
Menjelang pagi Earlene berdiri di padang rumput landai saat cahaya matahari hangat membilas tubuhnya. Tak lama seekor naga terbang di dekatnya lalu duduk di depannya yang membuatnya mengelus wajahnya.
"Manusia itu makhluk yang sombong, mereka menciptakan bangunan-bangunan tinggi untuk menunjukkan seberapa mampu mereka melakukannya namun karena itulah awal dari kehancuran, kesombongan hanya dimiliki oleh iblis dan akulah yang memikul nama itu."
Naga itu menghilang jadi serpihan cahaya dan tepat saat itu lingkaran sihir yang baru telah membawa Aria muncul bersama Hazel.
Lingkaran yang dibuatnya adalah lingkaran teleportasi yang bisa digunakan jika kedua titik sudah dibuat.
"Kamu menyelesaikannya dengan cepat, sesuai perjanjian maka kini giliranku," ucap Aira sebelum mengarahkan tangannya untuk menghidupkan semua orang yang dibunuh oleh Earlene sebagai pasukan tengkorak.
Mereka dibangkitkan kemudian beriringan bersama untuk secara bergantian masuk ke dalam lingkaran teleportasi.
Itu cukup memakan waktu sedikit lama dari perkiraan.
"Kurasa itu semuanya, aku akan langsung memperbaiki wilayahmu."
"Itu yang ingin kudengar," balas Earlene membusungkan dadanya sebelum kembali ke kota hantu bersama yang lainnya.
Di hadapan Asmiranda dan Agil, dia menarik nafas panjang tapi tidak mendesah. Mereka sepertinya telah selesai menguburkan tengkorak dari kota ini dengan sekop.
Tampak di belakang mereka terdapat gundukan besar mirip bukit.
"Ojou-sama."
"Princess," keduanya serempak menyapanya dengan berdiri.
"Kalian melakukannya secara manual tanpa menggunakan sihir."
"Iya Ojou-sama, kami pikir ini demi memberikan hormat pada mereka yang telah meninggal dengan baik."
__ADS_1
"Kerja bagus, sebentar lagi kita akan mengalami renovasi besar-besaran, kalian bisa ikut membantu ataupun membuat bangunan sesuai yang kalian inginkan."
"Benarkah itu Princess?"
"Tentu saja, sepertinya kau memiliki sesuatu yang ingin kau bangun Agil?"
"Aku ingin membuat pemandian air panas."
Earlene maupun Asmiranda memasang wajah terkejut.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?"
"Pasti Agil berniat agar bisa mengintip para gadis mandi."
"Itu jelas sekali."
"Benar juga, bagaimana dengan Ojou-sama?"
"Jika dipikir-pikir itu ide bagus.. katakan saja pada Aria, tidak masalah jika kalian ingin membuat sebesar apapun."
"Kami siap."
"Aku juga harus ikut Ojou-sama?"
"Tentu saja, Agil mungkin butuh seseorang dari sudut gadis."
"Aku dibilang gadis Agil."
"Kenapa kau sangat senang meskipun kau bukan perawan."
__ADS_1
Earlene bisa melihat bagaimana keduanya berjalan pergi bersama. Dia tidak tidur semalaman jadi hari ini, ia akan habiskan waktu untuk berbaring di dalam kamar.
Hanya rumah boneka yang bisa ia pakai berisitirahat, setelah sedikit merapikan tepatnya ia tidur sambil dikelilingi oleh banyak boneka milik Aria.
Sekilas dia mengingat pengalaman buruk, saat kerap dia bersantai-santai seorang wanita akan muncul kemudian memarahinya habis-habisan dan jika dia tahu bahwa dia telah jadi gadis kecil sekarang. Wanita tersebut pasti akan memukul pantatnya.
Selagi menggigil Earlene memiliki wajah pucat pasih sekarang, dia telah mendeklarasikan perang sebagai raja iblis kesombongan dan jelas mau tidak mau dia pasti akan muncul di hadapannya.
Sampai saat itu tiba, Earlene memutuskan untuk bersantai sebanyak ia mampu lakukan.
Hari sudah sore saat Earlene bangun dari tempat tidurnya, dia kini lapar dan membuka pintu untuk memastikan keadaan di luar.
Para tengkorak masih bergotong royong, mereka fokus dalam pembasmiannya gulma, sementara Asmiranda sedang berdebat dengan makanan mereka, sedangkan Hazel yang bertugas jadi kepala koki berusaha untuk menenangkannya.
"Aku ingin memasukan obat perangsang pada Ojou-sama."
"Hentikan kau akan merusak rasanya, mending masukan rumput ini yang bertujuan sebagai obat."
"Kalian berdua, tolong hentikan dan jangan memakai sesuatu yang aneh ke dalam masakan kalian."
Aria terlihat duduk di kursi dengan teh di tangannya tampak tak peduli, mereka jelas membawa meja juga di halaman terbuka.
"Kau sudah bangun Earlene."
"Tidurku cukup nyenyak, meskipun beberapa kali bermimpi buruk," katanya selagi duduk berhadapan.
"Aku penasaran mimpi seperti apa yang membuat seorang raja iblis takut."
Earlene tersenyum masam sebagai balasan.
__ADS_1