
Malam harinya tanpa diketahui siapapun Earlene menciptakan lingkaran sihir di belakang akademi dan dari sana seekor naga hitam muncul, untuk saat ini dia akan melakukannya sendirian tanpa ada siapapun yang ikut.
Setelah menaiki punggung naga. Earlene menepuk punggungnya dan berkata, "Terbang," hingga ia melayang di udara, rambut peraknya berkibar terang kontras dengan cahaya bulan purnama yang menyilaukan. Ini sudah sejak lama dia terbang seperti ini karenanya itu menjadi pengalamannya yang menyenangkan.
"Aku selalu mengurung diri di wilayahku, tak kusangka dunia ini memang luas."
Walau malam hari mata iblisnya dapat melihat dengan baik, jika iblis bermata merah terang, Earlene ke arah berwarna biru terang.
"Kita turun di sini."
Menanggapi perkataan tuannya, naga hitam tersebut mengaum sekali lalu mendaratkan kakinya ke dekat sebuah benteng yang sudah ditinggalkan sejak lama.
__ADS_1
Earlene melompat lalu melayang saat dia hampir menyentuh permukaan tanah, tanpa menunggu lagi dia masuk ke dalam benteng dengan sangat tenang.
Di dalam benteng banyak tersirat bekas pertarungan yang mencekam, beberapa perabotan hancur dan banyak goresan senjata di setiap dindingnya, dari semua itu tidak ditemukan jasad siapapun yang mana menandakan bahwa semua mayat telah dikeramasi dan dibawa termasuk iblis itu sendiri.
Dikatakan bahwa raja iblis kesombongan dipukul telak hingga dia mundur ke wilayahnya lalu para pasukan Prancis mulai mengejarnya dan terus menerus mengirimkan pahlawan untuk membunuhnya, tentu saja yang berada di sana bukan raja iblis yang mereka inginkan melainkan raja iblis kesombongan yang asli yang sejak awal tidak memiliki konflik apapun.
Dibanding siapapun Earlene sebenarnya sudah memiliki gambaran khusus siapa yang telah memfitnahnya untuk berurusan dengan peperangan melawan manusia, suatu hari raja iblis dosa mematikan dikumpulkan di satu tempat untuk mengadakan sebuah rapat demi membahas soal invasi besar-besaran terhadap wilayah manusia.
Tanah kami sudah lebih cukup dan tidak perlu meletakan tangan di tanah orang lain, seperti gelarnya perkataannya penuh dengan kesombongan. Dengan itu mungkin saja beberapa iblis tidak menyukainya dan secara licik melibatkannya dengan cara kotor atau mungkin mereka berusaha membunuhnya dengan cara menggunakan manusia sebagai alat, manapun tetap saja itu tidak bisa dimaafkan.
Earlene mendesah pelan selagi memegangi dinding yang berlubang.
__ADS_1
Dia sekarang hanya seorang gadis kecil, tangannya bahkan tidak bisa dibandingkan dengan kepalan orang dewasa pada umumnya.
"Mereka semua, apa salahnya bila memilih damai.. entah iblis atau manusia mereka sama-sama memiliki hal untuk dijaga bahkan untuk ras lainnya."
Dia berjalan lalu menuruni tangga selagi merasakan energi sihir yang tersisa, jika dia bisa menemukan satu mayat saja itu cukup bagus untuk membantunya.
Karena hampir semua di sini telah dibersihkan hampir sulit mengetahui apapun, bentengnya sendiri berbentuk kotak dengan area tengahnya merupakan lapangan luas, di sampingnya banyak ditempatkan menara-menara tinggi yang berfungsi sebagai tempat orang-orang penting berada dan jika melihat dari sana ada sebuah sumur yang terlihat sangat tua diletakkan di sudutnya.
Earlene memutuskan untuk memeriksanya dan melihat ke bawah sana, ekpresinya bersinar seolah melihat sebuah harta karun.
Dia mengarahkan tangannya hingga air menyembur ke udara di mana sesuatu di jatuhkan dari udara. Kurang pantas menyebutnya sesuatu, singkatnya itu sebuah tubuh kesatria yang telah kehilangan daging dan kulit dan hanya menyisakan pakaian yang compang-camping.
__ADS_1
"Akhirnya aku menemukannya, terlebih jiwamu masih terikat dengan dunia ini."