arsenio berdetak kencang hingga beberapa saat Angelina perlahan membuka matanya kemudian menatap ke arah Mommy Adira dan Arsenio secara bergantian.


"Angelina." Panggil Mommy Adira.


"Ya, Nyonya." Jawab Angelina.


"Kamu lupa ya?" Tanya Mommy Adira.


"Lupa apa?" Tanya Angelina balik bertanya.


"Panggil dengan sebutan Mommy." Ucap Mommy Adira.


"Saya merasa tidak pantas jika memanggil Nyonya dengan sebutan Mommy." ucap Angelina.


"Kenapa tidak pantas?" Tanya Mommy Adira.


"Aku adalah gadis yang sangat jahat apalagi tega meninggalkan Nyonya besar di pinggir jalan." Jawab Angelina.


'Jangan sekarang pusingnya.' Sambung Angelina dalam hati sambil berusaha agar dirinya bersikap biasa saja.


"Semua orang pasti bisa berubah dan Mommy sangat yakin kalau Kamu sekarang sudah menyesalinya. Jadi panggil Aku dengan sebutan Mommy sama seperti putra ku Arsenio memanggilku dengan sebutan Mommy." Ucap Mommy Adira.

__ADS_1


"Baik Mom." Jawab Angelina sambil memejamkan matanya untuk memghilangkan rasa pusing yang sangat menyiksanya.


'Mommy, kenapa Mommy tega menyuntikan racun dalam tubuhku? Aku sangat tersiksa Mom.' sambung Angelina dalam hati sambil menggenggam ke dua tangannya dengan erat untuk mengurangi rasa pusingnya.


Ngunggggggggggggggg


Tiba-tiba telinga Angelina berdengung membuat Angelina menghembuskan nafasnya dengan perlahan sambil menutup ke dua telinganya hingga butir - butir keringat sebesar jagung keluar hal itu tentu saja membuat Mommy Adira dan Arsenio sangat terkejut.


"Angelina, kamu baik-baik sajakan?" Tanya Mommy Adira dengan wajah sangat kuatir begitu pula dengan Arsenio.


Hening


Hening


"Angelina." Panggil Mommy Adira dan Arsenio bersamaan.


"Apa maksudmu Angelina?" Tanya Mommy Adira dengan wajah bingung begitu pula dengan Arsenio.


"Aku mohon, tolong lakukan permintaan terakhir ..." Ucapan Angelina terputus bersamaan dirinya tidak sadarkan diri.


"Angelina!" Teriak Mommy Adira sambil menekan tombol darurat.


Tidak berapa lama datang dokter dan perawat kemudian mulai memeriksa keadaan Angelina hingga beberapa saat dokter tersebut sudah selesai memeriksa keadaan Angelina.


"Bagaimana keadaan putriku Dok?" Tanya Mommy Adira yang sudah menganggap Angelina sebagai putrinya.


"Saya cek baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikuatirkan." Jawab dokter tersebut.

__ADS_1


"Kalau baik-baik saja, kenapa Angelina tidak sadarkan diri?" Tanya Arsenio dengan nada kesal.


"Mungkin karena efek dari racun membuat Nona Angelina tidak sadarkan diri. Untuk mengetahui lebih pasti bisa di cek darah apa ada penyakitnya atau tidak." Jawab dokter tersebut.


"Kalau begitu lebih baik Angelina akan saya bawa pulang." Ucap Arsenio.


"Tapi ..." Ucapan dokter tersebut terpotong oleh Arsenio.


"Tidak ada penolakan lebih baik di bawa pulang." ucap Arsenio dengan tegas.


"Baik Tuan." Jawab dokter tersebut.


"Setelah Nona sadar silahkan di bawa pulang." sambung dokter tersebut sambil membalikkan badan nya.


'Si*l, Aku tidak bisa menyuntikan sedikit demi sedikit obat ke dalam tubuh Angelina karena Angelina di bawa ke keluarga pria itu." Ucap dokter tersebut dalam hati.


"Kakak sabar lah, akan Aku balas kematian Kakak." Sambung dokter tersebut dalam hati.


Perawat yang bersama dokter melepaskan jarum infus karena kebetulan botol infusnya sudah habis. Setelah membereskan semuanya perawat itu pergi meninggalkan ruangan tersebut bersamaan Angelina membuka matanya.


"Aku di mana?" Tanya Angelina sambil memegang kepalanya yang masih terasa pusing.


"Di rumah sakit, apakah masih ada yang pusing?" Tanya Mommy Adira.


"Sedikit." Jawab Angelina.


"Apakah bisa jalan?" Tanya Mommy Adira dengan wajah masih kuatir begitu pula dengan Arsenio.

__ADS_1


__ADS_2