
Sepuluh tahun telah berlalu semenjak seluruh ras iblis telah dipindahkan ke dunia asal mereka, Earlene telah membuat peradaban untuk mereka dengan membangun kota-kota besar yang setiap kota dilindung oleh raja iblis itu sendiri dan selama itu pertempuran melawan manusia masih terus berlangsung.
Earlene duduk di kursinya saat Asmiranda dan Agil menerobos masuk. Mereka membawa Sofia juga di belakang mereka.
"Ojou-sama kami sudah siap, sekarang kita bisa bergerak menyerang ibukota kerajaan manusia."
"Aah, kita sudah menunggu cukup lama untuk ini, Sofia."
"Baik."
"Mari kita selesaikan semuanya."
Sebuah terompet dibunyikan dan dalam sekejap pasukan yang terdiri dari berbagai iblis telah menggempur sebuah kota besar yang menjadi tujuan akhir mereka.
Theresia dan Diablo memimpin pertempuran di garis depan dengan menghancurkan setiap benteng.
"Kenapa hal ini terjadi? Padahal kita berhasil menghabisi mereka dulu, tapi sekarang."
"Ini tidak masuk akal, kita harus..."
Sebelum para penjaga menyelesaikan perkataan mereka, pedang besar Agil telah mengoyak tubuh mereka. Di sisi lain Asmiranda menembakan sihir untuk melukai mereka.
"Gyaaaah."
"Turus serang."
Sofia juga turut bergerak bersama pasukannya yang merupakan high elf, mereka menjatuhkan orang-orang di atas tembok kemudian turun ke bawah menggunakan tali, mereka jelas begitu terlatih dalam beberapa tahun ini.
Asmiranda dan Agil saling membelakangi.
"Jika kau mati, awas saja Agil."
"Jika aku mati karena ini, bukannya itu sebuah penghinaan... sebagai kesatria undead mana mungkin aku kalah."
"Haha benar juga, kita akan tunjukan pada Ojou-sama bahwa kita ini bisa diandalkan."
"Aah."
Ketika semua ledakan terjadi di sana kemari, Earlene telah masuk ke bagian istana, dia membekukan setiap penjaga yang di lewatinya hingga pada akhirnya tersisa satu orang yang harus dihadapi.
Di depannya seorang raja berdiri dengan sebuah pedang di tangannya, dialah raja dari kerajaan Asgar, Osvel kelima.
"Bagaimana iblis rendahan sepertimu bisa melakukan hal ini, kami sudah membuat kalian punah dan sekarang kalian telah berbuat kerusakan di wilayah manusia."
__ADS_1
"Membuat kerusakan? Bukannya kaulah yang lebih dulu melakukannya... ras iblis hanya ingin memiliki kehidupan damai mereka juga sama seperti manusia tapi kau malah memulai peperangan dengan memfitnah kami menyerang manusia."
Raja itu tertawa dengan senang.
"Itu memang benar, kalian iblis dan kami manusia.. kalian lebih rendah dari kami, sejujurnya aku tidak ingin hidup berdampingan dengan kalian."
"Sungguh konyol jadi beginilah bentuk kesombongan manusia."
"Diam, sekarang aku tidak akan membiarkan kalian lolos lagi... akan kubunuh semuanya."
Osvel menerjang maju dengan pedang besar yang dia ayunkan dari atas, Earlene mengimbanginya dengan pedang es di tangannya dan keduanya saling berbenturan hingga menghasilkan tebasan angin.
Earlene melompat mundur lalu mengirimkan bongkahan es ke arah Osvel, dia menyelimuti pedangnya dengan cahaya dan kemudian memotong bongkahan es tersebut sebelum melesat kembali.
Earlene menahan tebasan dengan kekuatan luar biasa dimana Osvel tak tinggal diam dan terus memojokkannya.
Dia menggunakan sihir berskala besar yang menghantam Earlene dari atas langit namun Earlene sendiri mampu menahannya, dan berdiri tegap dengan masih memegang pedangnya.
"Aku adalah raja manusia, akan aku penggal kepala kalian."
Dentrang.
Pedang Osvel tiba-tiba saja terpental ke udara bersama kedua tangannya yang terpotong.
"Maaf saja tapi pahlawan lebih mendukung kami para iblis."
"Apa?"
"Setelah menyakinkan mereka kami akhirnya bisa menyerang sejauh ini, darah unicorn yang kau minum hanya bisa berfungsi selama 10 tahun, karena itulah kami menunggu sampai sekarang, tubuhmu tidak bisa beregenerasi ataupun abadi bukan."
"Tunggu dulu, aku mengaku salah... aku akan mengembalikan tanah kalian, dan kita akan kembali hidup berdampingan."
"Manusia, elf dan iblis akan berdampingan namun tidak ada kau di dalamnya," balas Earlene dingin.
Dengan satu gerakan indah, Earlene menebas kepalanya hingga terpenggal. Dari tubuh itu menyembur darah layaknya air mancur yang mana dengan ini merupakan kemenangan ras iblis.
Beberapa hari berikutnya di wilayah ras iblis sebuah perayaan telah dilaksanakan, hari ini akan dijadikan sebagai festival tahunan yang akan sering digelar meriah. Di jalanan itu Earlene merasakan keberadaan janggal hingga ia berjalan masuk ke dalam gang dan menemukan sosok gadis berambut pirang dengan pakaian putih menyelimuti tubuh kurusnya.
"Lama tak bertemu raja iblis sesombongan."
"Dewi kearifan Minerva."
"Kau masih mengenalku."
__ADS_1
"Pertarungan di Olimpus kita bertarung seri, apa kau datang untuk menantangku lagi? Yah jika kita bertarung di alam dewi aku yakin tidak akan menang."
Minerva menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku hanya datang kemari untuk berterima kasih, yah walaupun kurasa cukup aneh dewi mengatakannya pada iblis."
"Memang benar," Earlene dan Minerva tertawa kecil sampai sebuah suara mirip bel berbunyi.
"Ah, aku masih harus pergi, menjadi dewi sungguh pekerjaan yang melelahkan.. masih banyak dunia yang harus kuawasi."
"Tunggu sebentar."
"Hmmm."
Minerva memiringkan kepalanya.
"Bagaimana keadaan dunia itu?"
"Setelah kepergian kalian, bumi menjadi damai.. Arthur memiliki dua anak yang lucu dari Rosa, karena akan merepotkan jika dia hanya demi human satu-satunya di sana jadi aku membuatnya menjadi manusia seutuhnya, Bellina menjadi ratu dan sisanya."
"Sisanya?"
"Benar juga."
Minerva memberikan sebuah cincin pada Earlene.
"Apa ini?"
"Cincin perpindahan antar dunia ini dan itu, sisanya bagaimana kalau kau melihatnya sendiri, anggap saja itu hadiah dariku, dah."
Sebelum Earlene berterima kasih sang dewi sudah menghilang. Asmiranda yang muncul dari belakang memeluk Earlene.
"Ojou-sama, kenapa ada di sini? Aku melihat Ojou-sama jadi aku putuskan mengejar kemari, dan cincin itu?"
"Bukan apa-apa, lalu bagaimana festivalnya?"
"Sangat meriah ada banyak makanan yang enak tapi lebih menyenangkan jika Ojou-sama bersamaku, mari berkencan."
"Aku masih harus pergi untuk mengawasi pekerjaan Alpha, Delta dan Testa yang sedang membangun akademi, dan juga Pina dan Pino yang tengah berada di kedai."
"Ya ampun, ini bukan waktunya bekerja, mari bersenang-senang."
Earlene hanya tersenyum kecil saat dirinya ditarik oleh tangan Asmiranda menuju jalanan pusat, beberapa kelopak bunga terbang di atas mereka dan bersamaan hembusan angin yang melewati keduanya perjalanan mereka akan terus berlanjut.
__ADS_1
Tamat.